
Setelah sampai di klinik, aku dan faiq pun turun dari mobil. Sebelum masuk aku mencoba untuk menenangkan dulu hati faiq.
"Sayang lihat buna, kamu masih punya keluarga. Ada ayah, buna, prince, key dan baby R. Ingat kamu gak sendiri, kita ada selalu untuk mu. Kamu siap menerima apa yang nanti nya akan terjadi sama mamah?", tanya ku.
"Bun, apa mamah sakit parah?", tanya faiq.
"Di bilang iya, cuman buna akan melakukan yang terbaik buat mamah. Satu kamu siap gak? Kalau gak siap, gak usah bertemu dulu", jelas ku ke faiq.
"Apa mamah gila ya bun, gara gara faiq gak nurutin apa kata mamah, mamah nyuruh faiq agar ngebujuk ayah untuk kembali lagi sama mamah. Tapi faiq gak mau bun, gak mau nyakitin buna", kata faiq.
"Faiq gak salah, mamah mungkin yang salah sudah meninggalkan ayah orang baik dan memilih orang pilihan kakek mu", jawab ku.
Aku mencoba untuk memeluk nya dan menenangkan hati juga pikiran nya, jangan sampai faiq menyalahkan dirinya sendiri.
"Mau masuk gak sayang?", tanya ku.
"Ya bun", jawab faiq dengan nada gak yakin.
Kita pun masuk dan menuju ke kamar dimana susan di rawat, hari ini mungkin gosip sudah tersebar luaskan. Pandangan yang kemarin tajam, kini berubah seperti mereka tidak percaya kalau aku memelihara duri dalam rumah tangga. Tatapan itu kasian, iba, melihat ku.
Terdengar jelas mereka berbicara seperti ini.
"Kalau aku jadi ibu erin, mana mau memelihara duri itu", itu baru satu yang ku dengar.
"Bisa bisa nya susan menjadi ular berbisa yang tidak tau bertrimakasih", dua sayup sayup aku dengar mereka berbicara seperti itu.
Aku tidak peduli yang aku khawatirkan itu fisik nya faiq nanti kalau tau mamah nya seperti itu. Faiq dan aku masuk ke dalam kamar menemui susan.
"Mah", kata faiq.
Aku lihat lusuh banget muka nya dan rambut nya pun acak acakkan tak karuan lagi, dulu susan selalu menampilkan wajah yang cantik kini berbeda jauh dari sebelum nya. Susan diam ketika faiq memanggil nya, faiq mencoba mendekati susan.
"Mah, ini faiq anak mamah", kata faiq.
__ADS_1
Lagi dan lagi susan pun diam dengan pandangan kosong, aku berusaha menahan faiq dan faiq pun menangis dipelukkan ku. Aku pun membawa faiq ke luar dan aku berjalan menuju ruangan mas ilyas, kebetulan mas ilyas dan sinta ada di sana.
"Rin, faiq...", tanya mas ilyas tapi tidak melanjutkan nya.
"Ya mas, tadi aku dan faiq datang menemui susan. Cuman susan tidak dapat respon ketika dipanggil faiq", jawab ku.
Mas ilyas pun mencoba mendekati faiq dan merangkul nya.
"Faiq, om dokter mau bilang sesuatu sama faiq tapi faiq bakalan kuat gak? Kalau faiq belum siap, om gak bakalan maksa faiq", kata mas ilyas.
Aku dan sinta cuman bisa diam dan tidak tega sama faiq, dia masih membutuhkan mamah nya tapi mamah nya sedang sakit jiwa.
"Om, apakah mamah harus di rawat di rumah sakit jiwa?", tanya faiq.
"Mmm, menurut faiq sendiri apa bisa mamah kalau dirawat dirumah?", mas ilyas pun kembali menanyakan kepada faiq.
"Gak bisa om, faiq takut mamah ngamuk dan malah mecelakai dirinya sendiri", jawab faiq.
"Om boleh memasukkan mamah ke rumah sakit jiwa, agar mamah bisa di obatin dan sembuh seperti biasa lagi", jawab faiq.
Memang faiq di suruh dewasa tapi tidak pada waktu nya, aku pun percaya faiq kuat.
"Kalau itu mau faiq, gimana kalau sekarang kita mengantarkan mamah bersama sama mau kan?", tanya mas ilyas.
Faiq pun cuman mengangguk saja. Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata mas ryan datang juga. Faiq memeluk mas ryan dan mas ryan menepuk punggung faiq, tangis faiq pun pecah dipelukkan ayah nya.
" Faiq, lihat ayah sayang. Seorang laki-laki itu pemimpin, pemimpin harus kuat. Jadi faiq harus kuat, mamah akan sembuh dan berkumpul lagi bersama kita. Tidak lama kok cuman sebentar, nanti tiap hari faiq bisa menengok mamah diantar sama buna. Kalau ayah ada waktu kita bertiga menengok mamah", kata mas ryan.
"Ilyas, apa sudah siap susan mau dibawa sekarang?", tanya mas ryan.
"Sudah, nanti aku cek dulu sebentar ya", kata mas ilyas.
Mas ilyas dan santi pun ke luar untuk mempersiapkan susan yang akan dibawa ke rumah sakit jiwa, aku pun memeluk faiq biarkan dia menangis dipelukkan ku.
__ADS_1
"Mas, nanti kita ambil semua pakaian faiq ya, terus biar bibi disana nempatin rumah susan", kata ku.
"Ya sayang, buna duluan pulang dan ayah ke rumah susan", jawab suami ku.
Setelah menunggu 10menit sinta pun kembali, dan menngabarkan kalau kita sudah siap. Susan pun sudah berada di mobil bersama mas ilyas, aku, faiq dan mas ryan langsung ke luar menuju mobil. Sedangkan sinta menunggu di klinik saja, kita mengantarkan susan ke rumah sakit jiwa yang berjarak dari rumah itu sekitar 45 menitan.
Sampai disana susan langsung di bawa ke dalam, administrasi dan semua nya sudah lebih awal terselesaikan. Sebelum masuk faiq pun berlari menghampiri susan dan memeluk nya, tapi sayang susan tidak merespon nya. Hanya tatapan kosong yang terlihat, setelah itu aku menarik faiq biarkan susan masuk dengan diantarkan oleh suster dan mas ilyas. Kita menunggu didepan saja, aku melihat faiq tidak tega banget.
Setelah menunggu lama mas ilyas pun ke luar dan menghampiri kita.
"Mas sudah selesai?", tanya ku.
"Sudah, kalian pulang lah. Besok juga boleh bisa di tengok", kata mas ilyas.
Mas ilyas memeluk faiq dan kita pun pulang, aku sama faiq naik taxi untuk pulang ke rumah sedangkan mas ryan ke rumah susan dulu. Dalam perjalanan faiq diam saja hanya tetesan air mata yang mengalir, aku memeluk nya biarkan dia menangis dalam pelukan ku.
Sampai dirumah kita disambut prince dan key juga si kecil rayn, faiq pun seketika menampakan wajah tersenyum dihadapan adik adiknya.
"Prince mulai hari ini dan selamanya kakak faiq bakalan tinggal di rumah kita", kata ku.
"Horeee bener bun", jawab prince.
Aku mengangguk saja.
"Besok kita beli lemari sama meja belajar dan tempat tidur buat kakak faiq, kita jalan jalan mau?", tanya ku.
"Mau bun", jawab prince.
"Buna sudah minta ijin sama guru, besok faiq dan prince gak masuk sekolah dulu", kata ku.
"Kak faiq ayo masuk kita main bareng lagi", ajak prince.
Faiq dan prince pun masuk, mereka bermain bersama.
__ADS_1