
Matahari terlihat menampakan sinarnya menembus kaca jendela di dalam kamar itu. Anin yang merasa kesilauan mencoba membuka matanya yang masih mengantuk berat karena hanya tidur empat jam. Tapi, saat Anin mencoba untuk beranjak dari tempat tidur ia merasakan ada sesuatu yang berat menempel pada perutnya.
Astaga kenapa dia tidur memelukku seperti ini.
Anin langsung menutup mulutnya yang hampir berteriak karena terkejut melihat Raga yang dengan nyenyaknya tidur sambil memeluk tubuhnya. Lalu, ia melepaskan tangan Raga dengan perlahan dari tubuhnya dan segera beranjak untuk pergi ke kamar mandi.
***
"Kemana dia?" Raga yang baru saja bangun langsung mencari Anin.
Atau jangan - jangan dia lupa jika sedang aku hukum untuk tidak keluar rumah? Raga.
Tidak lama Raga melihat Anin yang baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung memanggilnya.
"Hey, kamu! Cepat kemari!" Raga menjentikkan jarinya.
Huh ada apa lagi. Apa dia lupa semalam tidur sambil memelukku.
Anin berjalan menghampiri Raga yang masih berada di tempat tidur.
"Ada apa lagi?" tanya Anin dengan malas.
"Kamu tidak lupa kan dengan yang ku katakan kemarin?" tanya Raga.
Yang mana? Kau mengatakan banyak hal kemarin tuan! Anin.
"Iya." jawabnya singkat.
"Baguslah, sekarang siapkan air mandi ku!" perintah Raga.
"Iya."
Anin menyiapkan air mandi Raga sambil melamun mencoba mengingat - ngingat kembali hal apa saja yang dikatakan Raga kemarin.
__ADS_1
Astaga bodohnya aku! Kenapa jadi tidak ingat!
"Huh, aku harus menghubungi Ella dan Rahma, lelaki itu memang suka semaunya." Anin beranjak keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya di atas nakas. Tepatnya di samping tempat tidurnya malam tadi.
"Saya sudah menyiapkan air mandi, cepatlah bersiap anda harus bekerja kan?" perintah Anin.
"Aku tidak bekerja." ucap Raga.
"Kenapa? kenapa anda tidak bekerja? harusnya anda bekerja saja, saya kan tidak bekerja juga hari ini." suara Anin terdengar memaksa.
"Aku tidak mau." singkat Raga.
Ketika Anin hendak mendebatnya lagi, Raga bersuara kembali.
"Aku ingin mengajakmu jalan - jalan." ajak Raga.
Apa? terkena angin apa dia, ingin mengajakku jalan. Sebenarnya apa yang terjadi, ini belum seminggu tapi dia sudah berubah.
"Untuk apa? Saya tidak mau." tolak Anin.
"Lebih baik anda pergi bekerja saja. Saya kan juga bisa kabur tanpa sepengetahuan anda." Anin menggigit bibirnya yang keceplosan.
"Apa katamu? Kamu mau kabur! Sepertinya kamu benar - benar ingin melihat keluargamu jatuh miskin ya." ucap Raga sinis.
"Tidak tuan, saya hanya bercanda. Maaf." jawab Anin sambil memegang kedua telinganya dengan tangannya.
Sial! kenapa dia jadi imut begitu. Raga.
"Awas, aku mau mandi."
"Eh iya baiklah tuan. Apa anda ingin saya menyiapkan pakaian anda tuan?" tanya Anin dijawab oleh anggukan kepala oleh Raga.
***
__ADS_1
"Tuan kita ingin kemana sebenarnya?" kesekian kalinya Anin bertanya sesaat setelah mereka pergi tadi.
"Jangan terlalu banyak bicara!" jawab Raga ketus.
"Maaf, saya hanya penasaran." sesal Anin.
"Nanti kamu akan tahu." jawab Raga yang tak merubah pandangannya dari arah depan.
Aaaaa, tuan Raga! tapi, mengapa dia baik sekali padaku? Ah sudahlah, aku tidak perduli. Intinya, aku senang sekali berada disini.
Mereka terlihat keluar dari dalam mobil berjalan beriringan menuju sebuah kawasan yang lumayan ramai pengunjung. Apalagi jika bukan, taman bermain dilengkapi dengan wisata bebek air. Seumur hidup, ini pertama kalinya Anin mengunjungi taman ini. Karena selain biaya masuk yang cukup mahal, dulu ia juga adalah seorang pekerja keras, tidak ada istilah hari libur dalam hidupnya, dan jujur ia sangat senang sekali diajak suaminya itu mengunjungi taman ini.
"Ini, ini indah sekali, terimakasih ya tuan anda sudah berkenan membawa saya ke tempat ini. Anda tau, ini pertama kalinya saya pergi ke tempat ini."
Apa? pertama kalinya? sebenarnya apa yang ia lakukan seumur hidupnya sampai - sampai ke taman saja tidak pernah.
"Tuan, ayo kita kesana. Ayo kita naik itu tuan. Aku penasaran sekali, biasanya aku hanya melihat di televisi saja." ucap Anin sembari menarik tangan Raga menuju sebuah wisata di pinggir danau yang luas. Raga hanya mengikutinya.
"Tuan, apa saya boleh naik ini?" tunjuk Anin kepada sebuah wisata bebek air di samping mereka.
"Terserah padamu." jawab Raga.
"Ayo tuan, kita naik bersama - sama. Ayo tuan." ajak Anin terdengar memaksa.
"Tidak, aku akan menunggu disini, kau saja." tolak Raga.
"Mengapa begitu? Anda pasti belum pernah juga kan tuan naik wisata ini. Ayolah temani saya tuan." Anin masih berusaha membujuk suaminya yang terlihat kaku ini.
"Huh, kau ini! Sudah berani memaksaku." ketus Raga.
"Eh, em maaf tuan." Anin yang tersadar akan perilakunya mulai melepaskan tangan Raga yang tadi tidak sengaja ia tarik dan menundukan pandangannya. Raga terlihat tersenyum tipis.
***
__ADS_1
Sudah hari senin, jangan lupa like dan vote nya readers!