
Setelah kita selesai membahas susan, aku dan suami ku pergi melihat susan di kamar nya. Begitu banyak mata yang tajam melihat kita menuju ruangan susan, untung susan tidur karena obat penenang tadi. Setelah itu aku dan suami pulang, dalam perjalanan menuju rumah aku sempat nanya ke suami bagaimana dengan faiq.
"Mas, kalau sampai mba susan dibawa ke rumah sakit jiwa faiq di rumah kita saja. Tapi bagaimana kita menjelaskan keadaan mamah nya?", tanya ku.
Aku pun cemas dengan faiq juga, di usia masih perlu mamah tapi mamah nya sendiri sudah seperti itu.
"Ya, mas juga masih bingung gimana dengan faiq", jawab mas ryan.
"Tapi aku yakin faiq mengerti, dia itu anak pintar yang mudah memahami keadaan", kata ku.
Sampai lah kita dirumah, aku dan suami ku masuk ke kamar untuk mandi dan ganti baju. Setelah selesai aku mencari faiq ke kamar nya prince dan benar mereka ada dikamar.
"Anak buna lagi apa?", tanya ku.
"Kakak lagi ngerjain PR di bantu sama kakak faiq, bun", jawab prince.
"Wah hebat, makasih kakak faiq sudah mengajari prince", kata ku.
"Bun, gimana keadaan mamah?", tanya faiq.
"Mamah masih lemas dan butuh istirahat, besok setelah pulang sekolah faiq boleh kok menjenguk mamah. Nanti buna anter ya ke rumah sakit nya", kata ku.
"Kakak boleh ikut kan bun?", tanya prince.
"Kakak bantu buna aja buat jagain baby R, boleh?", tanya ku.
"Yaahhhh, ok deh bun", jawab prince.
Aku pun tersenyum dan gak mungkin membawa prince dalam keadaan seperti ini. Esok hari nya suami ku sudah berangkat kerja dan prince juga faiq pergi sekolah, aku pun menggendong baby R sambil nemenin key bermain. Tiba-tiba pintu terketuk, bibi ros yang bukain pintu nya.
"Bu, di depan ada yang nyariin ibu", kata bibi ros.
"Siapa bi?", tanya ku.
"Gak tau, suami istri membawa anak juga", jawab bibi ros.
Aku pun keluar dan ku titipkan baby R ke ai, aku lihat yang datang mas haris sama ica juga anak nya.
"Mas, mba ica", kata ku, ya cukup kaget apalagi ini.
"Rin, aku dengar kamu sudah melahirkan?", tanya mas haris.
__ADS_1
"Ya mas, sudah aqiqahan lagi waktu minggu kemarin", jawab ku.
"Siapa nama nya mba?", tanya ica.
"Nama nya Rayn", jawab ku.
"Oh cowok ya?", tanya ica.
"Ya, sepasang lah sudah lengkap", jawab ku.
"Suami mu mana rin?", tanya mas haris.
"Sudah berangkat kerja, prince juga baru berangkat sekolah. Harus nya mas nanti siang atau sore ke sini nya kalau mau bertemu prince", jawab ku.
Ya aku kira mas haris mau bertemu sama anak nya kan, tapi bukan dan jauh dari apa yang aku kira.
"Rin, mas dan ica ke sini mau ngomongin hal penting sama kamu", kata mas haris.
"Apa mas?", tanya ku.
"Mas, sudah bangkrut dan ke sini mas mau minjam uang untuk buka usaha kembali", jawab mas haris.
"Ya mba, mas haris sudah ada sebulan ini bangkrut dan tidak bekerja. Rumah pun di sita bank, kita ngontrak rumah di gang sempit", lanjut ica menjelaskan nya.
"Mas cuman butuh pinjam 500.000.000 saja, itu cuman sedikit bagimu. Karena mas yakin penghasil kamu dan suami kamu itu satu hari", jawab mas haris.
"Mas, aku dan suami ku bekerja tidak mudah seperti apa yang sekarang mas lihat. Kita pun sama ada fase naik turun nya, cuman satu aku selalu bersyukur dengan penghasilan mas ryan", jawab ku.
"Ya, enak banget jadi mba, suami tajir punya usaha sana sini. Mba tinggal duduk saja menikmati nya", kata ica.
"Aku gak duduk aja mba, aku pun bekerja di klinik agar mendapatkan uang dan bisa membantu mas ryan", jawab ku.
"Tapi itu klinik sendiri bukan orang lain, apalagi bisnis proferti nya ryan yang sudah ada 3 cabang. Aku dengar juga kamu buka online shop", kata mas haris.
"Ya, alhamdulillah online shop ku masih bisa di anak anak. Ai dan susi yang mengelola sekalian mereka menjaga anakku", jawab ku.
Aku pun bingung mau ngasih atau gak sama mas haris.
"Mas, nanti ya aku bicarakan ini dulu sama maa ryan. Karena bagaimana pun dia harus tau", kata ku.
"Ya, Makasih ya sudah mau membantu mas", jawab mas haris.
__ADS_1
"Ini ada sedikit uang untuk membelikan susu dan makanan buat si cantik", kata ku.
Aku ngasih uang selembaran berjumlah 10, karena cuman itu yang sisa di dompet ku. Aku pun merasa kasian sama anak nya.
"Makasih ya mba, kita pamit dulu", kata ica.
Ica dan mas haris pun pamit untuk pulang. Aku menunggu faiq dan prince pulang dari sekolah, tak lama mereka pun datang. Faiq dan prince aku suruh ganti baju dan makan dulu.
"Faiq, kalau sudah ganti baju dan makan nanti ke kamar buna ya", kata ku.
"Ya bun, jadikan hari ini bertemu mamah?", tanya faiq.
"Ya sayang", jawab ku.
Faiq dan prince masuk ke kamar untuk ganti baju, aku pun sama untuk nyusuin dulu baby R.
"Ai, kalau baby R lapar lagi, tolong asi nya panasin ya. Takut aku dan faiq lama di rumah sakit nya", kata ku.
"Ya bu", jawab ai.
Faiq dan prince pun masuk ke kamar ku setelah mereka selesai makan.
"Anak buna udah makannya?", tanya ku.
"Sudah bun", jawab mereka kompak.
"Kakak prince tolong buna ya, jagain key sama Rayn. Buna mau nganter dulu kak faiq", kata ku.
"Ya bun siap", jawab prince.
Aku dan faiq pun berangkat menuju klinik, semoga aja susan sudah baik baik saja. Tiba-tiba dalam perjalan telpon masuk.
"Rin dimana?", tanya sinta.
"Aku dijalan mau ke sana", jawab ku.
"Sudah ada berapa kali susan ngamuk disini, mungkin hari ini dia akan kita pindahkan ke rumah sakit jiwa", kata sinta.
"Sin, kita ngobrol nanti aja. Aku sebentar lagi sampai kok", jawab ku.
Sinta pun menutup telpon nya dan aku mencoba kirim pesan ke mas ryan supaya dia pun segera menyusul ku ke klinik.
__ADS_1
"Mas, susan ngamuk lagi dan dokter disana bilang hari ini susan harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Mas tolong ke sini ya", aku mengirim pesan seperti itu ke mas ryan.
Aku gak mau faiq tau kalau aku langsung telpon ke mas ryan, nanti faiq denger lagi kalau mamah nya itu sudah sakit jiwa.