Arranged Marriage

Arranged Marriage
Manisnya


__ADS_3

Kenapa dia gugup begitu melihat ku? Raga menyunggingkan senyum di satu sisi bibir nya sembari menatap Anin yang masih terlihat gugup.


"Apa? siapa tadi?" tanya Raga terdengar sedikit memaksa.


"Dia, dia, ehm maksudnya tadi adik ipar Danu mengatakan bahwa ayah dan ibu sudah menunggu untuk sarapan bersama di bawah." jelas Anin.


"Oh begitu, ya sudah. Ayo kita pergi ke bawah." entah ada jin apa yang merasuki Raga, sejak mereka berlibur hari itu, sifatnya berubah drastis, menjadi aneh dan sedikit baik sih.


Anin menganggukan kepalanya menurut akan suaminya dan segera beranjak pergi ke meja makan.


***


"Anin, Raga. Kalian sudah sampai? Ayo kita sarapan bersama." hati ibu serasa berbunga - bunga pagi ini saat melihat putra sulungnya tadi turun sembari menggandeng rapat tangan istrinya.


"Nak, antar lah istrimu ke toko kue nya nanti ya. Kamu tidak keberatan kan?" pinta ibu di saat mereka sedang makan dalam keheningan membuat Anin hampir tersedak.

__ADS_1


"Pelan - pelan makan nya, nak." lagi - lagi ibu menuangkan air untuk Anin dan membuat semua orang terkejut tetapi mereka tidak menampakannya.


"Eh, ehm tidak perlu repot - repot bu Anin bisa naik ojek saja. Anin biasa seperti ini." Belum selesai Anin berbicara Raga pun ikut menimpalinya.


"Iya bu, aku akan mengantarkan nya." jawaban singkat Raga seketika membungkam mulut Anin, terlihat senyum tipis di wajah ayah, ibu, dan Danu. Tapi tidak dengan Luna. Gadis itu terlihat meremas garpu dan sendok di tangan nya.


Dasar tidak tahu diri. Luna.


***


Sudah satu minggu terlewati sejak kejadian mereka pergi bersama yang lalu. Anin dan Raga terlihat semakin akrab saja. Walaupun mereka masih tidur pisah kamar. Akan tetapi, Raga selalu mengantarkan Anin sebelum ia pergi berangkat ke kantor nya. Tidak ada rasa keberatan pun terlihat di wajahnya. Anin sempat bicara pada Raga bahwa Ia tak perlu repot - repot lagi, Anin akan pergi menggunakan ojek secara diam - diam. Tetapi Raga menolak dan marah pada Anin. Alhasil Anin tak mampu lagi untuk berbicara ataupun menolak.


"Apa kamu bisa memasang dasi?" tanya Raga yang pagi itu menghampiri kamar Anin tanpa mengetoknya dan melihat istrinya itu tengah duduk santai dan menyandarkan tubuhnya di atas kasur sembari membaca majalah.


"Bisa tidak ya? Saya tidak tahu juga, memangnya kenapa?" malah balik nanya.

__ADS_1


"Ehm, tidak. Aku hanya kesulitan memasangnya. Aku baru membeli dasi ini kemarin, mungkin agak licin. Soalnya dari tadi simpulnya selalu mengendur." jawab Raga.


"Oh begitu. Ya sudah tuan, kemarilah biar saya coba membantu anda." jawaban Anin seketika membuat Raga refleks menggerakan tubuhnya menghampiri istrinya itu.


Anin dengan perlahan dan telaten memasangkan dasi Raga hingga membuat jarak di antara mereka hanya beberapa senti saja. Raga pun bisa melihat dengan jelas wajah cantik istrinya ini. Bulu mata nya yang lentik dan panjang, alis tebal nya dan bibir nya yang merah merekah. Entah kenapa ada sedikit rasa mengganjal di dalam diri Raga. Seperti perasaan...


"Sudah, begini kan?" Suara Anin memecah keheningan yang semula terjadi tadi, Ia sudah menjauh dari tubuh Raga. Sebenarnya ia tahu jika dari tadi suaminya itu memperhatikannya memasang dasi. Entah mengapa ada sedikit debaran di hatinya.


Astaga pagi - pagi seperti ini tuan Raga sudah membuat jantung ku hampir copot. Anin.


"Iya, terima kasih ya. Maaf merepotkanmu." ucap Raga diselingi senyum mengembang di bibirnya.


Aaa tuan Raga manisnya. Jika anda tidak cuek seperti biasanya dan selalu seperti ini mungkin sudah banyak wanita bersaing mendapatkanmu. Apalagi anda kaya, siapa yang tidak mau? Eh aku tidak mau sih. Anin.


"Tidak merepotkan tuan. Senang bisa membantu anda." balas Anin sembari senyum tak kalah lebar dari suaminya.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan vote nya ya, terima kasih yang sudah setia menunggu author up. Banyak cinta untuk kalian semua :D


__ADS_2