Arranged Marriage

Arranged Marriage
Rasanya mau copot


__ADS_3

Dan sejak perdebatan antara anak dan orangtua itu terjadi, sejak itu pula Raga berpikir dengan keras. Ia tidak bisa mencintai istrinya, bagaimana cinta bisa dipaksakan? Akhirnya ia memutuskan untuk tidak pisah ranjang dengan Anin, itu sebabnya kemarin Raga memaksa Anin untuk tidur bersamanya tapi tetap pada komitmen awal, tidak akan melakukan apa - apa.


***


"Tuan, tuan Raga, anda kenapa? Apa anda baik - baik saja? Tuan!" Anin menggoyang - goyangkan bahu Raga yang sedari tadi melamun.


"Ada apa? Berani sekali daritadi kau menyentuhku. Sedang mencari kesempatan ya." ejek Raga.


Apa? astaga aku ingin menghilang saja rasanya dari bumi, kenapa sialan ini benar - benar kepedean sekali. Anin.


"Apa? tidak sama sekali, tolong waras lah sedikit saja tuan! Tuan tadi melamun, saya sudah memanggil - manggil nama tuan, tapi tuan malah tidak merespon." entah keberanian itu datang dari mana sehingga membuat Anin bisa berbicara seperti itu.


"Apa? Kau menghinaku? Kau pikir aku tidak waras!" suara Raga terdengar sangar di telinga Anin.


Astaga mulutku ini kenapa tidak bisa mengontrol.


"Haha, tidak tuan saya hanya bercanda. Mana mungkin anda tidak waras. Anda sangat waras sekali." masih sempat - sempatnya tertawa, padahal tangannya sudah dingin.


Bodohnya aku! Anin.


"Em ayo tuan, kita jalan - jalan lagi." Anin lagi - lagi mencoba mencairkan suasana.


Mereka berjalan mengelilingi taman kecil itu, tiba - tiba pandangan Anin terfokus pada suatu hal yang membuatnya berhenti. Dia melihat sesuatu.. aaa gerobak es krim. Tertera es krim dengan rasa favoritenya disana, belgium coklat chips. Es krim paling enak yang pernah ada, ia meneguk liurnya.


Aa aku mau itu, tapi aku tidak bawa uang sama sekali, hiks. Anin.


Raga yang melihat Anin berhenti berjalan ingin meneriakinya, tetapi saat ia mengikuti arah pandangan mata Anin, matanya juga terfokus pada hal itu.


Sepertinya, dia mau makan eskrim itu. Raga.

__ADS_1


"Hey, cepatlah! Kenapa melamun disana." Suara Raga menyentak telinga Anin, membuat gadis itu berlari menghampiri suaminya yang sudah berjalan jauh.


"Maaf tuan, tadi saya melamun. Ayo tuan, kita pergi." ajak Anin.


"Duduklah disana dulu, aku mau kesana sebentar." Raga menunjuk kursi bersantai di dekat sebuah pohon besar menyuruh Anin untuk duduk disana. Lalu menunjuk ke arah jalan raya tepatnya arah penjual es krim tadi. Tapi sayang Anin tidak memperhatikan.


"Kenapa tuan, tuan mau meninggalkan saya sendiri disini? Saya mohon jika tuan mau membuang saya, setidaknya buang saja saya di jalan raya. Itu lebih baik ketimbang saya berada disini, saya tidak tahu daerah ini tuan." Anin membuat asumsi nya sendiri dan menahan tangan Raga yang hampir beranjak dari tempatnya.


Sudah tidak waras apa gadis ini. Aku ketahuan berkencan dengan kekasihku saja sudah kena marah. Apalagi aku meninggalkannya disini. Bisa - bisa ayah mengusirku juga dari rumah. Nanti dia pasti mengadu yang tidak - tidak kepada Ayah dan Ibu. Raga.


"Memangnya siapa yang mau membuangmu?" tanya Raga.


"Oh salah ya? Ya sudah tuan, saya akan menunggu disini." Anin mengembangkan senyumannya.


Sial, mengapa dia manis begitu jika senyum. Raga.


Raga tidak menyahut dan langsung pergi meninggalkan Anin yang sudah duduk manis di kursi itu sembari mengeluarkan handphone nya. Ia mengambil beberapa foto selfie dirinya sendiri.


***


"Makanlah." Raga menyodorkan sebuah es krim kepada Anin sesaat setelah ia membelinya tadi.


Aaa tuan Raga! Bagaimana anda bisa tahu kalo saya menginginkan ini. Eh tunggu dia juga membeli es krim kesukaanku. Apa jangan - jangan dia tahu aku menyukai ini. Ah, bodoamat lah yang penting ini nikmat sekali. Anin.


"Terimakasih, tuan." Lagi - lagi Anin menunjukan senyuman manisnya kepada Raga dan menggeser tubuhnya agar Raga bisa duduk di sebelahnya.


"Tuan apa anda tidak mau? Mengapa anda hanya membeli satu. Untuk anda sendiri mana?" Anin yang tidak melihat Raga membawa sesuatu mulai memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku sedang tidak ingin." jawab Raga sekenanya.

__ADS_1


"Oh baiklah."


Anin masih menikmati es krim nya yang hampir habis di samping Raga yang sedari tadi memperhatikannya, membuatnya sedikit salah tingkah.


"Kenapa anda melihat saya seperti itu!" Anin yang risih akhirnya membuka suara.


"Kau seperti anak kecil." Ucap Raga.


Hah, aku? memangnya kenapa? apa ada yang salah. Anin.


Melihat Anin yang hanya menatap nya dengan kebingungan, Raga langsung mengambil sapu tangan dari sakunya dan memberikannya kepada Anin.


"Ambilah." ucap Raga.


"Eh, untuk apa?" jawab Anin.


Entah sadar atau tidak, Raga tiba - tiba mengarahkan sapu tangan di tangannya ke mulut Anin, dan membersihkan sisa es krim di mulutnya itu dengan perlahan. Dan hal itu sukses membuat pipi Anin memerah merona.


Astaga jantungku! Bertahanlah sebentar ya jantung, aduh rasanya mau copot ini. Kenapa sialan ini menjadi aneh tiba - tiba. Membuatku takut saja! Anin.


"Sudah." ucap Raga dengan santai, lalu ia kembali memasukkan sapu tangan itu ke sakunya. Ia melihat Anin yang masih menatapnya sambil ternganga.


"Kenapa memandangiku seperti itu!" Raga mengejutkan Anin.


"Eh, em, aa, ish. Eh tidak tuan maksud saya maaf saya em eh terima kasih tuan." Anin terdengar gugup sekali sehingga kata - kata yang terucap dari mulutnya terdengar sedikit tidak jelas. Tetapi Raga masih bisa memahami apa yang ia ucapkan. Ia terlihat tersenyum tipis.


Eh aku tidak salah lihat, kan? dia tadi senyum, kan? Aa kenapa manis sekali. Anin.


***

__ADS_1


Terima kasih yang sudah baca, jangan lupa like dan votenya ya! oh ya jangan lupa kunjungi juga novel terbaru author ya judulnya menikahi pangeran tampan, baru aja rilis. Semoga suka dan dapat diterima dengan baik. Terimakasih.


Dewintha.


__ADS_2