Arranged Marriage

Arranged Marriage
Ikut saja


__ADS_3

Mereka bertiga sudah memilih - milih baju di sebuah butik yang cukup terkenal. Entahlah, padahal Anin bukanlah wanita yang suka boros dan menghambur - hamburkan uang. Tetapi, ia melakukan ini semua agar tujuan nya tercapai. Ya, tujuan utama nya. Diceraikan Raga.


"Eh ayo cepat dipilih bajunya. Nggak usah sungkan ya sama aku. Kalian cari - cari aja lagi." ucap Anin saat di sela - sela memilih bajunya dan melihat saudara kembar itu hanya memperhatikan Anin memilih baju tanpa memilih baju mereka.


"Ehm, tidak usah nona. Baju di rumah juga masih banyak. Baju - baju disini terlalu mahal untuk kami nona." Mereka berdua merasa tidak enak dengan Anin.


"Hey, kenapa kalian merasa tidak enak seperti itu? Aku yang akan membayar semua tagihannya. Aku tidak mau kalian menolak ini. Cepat pilih lah, ini perintah tau. Awas aja kalian nggak milih ya!" Anin terpaksa memaksa mereka dengan nada mengancam seperti yang biasa dilakukan Raga jika Anin tidak menuruti permintaan nya.


"Ba- baik nona, terima kasih banyak." sahut mereka berdua.


Awalnya mereka hanya memilih satu baju, satu orang. Karena merasa tidak enak terlalu dimanjakan majikan mereka seperti ini. Anin yang melihat saudara kembar yang menurutnya terlalu tidak enakan itu kembali mengambilkan tiga dress, dua celana dan dua baju untuk masing - masing dari mereka. Anin membawa semua baju mereka menuju kasir pembayaran. Riana dan Riani menatap majikan mereka itu dari pintu depan butik itu.

__ADS_1


"Kak, aku merasa tidak enak dengan nona Anin. Dari tadi, nona memaksa kita membeli barang - barang mahal ini. Aku takut jika ketahuan nona Luna dia akan memarahi kita. Nona Luna kan, tidak pernah menyukai orang miskin seperti kita, hiks. Padahal tadi saat nona Anin menyuruhku untuk memilih, aku sudah memilih dengan harga paling murah, itu pun lumayan mahal bagi kita, lima ratus ribu hanya sebuah dress saja. Tapi, nona malah memaksa ku untuk mengambil lebih banyak lagi. Bahkan mungkin belanjaan kita lebih banyak daripada milik nona." ucap Riani.


"Sama, kakak juga dek. Tapi, mau gimana lagi, kita juga tidak bisa kan menolak permintaan nona Anin. Nona begitu menggemaskan, kakak tidak tega menolaknya." jawab Riana yang juga bingung dengan kebaikan hati majikan mereka itu.


"Sama kak, aku juga." Mereka berdua masih memperhatikan Anin yang sibuk membayar tagihan di kasir sembari memikirkan apa yang nanti akan terjadi.


***


"Iya nona." mereka berdua hanya mengiyakan saja. Ikuti saja apa kata nona, pikir mereka.


"Kalian ingin makan apa?" tanya Anin lagi, entah mengapa ia merasa kedua pelayan nya ini terlihat lebih tegang daripada sebelumnya.

__ADS_1


"Kami, kami ikut nona saja, nona." ucap mereka berdua.


Ada apa dengan mereka? Anin.


"Oh iya, kalian setelah makan ingin berbelanja apa lagi? biar aku yang membayarnya, kalian tenang saja." tanya Anin kembali.


"Kami tidak ingin apa - apa, nona."ucap mereka sungkan.


Anin yang mulai jengkel dengan kedua pelayan nya ini mulai emosi.


"Huft, kalian ini dari tadi aku tanya jawabannya hanya terserah terserah saja. Kenapa kalian tegang sekali begitu? Kalian itu teman ku. Anggap saja aku teman kalian saat diluar seperti ini, ya. Ingat itu!" Anin memarahi mereka yang menurut nya terlalu kaku sekali.

__ADS_1


Kami takut, nonaaa. Riana.


__ADS_2