
Vote, komen, like, rate 5 biar semangat up terus
.
.
Happy reading
.
.
Anna menyusuri jalan sambil memeluk kedua lengannya sendiri. Angin dan dinginnya malam terasa seperti menusuk tulangnya. Menambah suasana hatinya yang semakin memburuk.
Tadi, setelah leo mengatakan sebuah fakta yang benar benar menyakiti hati anna, mereka berbincang sebentar. Lebih tepatnya hanya leo dan alice, sedangkan Anna hanya diam saja. Hingga akhirnya anna berpamitan untuk ke toilet, namun bukannya kesana anna malah pergi dari restoran itu.
Dan kini ia berakhir disini. Di pinggiran jalan seperti orang hilang. Anna tak membawa dompet, ponselnya juga mati. Anna tau arah jalan pulang dan itu sangat jauh. Namun ia tak punya pilihan lain selain berjalan.
Berulang kali anna mengusap kedua lengannya untuk menghangatkan tubuhnya. Ia juga tak memakai jaket. Anna berjalan seperti orang tak memiliki arah hidup. Berulang kali pula ia mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa ia minta.
"Anna kenalin ini alice"
"Dia pacar aku"
Ucapan Leo terus berputar diotaknya. Dan setiap kali suara itu terdengar Anna merasakan perih dihatinya. Anna memukuli dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa kak leo tega banget sama aku? Aku salah apa?" lirih Anna. Langkahnya mulai melemah. Ia mulai lelah.
Tiba tiba Anna merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Anna tak berani menoleh ke belakang. Namun ia lebih mempercepat langkahnya. Dan benar saja, semakin ia berusaha menjauh langkah itu terdengar semakin dekat.
Grapp!!
"Lepas!!" Teriak Anna saat kedua tangannya di cekal oleh dua preman jalanan yang menatapnya dengan lapar.
"Mau kemana nona cantik? Sendirian aja? Sini sama abang aja"
"Enggak, lepasin!!" Anna semakin berontak saat salah satu dari dua pria itu mencoba menyentuh wajahnya.
Dengan keberanian penuh, Anna menginjak kaki salah satu dari mereka, kemudian saat sebelah tangannya terlepas ia memberikan bogeman kepada orang yang masih mencekal tangannya. Saat mereka berdua meringis kesakitan, sekuat tenaga Anna berlari.
Namun tiba tiba jalannya dihadang oleh beberapa pria yang ia yakini adalah rekan dari orang tadi. Pria pria itu akan menangkap Anna namun dengan gesit Anna menghindar dan memberikan beberapa hantaman dan tendangan pada mereka.
Jangan remehkan Anna. Meskipun ia gadis yang lembut, namun anna memiliki ilmu bela diri yang lumayan. Karena ia sering melihat Thunder berlatih karate, dan terkadang thunder dengan isengnya menjadikan Anna sebagai lawannya. Alhasil sedikit sedikit
Anna mengerti tentang ilmu bela diri.
"Sialan nih cewek!" Umpat salah satu dari mereka yang terkena tendangan diperutnya. Apalagi saat melihat semua rekannya hampir lemas untuk melawan Anna yang notabennya seorang wanita dan sendirian melawan mereka.
Beberapa dari mereka langsung bangkit, kemudian bersama sama menyerbu Anna. Anna mulai kewalahan. Karena dirinya juga mulai kelelahan. Hingga akhirnya
Bughh
Anna terkena bogeman di sudur bibirnya.
Bughh
Tubuh Anna tersungkur di aspal saat salah satu dari mereka memukul punggungnya dengan cukup keras. Anna berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, namun tak bisa. Ia terus beringsut mundur. Bahkan dirinya sudah sampai ketengah jalan.
Disana sangat sepi. Tak ada satupun orang ataupun kendaraan yang lewat. Entah Anna harus bersyukur karena tak akan ada yang menabraknya. Atau kesal karena tak akan ada yang menolongnya dari orang orang ini.
"Hahaha.. bagaimana? Sudah lelah nona?" Tanya salah satu dari mereka. Anna menggeleng cepat. la sudah mulai ketakutan. Apalagi saat orang orang itu semakin mendekatinya
"Kita bawa saja dia, kita nikmati bersama. Lihat dia sangat cantik dan.. sexy" Anna mengepalkan tangannya kuat kuat saat mendengar kata kata itu. Ingin ia memukuli wajah orang mengatakan hal itu namun ia tak sanggup lagi.
Air mata mulai menetes. Anna mulai ketakutan. Apalagi saat salah satu dari mereka menyentuh dagunya. Anna segera menepis tangannya itu.
Tinn!!!!!
__ADS_1
Anna membulatkan matanya saat ada sebuah mobil melaju begitu cepat kearahnya. Orang yang tadi mendekatinya otomatis mengindar, sedangkan Anna masih berada ditengah jalan.
Anna meringkukkan tubuhnya, bersiap jika mobil itu akan menabraknya. Namun setelah beberapa saat Anna tak merasakan apapun. Malah ia mendengar suara gaduh.
"Brengsek!" Anna melihat ke arah sumber suara. Dan bertapa terkejutnya ia saat melihat Leo sedang menghajar para pereman itu.
Anna hanya diam ditempatnya. Bahkan mobil leo berhenti hanya berjarak satu lengan darinya.
"Ampun.. ampun.. kami akan pergi"
"Pergi sana! Cepat!" Marah Leo pada orang orang itu. Mereka semua langsung berlari pergi dengan sempoyongan.
Dengan nafas memburu, leo melihat ke arah Anna yang masih diposisinya. Leo berjalan mendekati Anna dan berdiri di depannya dengan angkuh.
"Berdiri" ucap leo . Anna berusaha berdiri namun kakinya terasa sangat nyeri. Dan akhirnya ia kembali terduduk disana.
Leo berdecak sebal. Tanpa mengatakan apapun leo langsung menggendong tubuh Anna seperti tanpa beban. Kemudian membawanya masuk kedalam mobil.
Didalam mobil Anna hanya diam. Tak mau berbicara ataupun melihat ke arah leo. Ia tak tau harus bagaimana. Perasaanya campur aduk. Belum lagi tubuhnya yang terasa remuk. Namun anna dapat meraskan jika Leo melihat kearahnya.
"Kenapa lo pergi gitu aja?" Tanya leo dengan suara dingin. Anna hanya diam tak menjawab.
"JAWAB!!" Bentak Leo membuat anna terkejut.
Anna menoleh ke arah leo. Menatap pria itu dengan mata mulai berkaca kaca. Leo dapat melihat sorot luka dari kedua mata anna.
"Kenapa kak leo mau tunangan sama aku kalau nyatanya kak Leo punya pilihan sendiri?"
"Lo udah tau jawabannya"
"Kak Leo ga perlu ngelakuin ini. Aku udah
maafin ka leo, kak Leo ga perlu lagi tanggung jawab dengan nikahin aku. Toh juga semua itu nggak terjadi"
"Lo nolak gue?" Tanya leo dengan nada sinis. Anna menggeleng
"Aku cuma melakukan apa yang terbaik
"Lo cemburu Anna?" Tanya leo dengan hati hati. Entahlah, Leo mulai merasa bersalah kepada Anna.
"Tentu. Aku cemburu, sangat cemburu. Aku udah bilang kan kalau aku cinta sama kak Leo. Dan saat kak Leo bersamaku karena terpaksa, sedangkan disisi lain kak Leo memiliki orang lain aku ngerasa sakit kak. Lebih baik kak Leo lepasin aku dan bersama alice saja. Kalau itu yang terbaik untuk kak Leo aku ikhlas" Anna memejamkan matanya erat. Rasanya sangat menyakitkan ketika mengatakan hal itu. Namum bagaimanapun juga ia tak ingin tersakiti terus seperti ini.
"Lo bilang mau ngelepas gue, tapi nyatanya cuma mulut lo, tapi hati lo enggak" ucap leo kemudian melajukan mobilnya.
Anna terus menatap keluar jendela. Ia ingin segera pulang dan menumpahkan keluh kesahnya dikamarnya nanti.
Namun anna mengerutkan keningnya saat Leo tak membawanya pulang. Namun kesebuah apartemen.
"Gue ga mungkin bawa lo pulang dalam keadaan seperti ini. Malam ini nginep dulu di apartemen gue. Besok gue bakal anterin lo pulang" ucap leo langsung seperti tau apa yang akan ditanyakan oleh Anna.
Seperti biasa, Anna selalu mengikuti Leo dari belakang. Terkadang ia berlari kecil untuk memperkikis jarak antara dirinya dengan leo yang terlalu jauh.
Leo menekan pasword apartemennya. Kemudian pintu terbuka. Leo langsung masuk
dan diikuti oleh Anna.
Ini adalah apartemen yang berbeda dari apartemen sebelumnya. Anna tak mau repot repot memikirkan berapa apartemen yang dimiliki oleh Leo.
Anna melihat ada beberapa barang yang tak mungkin milik Leo. Seperti sepatu wanita dan beberapa make up. Bahkan ada beberapa dress yang bersampiran di sofa.
"Sorry banyak barang alice disini yang berantakan" ucap leo sambil melepaskan jaketnya.
"Alice sering kesini?" Tanya anna. Leo mengangguk.
"Gue kalau ketemu sama alice disini"
"Berarti kak Leo sering kesini?" Leo mengangguk untuk mengiyakan perkataan Anna.
__ADS_1
"Gue sering ke indo diam diam. Cuma buat ketemu alice dan habisin waktu bersama" ucap Leo.
Anna hanya diam. Tak ingin melajutkan percakapan yang hanya akan membuat hatinya semakin sakit.
"Itu kamar buat lo" ucap Leo menunjuk kesalah satu kamar. Tanpa mengatakan apapun Anna langsung masuk kesana.
Didalam kamar Anna membaringkan tubuhnya diranjang. Merasakan bertapa sakit tubuhnya. Dan juga hatinya.
Namum tiba tiba Anna mengingat satu hal. Ia harus mengabari keluarganya, atau mereka akan khawatir. Anna buru buru keluar dari kamar dan mencari keberadaan Leo.
Tak sengaja mata anna menemukan beberapa bingkai foto disana. Foto leo dengan alice Anna langsung mengalihkan pandangannya. Ia tak mau melihat foto foto itu lagi. Sudah cukup apa yang ia rasakan hari ini.
Namun jika dilihat, Anna berfikir pasti hubungan Leo dan alice tak main main. Hubungan mereka sudah lama terjalin. Setelah leo dijodohkan bahkan sudah bertunangan dengan Anna, alice masih memilih bertahan dengan Leo. Pasti ini juga berat untuk alice.
Sejak tadi Anna menganggap seakan alice adalah orang ketiga dihubungannya dengan Leo. Namun kenyataannya adalah dirinya yang menjadi orang ketiga. Meskipun Anna tak tau akan hal itu. Jika Anna sudah tau hal ini dari awal, ia akan menolak perjodohan ini. Dan mencoba mengikhlaskan Leo. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Anna harus menerimanya.
Menerima hubungannya dengan Leo yang dilandasi oleh keterpaksaan dan juga dikelilingi oleh sosok alice.
Anna melihat pintu sebuah ruangan sedikit terbuka. Dan lampu didalam ruangan itu juga menyala. Anna berjalan mendekati ruangan itu yang ternyata adalah sebuah kamar.
Saat Anna membuka pintunya lebih lebar, Anna dapat melihat Leo tidur dibalik selimutnya.
"Kak.." panggil anna pelan. Namun tak ada sahutan. Akhirnya anna memutuskan untuk masuk meskipun dengan perasaan was was.
Namum bertapa terkejutnya Anna saat melihat wajah pucat Leo yang tengah tertidur. Bulir bulir keringat juga menghiasi wajahnya.
"Kak leo.." panggil anna lagi sambil memegang dahi Leo.
Ternyata Leo sedang demam. Buru buru Anna keluar dan mengambil baskom dan handuk kecil untuk mengompres Leo.
Anna melakukannya dengan sangat telaten. Saat Anna akan beranjak dari duduknya tiba tiba tangannya dicekal oleh Leo.
"Tadi mau ngapain kesini?" Tanya leo dengan suara seraknya. Bahkan matanya juga masih terpejam.
"Emm itu, mau pinjam charger. Ponsel aku mati, aku mau hubungin keluargaku biar ga khawatir"
Perlahan Leo membuka matanya. Kemudian dengan arah matanya Leo menunjukkan dimana letak charger ponselnya. Anna langsung mengambilnya dan mencharger ponselnya. Setelah ponselnya hidup banyak sekali notif yang masuk. Terutama dari Leo dan Thunder. Anna buru buru mengirimkan pesan kepada thunder dan juga mommynya agar tidak mengkhawatirkan dirinya.
Setelah mengabari Thunder dan mommynya, gladys kembali duduk di pinggiran ranjang Leo Memperhatikan pria itu dalam diam.
"Ga usah dilihatin kayak gitu kali ann" ucap leo meski pelan namun ketus. Membuat anna terkejut. Bahkan pria itu masih memejamkan matanya.
"Em kalau gitu aku ke kamar aja ya. Chargernya aku bawa boleh?"
"Nggak" Anna mengerucutkan bibirnya.
"Pelit amat" guman Anna.
"Gue denger"
Anna menghela nafasnya. Ia hanya diam disana. Tak tau harus melakukan apa. Hanya sesekali mengecek suhu tubuh Leo di keningnya. Sebenarnya dirinya sangat lelah dan ingin istirahat.
"Tidur ann" ucap Leo lagi, masih dengan mata terpejam.
"Iya" balas anna. Gadis itu akan beranjak dari duduknya namun Leo kembali mencekal tangannya.
"Disini sama gue" ucap Leo tiba tiba dan kini sudah membuka kedua matanya. Anna tekejut.
"Gue ga bakal macem macem. Janji" tambah leo Tatapan pria itu begitu sayu. Membuat anna tak tega.
Akhirnya Anna menurut. Leo menggeser tubuhnya untuk memberikan Anna tempat.
Anna membaringkan tubuhnya di sebelah Leo dengan posisi memunggunginya. Baru saja Anna akan memejamkan matanya namun ia meraskan tangan Leo melingkari diperutnya.
"Biarin kayak gini" ucap Leo di telinga Anna.
Tubuh Anna meremang saat merasakan hembusan nafas Leo di lehernya. Namun karena mendengar deru nafas teratur yang menandakan leo tertidur membuat anna tenang. Rasa nyaman menyelimuti diri Anna.
__ADS_1
Perlahan ia juga ikut memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpi. Biarlah mereka seperti ini malam ini. Karena tak ada yang menjamin jika hal seperti ini akan terulang kembali.
Biarkan Anna merasakan kenyamanan berada didekat Leo. Berada didekapan tulus Leo. Dan biarkan Leo melupakan batasannya. Malam ini ia hanya ingin bersama Anna. Mendekap gadis itu dengan erat. Dan merasakan kenyamanan bersama.