Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Niki


__ADS_3

Niki dan Nia memasuki halaman rumah sakit yang sangat luas. Nia sudah pesimis, sementara Niki menyimpan kebingungannya dalam hati. Usahanya untuk melihat keadaan mbak Dinda hari ini harus berhasil. Saat melihat ibunya tadi yang tidak merespon rengekan Riki menguatkan tekatnya untuk menemui mbak Dinda sendiri. Niki takut kalau berlambat-lambat ia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan kakak angkatnya itu.


"Niki sebenarnya ngapain kita ke rumah sakit?" Nia mulai was-was, jangan-jangan Niki hanya iseng aja ke rumah sakit. Apalagi ia melihat hari sudah mulai gelap. Ia cemas mereka akan dicari keluarga nya.


Niki dengan penuh tekad menarik tangan Nia agar terus mengikutinya. Ia berjalan penuh keyakinan menuju pintu masuk rumah sakit.


"Nanti kamu jangan bilang apa pun, hanya menggeleng atau mengangguk saja kalau ditanya orang!" pesan Niki pada Nia.


"Maksudnya?" Nia tidak mengerti perkataan Niki. Mengapa ia harus berdiam diri? Apakah rencana Niki ini melanggar peraturan di rumah sakit. Seketika hati Nia menjadi was-was.


"Pokoknya itu saja, jangan ngomong apa-apa!" Lagi-lagi penjelasan Niki sungguh membingungkan.


Niki yang biasanya pemalu, ia memberanikan diri untuk bertanya pada seorang security yang berjaga di pintu masuk. Pria setengah baya itu nampak tegas dan sedikit menyeramkan. Sempat membuat Niki ragu, namun ia tidak bisa mundur sekarang. Keinginannya bertemu mbak Dinda mengalahkan ketakutan nya.


"Pak... kamarnya mbak Dinda di mana?"


"Dek... kalau tanya ruangan pasien sama petugas informasi ya." security itu menjawab dengan ramah sambil menunjukkan ruang informasi yang dimaksudkannya.


Niki melongok ke dalam, ia hanya melihat ruangan kaca yang tertutup. Ia pun ragu.


"Sini dek... bapak antar." Security itu ternyata sangat ramah dan baik hati.


Pria itu dengan sabar mengantarkan Nia dan Dinda ke ruang informasi. Bahkan si bapak juga menanyakan tempat rawat Dinda, kakaknya.


"Ingat Di ruang Merpati 302" kata sang security masih dengan ramah.


"Di mana pak tempat itu?" Niki bertanya dengan kepolosannya. Membuat bapak security tidak tega. Akhirnya ia memanggilkan temannya untuk mengantarkan Niki dan Nia ke ruangan mbak Dinda. Karena ia tidak bisa meninggalkan posnya begitu saja.


Sepanjang perjalanan, Niki mengamati setiap tempat yang mereka lewati. Ia berharap saat keluar nanti tidak tersesat. Nia terus menarik-narik tangan Niki yang tidak juga melepaskan pegangannya. Nia merasa pergelangan tangannya sakit namun ia tidak berani mengeluarkan suara karena pesan Niki tadi.


"Dek... itu ruangan yang kamu cari. Om antar sampai sini saja ya." Sang security meninggalkan dua anak itu di depan kamar rawat Dinda.


Hati Nuraninya Niki dipenuhi perasaan harap-harap cemas. Ia berharap bertemu dengan mbak Dinda. Rasa kangen selalu hadir saat mengingat Dinda, kakak angkatnya.


Tanpa mengetuk pintu, Niki mendorong pintu perlahan. Berusaha meminimalisir suara deritan pintu. Ia tidak sabar melongok kan kepalanya. Nampak lah sesosok wanita muda terbaring.


"Mbak Dinda...." Bisik Niki lirih. Seketika hatinya berbunga-bunga. Akhirnya setelah sekian lama dalam kerinduan dan kecemasan, ia bisa melihat kembali kakaknya.


Sosok yang terbaring lemah mendengar suara, ia pun mencari sumber suara. Sesosok anak kecil yang terasa tidak asing.

__ADS_1


"Niki...."


"Mbak Dinda... hik... hik....hik"


Niki menghambur ke arah Dinda, ingin memeluk kakak tersayangnya. Dinda belum bisa bangun dari tidurnya, karena bekas operasinya masih terasa ngilu. Ia mengeryit menahan rasa sakit.


"Mbak Dinda... apakah ada yang sakit?" Niki mulai khawatir melihat Dinda.


"Maaf Niki... mbak Dinda baru operasi, jadi belum bisa memelukmu."


"Gak papa, mbak Dinda baring saja."berfi


"Mana Ibu dan dek Riki?" Dinda mengamati pintu yang mungkin akan terbuka dengan kehadiran ibu dan Riki.


"Mereka di rumah mbak. Tadi siang ibu dan dek Riki melihat mbak Dinda dibawa ke ruang operasi. Mbak Dinda sakit apa?"


Niki menumpahkan keingintahuannya.


Dinda terdiam sejenak, ia berfikir mencari jawaban terbaik atas pertanyaan Niki. Ia tidak ingin Niki semakin mencemaskan nya. Namun disisi lain ia ingin agar Niki bisa memberikan informasi mengenai keadaan dirinya yang sesungguhnya.


Dinda ingin kabur dari Kungkungan Fariz. Perlakuan kasar Fariz tidak bisa diterimanya. Apalagi kata-katanya malam itu masih terngiang jelas di telinganya. Saat Fariz menawarkan berbagi dirinya pada Toni. Dinda sangat kecewa pada Toni yang menganggap dirinya sebagai barang yang dapat dibagi dengan orang lain.


"Mbak Dinda kangen kalian." Isak lirih lolos dari bibir Dinda yang bengkak.


"Mbak Dinda, jangan menangis mbak..."


Niki meraih jemari Dinda, berusaha menghibur kesedihan Dinda.


"Maaf" Bisik Dinda kehabisan kata-kata.


"Ehm... Niki, siapa teman mu ke sini tadi?" Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Mbak Dinda, kenalin ini Nia teman ku."


Nia mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu.


"Saya Nia mbak."


"Kalian tadi sudah ijin datang ke mari?" Dinda tiba-tiba ingat. Gak mungkin kalau Bu Inayah yang mengirim Niki ke rumah sakit.

__ADS_1


"E... tadi kami ke sini sendiri Mbak." Niki terlihat takut-takut.


"Niki... jangan seperti itu, bagaimana kalau ibu kebingungan nyariin kalian?"


"Iya mbak... tapi, Niki takut tidak bisa bertemu lagi dengan mbak Dinda. Soalnya ibu tidak mau membicarakan untuk mengunjungi mbak Dinda. Mbak apakah ini perbuatan orang jahat yang telah menculik mbak Dinda?"


Mata Niki mulai berkaca-kaca. Mengingat kesedihan saat mbak Dinda dibawa paksa dari mereka.


"Niki... sudah, jangan sedih. Lihat mbak Dinda baik-baik saja. Kalau mbak Dinda sembuh, mbak akan pulang ke rumah dan kita akan bersama lagi." Janji Dinda.


"Mbak...." isak Niki meluapkan kebahagiaannya.


"Udah kalian cepat pulang, jangan sampai membuat cemas orang rumah." Suruh Dinda.


"Mbak Dinda baik-baik ya, dan cepat sembuh supaya kita bisa berkumpul lagi." Pamit Niki, ia mencium tangan Dinda berpamitan.


"Iya, mbak Dinda janji."


Sebulir air mata Dinda, mengiringi langkah Niki dan temannya meninggalkan ruangan tempatnya di rawat.


Sebersit kesedihan terasa mengiris hatinya. Akankah janjinya pada Niki adik angkat yang sangat dikasihinya bisa dia tepati? Bagaimana caranya?


Sebentuk beban terasa menghimpit rongga dadanya. Di satu sisi ia sangat senang mendapat perhatian dari keluarga barunya. Namun di sisi lain ia merasa bersalah menyeret keluarga barunya ke dalam masalah pribadinya.


"Mbak.... Mbak Dinda kenapa menangis? Apakah bekas operasinya terasa sakit?"


Sebuah suara mengejutkan lamunan Dinda. Kedatangan Imah sama sekali tidak disadarinya. Dengan ujung selimut dihapusnya buliran air mata yang meleleh.


Ia menunjukkan senyum membuang semua kegalauannya.


"Aku kangen dengan keluarga ku."


"Mbak... sabar ya, kalau mbak Dinda sudah cukup kuat nanti aku akan bantu mbak Dinda melarikan diri." Bisik Imah lirih.


Ia sangat kasihan melihat keadaan Dinda, majikan barunya. Imah tidak mau melihat Dinda merasakan penganiayaan lagi. Walaupun semula ia mendukung Dinda agar Dinda nantinya bisa membalaskan dendam baginya.


Sekarang yang terpenting bagi Imah bisa menjauhkan Dinda dari Fariz atau Toni. Dua orang monster yang telah menghancurkan masa depannya.


"Imah... bagaimana nanti kamu kehilangan pekerjaan mu?" Dinda merasa tidak enak melibatkan Imah. Gadis ART yang selama ini sangat baik merawatnya.

__ADS_1


"Gak papa Mbak, aku pasti bisa dapat pekerjaan lebih baik," jawab Imah mantap.


__ADS_2