
Suami ku pun datang dari rumah nya susan membawa semua baju faiq.
"Sayang", kata suami ku.
"Ya mas, sudah di bawa semua?", tanya ku.
"Sudah ini baju dan buku semua nya mas bawa", jawab suami ku.
"Mas besok aku dan anak anak mau belanja kebutuhan faiq, jadi tadi aku telpon pihak sekolah faiq dan prince bahwa mereka ijin besok", kata ku.
"Oh ok, mas taruh dulu baju dan buku ke kamar prince dulu ya", kata mas ryan.
Mas ryan pergi menuju kamar nya prince sedangkan aku masuk ke kamar, aku baru ingat tentang kejadian pagi tadi belum sempat cerita sama mas ryan. Aku menunggu 10menitan dan mas ryan pun datang ke kamar.
"Mas, aku mau cerita tapi sebelum nya mas mandi dulu sana", kata ku.
"Cerita apa?", tanya mas ryan.
"Cerita mas haris, mas mandi dulu sana", jawab ku.
"Ya mas mandi", jawab mas ryan.
Mas ryan pun bergegas ke kamar mandi, aku menunggu nya sekitar 20menitan. Akhir nya mas ryan pun muncul dan selesai mandi.
"Tadi mau cerita apa?", tanya mas ryan.
"Waktu tadi pagi ada mas haris dan ica ke rumah, aku pikir dia mau bertemu prince. Tapi....", kata ku.
Aku bingung mau bicara seperti apa ke mas ryan, aku diam dan mencerna setiap kata ku agar di pahami mas ryan.
"Kenapa diam?", tanya mas ryan membangunkan ku dari lamunan.
"Mas haris bangkrut, rumah sudah di sita bank. Mereka pun tinggal di kontrakan gang sempit, mereka ke sini minta bantuan kita", jelas ku ke mas ryan.
"Mas sudah tau tentang itu dari temen klien mas, dia pun sempet kerjasama cuman mereka bilang mas haris lah yang telah menggelapkan uang. Dia di desak sama istri nya dan akhir nya mas haris pun korupsi untuk mencukupi kebutuhan istrinya. Untung dia gak di penjara cuman 3bulan saja, tapi ya gituh harta nya habis buat mengembalikan uang klien nya", jawab mas ryan.
"Oh seperti itu, terus apa kita harus bantu mas?", tanya ku.
__ADS_1
"Dia membutuhkan uang berapa?", tanya mas ryan.
"500.000.000 mas", jawab ku.
"Banyak banget sayang", kata mas ryan.
"Ya aku juga gak tau, dia bilang gituh", jawab ku.
"Menurut mu apa harus mas haris dipercaya dan setiap orang yang meminjamkan uang harus tanggung sendiri jika suatu saat uang itu tidak kembali?", tanya mas ryan.
Aku pun diam bingung, mas haris sudah tidak mendapat kepercayaan lagi dari ku. Tapi di sisi kemanusiaan ku, aku tidak tega melihat anak nya harus sengsara.
" Mas kita kasih saja 10.000.000 itu terserah dia mau diterima atau gak yang terpenting kita mau meminjamkan nya. Jika pun uang itu tidak kembali, aku sih ya gak apa apa", jawab ku.
"Ya udah itu keputusan mu, mas juga kepikiran ke sana. Ya uang segitu bisa buat usaha jualan juga", kata mas ryan.
Kita pun sepakat untuk meminjam kan uang sebesar 10.000.000 saja kepada mas haris. Sudah berbincang bincang kita pun tidur, karena hari ini sibuk dan penuh drama.
Pagi hari kita sarapan dulu, setelah itu suami ku berangkat kerja. Aku dan anak anak pergi ke mall yang tidak dibawa cuman baby R saja, aku bawa susi untuk jagain key sedangkan ai dirumah jagain baby R. Pertama ke mall kita menuju toko perlengkapan kamar tidur, kita beli kasur dan tempat tidur nya, beli meja belajar dan beli lemari baju. Setelah itu kita pun beli makanan di supermarket sekalian belanja bulanan juga, prince mengajak faiq untuk bersenang senang memilih makanan. Faiq melepaskan rasa sedih nya dengan tetap tersenyum dihadapan adik adik nya.
"Bun, faiq senang banget bisa bertemu buna dan adik adik faiq", kata faiq.
"Buna juga bahagia punya faiq, jadi kalau sekarang bertemu mama faiq sudah siap", kata ku.
"Sudah bun", dengan semangat faiq menjawab nya.
Mobil melaju ke rumah sakit jiwa dimana susan berada, aku pun membawa kan makanan buat dia. Aku, prince dan faiq ke rumah sakit jiwa sedangkan susi dan key pulang naik taxi. Sampai di rumah sakit jiwa aku, prince dan faiq turun dari mobil dan faiq menghentikan langkah nya saat sudah di depan pintu masuk.
" Kenapa sayang?", tanya ku.
"Gak bun", jawab prince.
"Kamu belum siap?", tanya ku kembali.
"Pasti mama belum bisa ngenalin aku", jawab prince sampai menghembuskan napas nya dengan kuat.
"Faiq berdoa buat kesembuhan mama ya sayang", jawab ku.
__ADS_1
"Kakak kuat kok", kata prince sambil memeluk faiq.
Faiq pun mengangguk dan mulai berjalan kembali, sampai di sebuah ruangan yang lumayan besar cuman ada 3 buah ranjang pasien saja di sana. Faiq mencoba mendekati mama nya.
"Mah faiq datang menjenguk mamah, cepat sembuh", kata faiq sambil menangis dan memeluk susan.
Dengan seperti biasa tidak ada respon sama sekali, cuman tatapan kosong yang ada di sorot mata nya.
"Mah, faiq merindukan mamah, kenapa mamah diam saja", faiq pun mencoba mendekat ke wajah susan.
Susan cuman bisa diam, meskipun sudah berapa kali faiq mengajak nya mengobrol.
"Faiq bawain makanan ke sukaan mamah",
"Mamah mau faiq suapin?", tanya faiq, walaupun faiq tau tidak akan ada respon apapun.
"Sayang coba makanan nya dibuka dan kamu suapin mama", kata ku.
Faiq pun mengangguk dan menuruti apa kata ku, dia membuka nya dan menyodorkan makanan ke mulut susan. Masih untung susan mau makan makanan yang faiq suapin, walaupun cuman ada 5 suapan saja ke sana nya mulut dia diam kembali.
"Bun, tante itu sakit apa?", tanya prince yang mungkin sejak tadi bingung.
"Tante sakit jiwa", jawab ku.
"Apa sih bun? Prince gak ngerti. Kenapa tante diam saja dari tadi?", tanya prince.
Dia belum tau yang nama nya sakit jiwa itu apa, anak seperti prince belum mengerti.
"Nanti prince tanya sama ayah ya", jawab ku.
Aku dan prince cuman bisa melihat faiq yang berusaha ingin mamah nya mengingat dia, tapi sepertinya sia sia saja.
"Faiq sudah puas melihat mama bun", kata faiq.
"Faiq mau pulang?"
Faiq cuman mengangguk saja, setelah itu kita pun keluar dari ruangan itu menuju ke depan gedung.
__ADS_1