Arranged Marriage

Arranged Marriage
A 1


__ADS_3

Sepi, sendirian.


Itulah yang dirasakan anna saat ini. Ia tak tau dirinya berada dimana. Semuanya gelap dan sunyi.


Rasa takut, membuat kakinya terus melangkah entah kemana. Yang ia inginkan kini hanyalah mendapatkan secerca cahaya yang bisa menuntunnya keluar dari kegelapan ini.


Tubuhnya mulai bergertar. Bibirnya terus memanggil manggil nama orang lain.


"Mom... Dad... Kak Thunder.. hiks kalian dimana? Anna takutt hiks"


Anna terus melangkah sambil memanggil manggil mommy, daddy dan kakaknya. Berharap mereka bisa datang dan menolongnya. Hingga tanpa sengaja bibirnya menyebut satu nama yang otomatis membuat nyeri dihatinya.


"Kak Leo... hiks" sebut anna.


Ia mulai lelah. Dadanya sesak dan nyeri, namun ia tetap tak menemukan jalan untuk keluar dari kegelapan itu.


"Kak Leo tolong aku.. hiks, kenapa kamu pergi?


Kenapa kamu ninggalin aku? Aku mau kamu, aku butuh kamu. Kak Leo.....!!!" Teriak Anna begitu keras, meluapkan semua rasa yang ada dihatinya.


Tiba tiba sebuah cahaya muncul. Anna segera mengusap air matanya. Dan berlari


menuju cahaya itu. Setelah ia mendekat, ternyata itu adalah cahaya yang berasal dari balik pintu yang sedikit terbuka. Perlahan Anna membuka pintu itu. Dan ia langsung disambut dengan semilir angin malam yang menerpa tubuhnya.


Anna tau tempat ini. Ini adalah rooftop gedung kantor milik daddynya yang biasa ia kunjungi untuk menikmati pemandangan langit malam dan keindahan cahaya bulan. Anna mendekat ke arah pinggiran rooftop. Kerlap kerlip lampu kota nampak begitu indah dari sana. Membuat seutas senyum terbir dibibirnya.


Kemudian, Anna mendongak. Menatap langit malam yang terlihat cerah. Dipenuhi bintang bintang yang bersinar terang, dan bulan yang terilhat besinar begitu indah.


"Andai aku bisa meraih bula itu, aku akan ku berkan kepadanya. Sebagai bukti bahwa aku benar benar mencintainya agar dia mau kembali lagi dalam hidupku" guman anna.


Anna menghela nafasnya. Ia tau itu mustahil ia dapatkan. Dan begitu pula kedatangannya, itu juga mustahil. Namun hatinya masih menaruh harapan, bahwa suatu saat nanti dia akan kembali.


Anna menatap bulan itu kembali. Namun kali ini ia mengerutkan keningnya ketika melihat sang rembulan semakin mengecil. Kemudian turun perlahan lahan kearahnya. Anna menengadahkan tangannya saat cahaya yang tadinya adalah sebuah bulan semakin mendekat padanya.


Dan kini apa yang ada di tangannya, membuat dirinya benar benar terkejut dan tak percaya. Cahaya itu kini berubah lagi menjadi sebuah bulan, dan kini bulan itu sedang ia genggam. Anna tersenyum bahagia. Senyumannya begitu lebar. Cahaya itu menyoroti wajahnya, membuat paras cantik itu semakin terlihat indah


Anna memperhatikan bulan itu dengan mata berbinar. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah wajah dibulan itu.


"Kak leo.." lirihnya.

__ADS_1


Ya, ia menemukan wajah seseorang yang sangat ia inginkan kehadirannya. Seseorang yang sangat ia rindukan. Seseorang yang sangat ia cintai dari dulu hingga saat ini. Seseorang yang pergi entah kemana dan meninggalkan luka untuknya.


Kedua mata coklat itu berkaca kaca. Ia melihat leo sedang tersenyum padanya. Senyum yang manis dan begitu tulus. Senyum yang dulu hanya ditujukan padanya, dan orang lain tak pernah melihatnya.


Anna memejamkan matanya dan mendekatkan bulan itu kedadanya. Seolah itu benar benar sosok leo yang sangat ingin ia peluk.


Namun tiba tiba bulan itu pecah ditangannya. Bunyinya terdengar begitu nyaring dan membuat anna begitu terkejut. Bulan itu berubah menjadi serpihat serpihan cahaya yang perlahan menghilang.


"Enggak.. jangan.. kumohon. Aku harus memberikanmu pada kak Leo, agar dia percaya kalau aku mencintainya. Agar dia kembali dalam hidupku. Aku mohon jangan... jangan menghilang.. hiks hiks.. kak leo..."


Dan kini cahaya itu benar benar hilang. Anna menangis histeris. Ia berlari kesana kemari mencari bulan itu. Namun tak ia dapatkan. Hingga tanpa disadari kakinya melangkah semakin mendekati pinggiran rooftop, dan akhirnya...


"Aaakhhhhhh!!!!" Jerik anna begitu keras saat tubuhnya terjatuh dari rooftop itu.


"Anna!! Bangun.. hei sayang bangun lah"


Anna membuka matanya saat merasakan tepukan dipipinya yang cukup keras dan namanya yang dipanggil berulang kali. Ia langsung terduduk dengan nafas tersengal sengal. Ternyata semuanya hanya mimpi. Mimpi yang begitu aneh.


"Kamu kenapa? Mimpi buruk?" Tanya diaz, daddynya. Anna mengangguk pelan. Kemudian ia langsung memeluk tubuh diaz yang duduk di pinggiran ranjangnya.


"Sudah sudah.. jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya mimpi. Ada daddy disini" ucap diaz menenangkan putrinya. Anna menguraikan pelukannya.


"Daddy mau kekamar kakak kamu untuk mengambil berkas kantor, tapi tiba tiba daddy denger kamu teriak teriak. Daddy khawatir, jadi daddy masuk dan ternyata kamu sedang mimpi" anna mengangguk. Diaz memperhatikan wajah putrinya itu


"Kamu mimpi apa hem?" Tanya diaz. Anna menatap daddynya sebentar kemudian menggeleng.


"Mimpinya aneh. Anna ga bisa ceritainnya" diaz menghela nafasnya.


"Ya sudah sekarang kamu tidur saja. Jangan dipikirkan lagi" anna kembali mengangguk. Saat diaz akan bangkit dari duduknya, anna menahan tangannya. Membuat diaz menatap Anna dengan tatapan bertanya.


"Anna gamau tidur sendiri. Anna mau tidur sama daddy sama mommy, boleh kan?" Tanya anna dengan wajah memohon.


Diaz tersenyum sambil mengangguk. Anna tersenyum senang saat diaz mengiyakannya. Anna segera turun dari ranjangnya sambil menarik tangan diaz dan membawanya menuju kamar utama di mashion itu. Atau lebih tepatnya kamar diaz dan agatha.


Diaz hanya geleng geleng kepala saja. Ternyata putrinya yang ia anggap sudah dewasa, masih sama seperti dulu. Selalu minta tidur bersama saat mimpi buruk. Dan tentu saja diaz dan agatha sama sekali tak keberatan dengan itu. Lagi pula ranjang mereka cukup luas untuk ditempati tiga orang dewasa.


Anna masuk kedalam kamar itu. Nampak mommynya itu sudah terlelap dibalik selimutnya. Tanpa kata kata apapun lagi, Anna langsung naik keranjang itu. Membuat agatha terbangun.


"Kenapa sayang?" Tanya agatha dengan lembut.

__ADS_1


"Mimpi buruk lagi"ucap diaz yang kini juga ikut naik keatas ranjang.


"Ya sudah sini tidur sama mommy sama daddy" ucap agatha lagi.


Anna tersenyum senang. Ia mengambil tempat diantara agatha dan juga diaz. Anna mulai memejamkan matanya saat merasakan


pelukan hangat agatha dan usapan lembut diaz dikepalanya. Sangat menenangkan. Hingga membuatnya kembali terlelap dengan begitu nyaman.


***************


Prangggggg


"Aaarrghhhh"


Leo membuang semua benda yang betada di atas meja kerjanya setelah mendapatkan sebuah telfon dari papanya. Emosinya langsung memuncak ketika papanya mengatakan sesuatu yang sangat tidak ia inginkan terjadi dalam hidupnya. Yaitu, perjodohan.


Ya, leo akan segera dijodohkan dengan seorang gadis pilihan papanya. Ini bukan yang pertama kali papanya mencoba menjodohkannya. Namun tentu saja leo pasti menolaknya. Dan kini papanya mengatakan jika kali ini tak bisa di tolak. Dan keputusan ini sudah mutlak.


Dan kini leo hanya bisa meluapkan emosinya kepada barang barang disekitarnya. Tak peduli berapa nilai barang barang itu.


Drt drt


Leo membuka ponselnya saat benda pipih itu bergetar. Ternyata pesan dari papanya. Leo sangat malas membukanya, namun rasa penasaran melingkupinya. Apalagi saat ia mengetahui bahwa papanya mengirimkan


sebuah gambar.


Mata leo terbuka sempurna saat melihat gambar itu. Atau lebih tepatnya sebuah foto seorang gadis. Dan leo tau benar siapa gadis itu.


Belum sempat leo kembali dari keterkejutannya. Ponselnya kembali berdering. Kini papanya menfolnnya


"Itu adalah foto gadis yang akan papa jodohnya dengan kamu"


"Tapi pa, leo nggak.."


"Jangan bantah keputusan papa. Kali ini kamu tidak bisa menolak. Lagi pula gadis itu dari keluarga baik baik dan terpandang. Dia tidak akan membuat keluarga kita malu. Dia pantas untuk kamu. Keputusan papa sudah mutlak. Tidak bisa diubah lagi"


Tut.


Sambungan telfon terputus secara sepihak. Leo langsung menghemapskan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia memejamkan matanya kuat kuat sambil memijit pangkal hidungnya.

__ADS_1


"Leo yang ga pantes buat dia pa.. ga pantas" lirih leo dengan nada lelahnya.


__ADS_2