
Mas ilyas akhir nya datang juga, aku tidak sabar ingin mendengar bagaimana keadaan susan.
"Mas bagaimana susan?", tanya ku.
"Sekarang dia sudah tenang, Rin kamu tau kenapa dengan susan?", mas ryan malah balik nanya.
"Mas, tanyain saja sama mas ryan. Dia mungkin lebih tau, nanti aku hubungi mas ryan dulu ya", jawab ku.
Aku pun pergi meninggalkan ruangan mas ilyas, di luar sana banyak perawat dan staff lagi pada ngomongin tentang susan. Aku baru mencoba untuk menghubungi mas ryan tiba-tiba datanglah sinta menghampiri ku.
"Rin, boleh nanya gak?", tanya sinta.
Aku tau apa yang sinta ingin tau tentang susan karna dari tadi susan teriak nama aku, seolah aku merebut mas ryan dari dia.
"Boleh apa?", tanya ku
"Kamu tau kenapa susan seperti itu?", tanya sinta.
"Sin, kamu tunggu saja di ruangan mas ilyas. Aku akan menghubungi mas ryan dulu", jawab ku.
Sinta pun mengerti dan dia menuju ruangan mas ilyas. Aku menghubungi suami ku agar dia cepat kesini.
"Hallo mas sibuk gak?", tanya ku.
"Gak sayang, ada apa?", tanya suami ku.
"Mas bisa sekarang ke klinik?", tanya ku kembali.
"Ada apa sayang dengan kamu? Sakit kah?", mas ryan mungkin panik dengan kesehatan ku.
"Aku baik-baik saja, cuman susan. Mas ke sini aku gak bisa menjelaskan nya lewat telepon", jawab ku.
__ADS_1
"Ya, mas ke sana sekarang", jawab mas ryan.
Aku pun menutup telepon nya dan kembali menuju ruangan mas ilyas, ketika aku menuju ruangan mas ilyas. Tatapan staff dan pengunjung klinik yang disana menatap ku tajam penuh kebencian, aku gak mau mempengeruh suasana. Ku dengar mereka berbisik.
"Masa iya cantik, pintar jadi pelakor", satu kata yang terucap dari mulut mereka.
"Mungkin si susan yang mau rebut mas ryan, aku kasian sama bu erin", ada juga yang berpendapat seperti itu.
"Mas ryan brengsek yah, padahal bu erin cantik pintar, eh malah diselingkuhi lagi dan mungkin susan lagi hamil terus mas ryan gak mau tanggungjawab", ada pun yang seperti itu.
"Apasih hubungan mereka bertiga itu", adapun yang bingung seperti itu.
Banyak banget opini yang aku dengar sekilas dari mulut mereka, tapi aku memilih diam. Sampai di ruangan mas ilyas, aku merebahkan diri di sopa. Tak ku sangka bakalan seramai ini dan semalu ini sangat memalukan.
"Rin, kenapa?", tanya santi.
"Tunggu mas ryan dulu ya, aku pening nih", jawab ku.
Mungkin mas ilyas gereget sinta nanya mulu dan melihat keadaan ku seperti ini membuat mas ilyas iba.
"Gini sin, aku caritakan dari awal. Dulu tuh erin sudah punya suami namanya haris dan ryan pun punya istri nama nya susan itu", mas ilyas mencoba menjelaskan nya.
"Oh jadi susan itu mantan istri mas ryan?", tanya susan tak percaya sekaligus kaget.
"Tapi jauh sebelum mereka berkeluarga, ryan dan erin itu satu sekolahan. Mereka pacaran, singkat cerita erin dijodohkan sama bibi nya dan menikah lah sama haris. Erin dan ryan rencana mau menikah cuman terhalang biaya. Erin dijodohkan dan ryan pun menikah dengan susan", jawab mas ilyas.
"Ribet banget yah mantan pacar dan mantan suami atau gimana nih ribet", kata sinta.
"Sudah lama erin dan ryan gak ketemu, mungkin 5thn lebih kali. Cuman takdir mempertemukan mereka dengan cara nya. Rumah tangga erin hancur sama pelakor dan rumah tangga ryan hancur sama orang tua susan yang kekeh mau menjodohkan susan sama pengusaha tajir. Erin dan ryan pun berumah tangga setelah satu tahun perceraian erin, karena yang duluan cerai itu ryan. Erin sukses bisa jadi dokter karena ryan dan ryan sukses karena ada erin yang mendukung nya", mas ilyas memperjelas semua nya.
"Patut jadikan sebuah cerita nih kisah cinta erin dan ryan", kata sinta.
__ADS_1
Tiba-tiba dengan langkah tergesa gesa mas ryan pun datang dan membukakan pintu, langsung menghampiri ku.
"Sayang ada apa?", tanya mas ryan.
"Mas ilyas tolong jelas kan sama mas ryan", kata ku meminta mas ilyas menjelaskan nya.
"Jadi begini, tadi pagi ada pembantu nya susan membawa susan ke sini. Tangan nya penuh darah, kebetulan juga erin ada disini jadi erin dan aku yang membersihkan luka susan. Untung nya nadi gak putus jadi cuman sedikit dijahit, erin pergi menjemput anak nya susan. Susan pun sadar dan dia marah marah sampai semua dokter dan suster turun tangan, aku periksa dia depresi dan susan pun memaki terus erin. Seolah erin yang menjadi pelakor antara lu dan susan", mas ilyas menjelaskan nya sama mas ryan.
"Pantesan aja diluar wajah staff disini melihat gue dengan tatapan tajam", kata mas ryan.
"Kalau susan seperti ini terus, dia akan kita pindahkan ke rumah sakit jiwa", kata mas ilyas.
"Keadaan sekarang masih marah marah gak?", tanya mas ryan.
"Gak, sudah dikasih obat penenang. Oh iya gue mau nanya, lu apa hubungan kembali sama susan atau menjanjikan apa dan lu melanggar nya?", tanya mas ilyas.
"Gue hubungan biasa karena ada faiq, gue gak menjanjikan yang aneh sama dia. Cuman sudah berjalan dua minggu, susan mencoba menarik perhatian gue dengan cara yang menurut gue menjijikan. Dia pun ingin gue menikahi nya dan dia bicara begitu dihadapan istri gue juga, ya kan sayang? ", tanya mas ryan.
" Ya mas, aku tau susan mencoba untuk mendekati mas ryan dan ingin dia menjadi madu ku. Cuman sudah berapa kali mas ryan tolak, sampai anak nya pun jadi sebuah tameng buat dia agar mas ryan dan aku setuju kalau dia jadi madu ku. Aku nasehatin agar dia sadar, aku pun sempat menawarkan mas ilyas yang single tapi dia menolak", kata ku.
"Gila kalian gue jadi bahan umpan nya", jawab mas ilyas.
Sontak kita pun tertawa, yang tadinya serius jadi buyar kembali dengan celetukkan mas ilyas.
"Gue akan pantau keadaan susan, kalau sering ngamuk. Ya terpaksa sore ini juga kita pindahkan ke rumah sakit jiwa", kata mas ilyas.
"Ya terserah apa baik nya lah, lu yang mengerti. Gue orang awam yang gak tau harus apa", kata mas ryan.
"Gue kalau milih mendingan nikahin sinta dari pada mantan istri lu yang kurang bersyukur itu. Dikasih cukup minta lebih, dikasih lebih tersiksa kan", celetukan mas ilyas kadang bener nya juga sih.
"Sin kode tuh dari alam bawah sadar", aku menggoda sinta.
__ADS_1
Muka sinta pun memerah karena malu.