
"Bibi pulang aja dulu, takut faiq pulang dari sekolah. Nanti bibi bisa telpon aku, aku bakalan jemput faiq", kata ku.
"Ya, bu", jawab pembantu nya susan.
Mas ilyas ke luar dari ruangan nya susan.
"Rin, tau gak kenapa susan begitu dan ada apa ya?", tanya mas ilyas.
"Aku juga belum tau, nanti aku coba cari tau di rumah nya", jawab ku.
"Apa dia kesepian?", kata mas ilyas.
Aku pun menggeleng tidak tahu.
Mas ilyas kembali ke ruangan nya, aku menunggu susan di dalam. Susan belum sadarkan diri, mungkin aku tau kenapa dia seperti ini.
"San, kenapa kamu mau mengakhiri hidup mu? Kamu tidak sayang faiq, kasian kalau kamu meninggal faiq sama siapa", kata ku, mungkin susan mendengar kan aku berbicara.
Aku pun ke luar dan pamit untuk pergi, aku titipkan susan ke suster yang ada disana. Aku naik taxi menuju rumah susan, ingin tau apa penyebab nya. Sampai di rumah susan aku disambut bibi.
"Bu, den faiq nya belum pulang", kata pembantu nya.
"Ya bi. Bi bisa bantu saya?", tanya ku.
"Bantu apa bu?", tanya pembantu nya.
"Kita cari tau apa penyebab susan mau bunuh diri, mungkin dikamar nya ada petunjuk", kata ku.
"Ya bu, boleh", jawab pembantu nya.
Aku dan bibi langsung ke kamar nya susan, kita berdua mencari tau penyebab nya.
"Bu, ini kayaknya buku diary bu susan", kata pembantu nya sambil menyodorkan buku bersampul warna pink.
"Makasih bi", jawab ku.
Mungkin dari sini aku pun tau penyebab nya, aku duduk di tempat tidur susan dan bibi meninggal kan ku sendirian. Aku mencoba membaca nya, semua curahan hati nya dia tumpah kan dan ceritakan disini. Ada kata yang membuat ku iba, kasian.
***Dear diari,
Awal nya aku bahagia bisa bertemu mantan suami ku mas ryan, aku kira bisa kembali lagi tapi aku sudah telat. Mas ryan sudah menikah sama mantan pacar nya dulu, aku melihat mereka bahagia. Seandainya aku ada di posisi nya seperti dulu, aku pun bahagia hidup bersama mas ryan. Hidup ku kini berantakan sekuat hati aku menggoda mas ryan tapi mas ryan tidak tergoda oleh ku.
__ADS_1
Aku sengaja berpakaian sexsi mengundang hasrat nya tapi mas ryan sama sekali tidak memandangku, aku rindu sosok suami seperti mas ryan***.
Itu sepenggal curahan hati susan, bukan aku yang salah susan sendiri yang meninggalkan mas ryan demi lakilaki itu. Setelah selesai aku baca, aku pun menyimpan kembali buku itu. Ponsel ku berdering ternyata suami ku.
"Sayang dimana?", tanya suami ku.
"Mas maaf aku tidak mengabari mu, aku dirumah susan", jawab ku.
"Lagi ngapain?", tanya suami ku.
"Nanti aku ceritakan mas", jawab ku.
"Apa perlu dijemput?", tanya suami ku.
"Gak usah mas, nanti aku pakai taxi aja", jawab ku.
Aku pun menutup telpon nya, aku langsung ke depan dan ku lihat faiq sudah pulang dari sekolah nya.
"Bun, kenapa disini? Mana mama?", tanya faiq.
"Buna jemput faiq, mamah lagi sakit dia di klinik", jawab ku.
"Mama sakit apa bun?", tanya faiq.
"Ya bun, tapi aku ingin melihat mama dulu", jawab faiq.
"Boleh, faiq beres beres dulu sana", jawab ku.
Faiq pun masuk ke kamar nya, aku mencari bibi ke dapur.
"Bi, faiq mau aku bawa. Tolong bibi jagain rumah ya", kata ku.
"Baik bu", jawab bibi.
"Bun, faiq sudah siap", kata faiq.
Aku pun nyamperin faiq didepan yang sudah membawa tas nya dengan siap, aku mencoba untuk bertanya kepada faiq sambil menunggu taxi datang.
"Faiq buna boleh tanya?", kata ku.
Tiba-tiba taxi datang jadi belum faiq jawab, mobil pun melaju ke klinik ku.
__ADS_1
"Apa bun?", jawab faiq.
"Sebelum nya ada yang aneh gak dari sikap nya mama?", tanya ku.
"Mmmm akhir akhir ini mama sering menangis, sering marah sama faiq. Terus mama sering minta sama faiq buat ayah balik lagi sama mama", jawab faiq.
"Terus jawab faiq apa?", tanya ku.
"Mungkin faiq juga ingin ayah kembali sama mama, tapi faiq kasian sama ayah karena dulu mama ninggalin ayah dan mama nikah lagi. Faiq cuman bisa bilang iya ke mama, tapi faiq gak mau ayah sakit hati. Ayah bahagia sama buna", jawab faiq.
Memang anak ini sudah dewasa, dia mengerti tentang rumah tangga orang tuanya. Aku salut banget sama faiq, ku dekap faiq di dada ku sambil membelai nya lembut.
"Faiq sudah besar ya, buna berterima kasih sama faiq. Faiq boleh main atau mau tinggal bersama buna juga boleh, buna udah anggap anak sendiri kakak dari prince, key dan adik Rayn", jawab ku.
Bocah ini diam terus sambil memelukku, tiba di klinik kita pun langsung turun dan menuju ke ruangan nya susan. Ku lihat banyak dokter dan perawat di sana, kenapa dengan susan. Aku dan faiq mencoba mendekati kerumunan itu, ternyata susan mengamuk.
"Dasar wanita gila, bisa bisa nya merebut mas ryan dari ku kembalikan dia itu milik ku", itu kata kata yang terus ke luar dari mulut nya.
"Rin, ayo ke luar bawa faiq nya", kata mas ilyas.
Faiq menangis melihat susan seperti itu, aku membawa faiq menuju ruangan mas ryan dan dokter yang lain mencoba memberikan obat penenang.
"Kenapa mas dengan susan?", tanya ku.
"Seperti nya dia depresi dan jiwa nya terganggu", jawab mas ilyas.
"Jadi harus kah susan dibawa ke rumah sakit jiwa untuk di obati?", tanya ku.
"Seharus nya seperti itu", jawab mas ilyas.
Aku pun menghubungi supir untuk menjemput faiq, faiq aku suruh pulang dulu.
"Sayang dengerin buna, faiq lihat mama tadi kan?", tanya ku.
"Ya bun", jawab faiq.
"Faiq pulang duluan dijemput sama supir, buna akan mengobati mama dulu. Ingat faiq harus kuat, mama gak apa apa cuman kecapean aja", kata ku.
"Ya bun, buna janji obatin mama", kata faiq.
"Buna janji sama kamu, besok faiq boleh ke sini lagi melihat mama", kata ku.
__ADS_1
Faiq pun menurut apa kata ku, aku mengantarkan faiq ke depan karena mobil sudah ada di depan. Faiq pun pulang ke rumah ku, aku mencium kening faiq. Ku lihat dia pasti anak yang kuat, mobil berlalu dan melaju cepat. Aku masuk ke ruangan mas ilyas untuk berdiskusi tentang susan, tapi mas ilyas lagi tidak ada di ruangan. Aku pun duduk dan menunggu kedatangan mas ilyas.