Arranged Marriage

Arranged Marriage
Menghancurkan harapan semua orang


__ADS_3

"Kamu mikirin apa?" Tanya Anin saat melihat Raga hanya diam dan tidak berbicara apa - apa setelah mengakhiri telepon nya dengan Luna beberapa saat tadi.


"Tidak ada." Jawab Raga singkat dan Anin langsung mengerti bahwa suaminya itu sedang memikirkan kata - kata Luna tentang Ufa yang menyusul mereka ke Italia.


"Ehm, sayang bagaimana kalau besok siang kita kembali saja ke Indonesia?" sebenarnya Anin ragu untuk mengatakannya, tetapi ia tidak bisa melihat suaminya jadi overthinking seperti itu.


"Apa maksudmu?" Tanya Raga yang langsung mengerutkan kedua alisnya. "Kamu mau pulang?" Lanjutnya, suaranya sudah tidak enak di dengar.


"Ehm, sayang dengarkan aku dulu. Kita masih bisa pergi lagi nanti, karena keadaan nya tidak memungkinkan untuk saat ini jika kita masih berada di Italia." Anin mencoba berbicara selembut mungkin seraya mengelus lengan Raga.


"Hhh Anin aku benar - benar minta maaf kepadamu." Raga berbicara sembari merebahkan diri di atas paha Anin dan menelungkupkan wajahnya di perut istrinya itu.


"Tidak ada yang perlu minta maaf dan memaafkan, lebih baik kita tidur saja sekarang ya." Anin membantu Raga berdiri dan mengajaknya tidur di ruangan terbuka itu.


***

__ADS_1


Sudah satu jam yang lalu tapi Anin masih belum memejamkan matanya, sementara Raga sudah tertidur sembari memeluk tubuhnya dengan pulasnya, ia beranjak dari kasur perlahan agar tidak membangunkan suaminya itu.


"Aku benar - benar merasa tidak nyaman akhir - akhir ini, aku harus melakukannya." Anin mengambil sesuatu di dalam tas nya dan pergi ke toilet terdekat.


"Aku harus mencobanya, apapun hasilnya nanti setidaknya aku akan lega." Ucapnya pada dirinya sendiri sembari menggenggam sebuah alat tes kehamilan.


Anin mencoba mengikuti petunjuk penggunaan barang itu, ia cukup pandai menggunakannya.


"Apa ini akan berhasil?" ucapnya.


Setelah sepuluh menit menunggu, nampak ada dua garis merah di tespek itu, tapi warnanya tidak terlalu terang, tapi tetap saja itu membuat Anin gemetar tak karuan.


Sebelum ia pergi berbulan madu, Luna dan Ella sempat mendatanginya di kamar untuk berbincang - bincang sebelum melepas kakak mereka.


"Kakak, bawalah ini bersamamu, jika kakak merasa mual atau ada gejala cobalah tes menggunakan tespek ini." Ella menyodorkan tiga buah tespek sekaligus kepada Anin, tetapi wanita itu menolaknya.

__ADS_1


"Kakak ipar jangan menolak, apapun hasilnya setidaknya kita sudah mencoba." Luna mencoba meyakinkan kakak iparnya tersebut.


"Ada petunjuk penggunaan nya di belakang bungkus itu, ikuti saja aturannya." Ucap Ella lagi.


"Aku takut mencobanya, aku takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi kalian semua." Anin menundukan kepalanya, air matanya hampir menetes.


"Kakak jangan takut, jika memang sudah waktunya pasti kakak akan mendapatkannya." Ucap Luna lagi.


Anin tidak bisa menyangkalnya, mungkin seluruh keluarga nya mengharapkan hal ini kepadanya, apalagi pernikahan mereka sudah menginjak bulan ke tujuh bulan ini.


"Baiklah kakak akan membawanya, terima kasih banyak." Anin tersenyum tulus kepada kedua adiknya.


Flashback berakhir.


"Aku sudah menghancurkan harapan semua orang." Anin terduduk di dalam toilet itu sembari memandangi alat tes kehamilan yang menampilkan dua garis tapi satu garisnya pudar, lalu ia mencoba tersenyum dan segera beranjak keluar toilet. Ia menyimpan tespek itu ke dalam tas nya dan pergi untuk tidur lagi.

__ADS_1


***


Jangan lupa like, komen dan vote nya yaa, aku akan update pelan - pelan ya soalnya kalo aku maksa update nanti ceritanya jadi ngawur🥲terimakasih banyakk yang udah support, semoga sehat selalu.


__ADS_2