
"Biar kami bantu membawa nya, nona." Riana dan Riani mencoba menawarkan diri untuk membawa barang - barang belanjaan Anin.
"Eh tidak usah, aku tidak ingin merepotkan kalian." ucap Anin kembali.
"Jangan nona. Nona hari ini sudah banyak sekali mentraktir kami. Ini juga sudah menjadi kewajiban kami, nona." Mereka mencoba membuat Anin mengerti.
"Hey kenapa begitu? sudahlah kalian pergi beristirahat saja. Kalian pasti lelah. Maaf ya aku merepotkan kalian hari ini menemaniku berbelanja." Anin merasa bersalah kepada kedua gadis di depan nya ini yang tampak sangat lelah.
"Tidak, nona. Ini sudah menjadi kewajiban kami." ucap mereka lagi.
Huft, mereka ini selalu berbicara kewajiban - kewajiban. Memangnya tuan Raga berapa sih meng gaji mereka. Sampai - sampai mereka menyebut kewajiban. Anin.
"Tidak sudahlah, ini sudah lewat dari kewajiban kalian. Kalian pergi beristirahat saja." ucap Anin sedikit memaksa.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas harinya nona." ucap mereka berdua.
"Terima kasih kembali. Ingat ya, kalau kita sedang jalan - jalan bertiga jangan terlalu sungkan kepadaku." tegur Anin kembali disambut anggukan kepala oleh Riana dan Riani.
"Selamat beristirahat, nona." ucap mereka lagi.
"Selamat istirahat juga untuk kalian." balas Anin dengan senyuman yang manis.
__ADS_1
Mereka baru saja pulang pukul delapan malam, Anin benar - benar menikmati hari ini hingga tidak menyadari ia pulang ke rumah sesudah Raga datang. Ia bingung sekali harus membuat alasan apa pada Raga nanti.
Rasanya aku ingin tidur di jalanan saja jika begini. Aku pasti nanti harus membuat alasan agar tuan Raga bisa memaafkan ku. Aduh, Anin kenapa jadi teledor begini sih. Anin.
"Aku harus menyiapkan mental. Dia pasti nanti memarahi ku. Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini, huft." Anin membuka pintu kamarnya.
Tidak ada siapapun di kamar Raga, ia lalu mengendap - endap masuk ke dalam pintu kamarnya yang terletak di sisi kiri dalam kamar itu.
Dia cerdas juga membuat desain kamar seperti ini, jadi tidak ada satupun keluarga yang tahu bahwa kami sebenarnya tidur terpisah. Hanya terlihat satu kamar disini. Padahal di dalam kamar ini ada satu kamar rahasia. Wah wah tuan Raga. Anda memang sangat cerdik sekali. Eh ngomong - ngomong kemana dia? Anin.
"Aku harus cepat - cepat pergi ke kamarku, sebelum ia melihatku pulang malam seperti ini." ucap Anin.
Tiba - tiba terdengar suara Raga dari sisi kamar mandi. Anin yang terkejut, menjatuhkan semua barang yang ada di tangannya dan memilih menundukan kepalanya.
Ya Tuhan bagaimana ini? Matilah aku. Matilah kau Anin. Anin.
Anin yang ketakutan tidak berani berbalik atau bahkan menoleh ke arah Raga yang terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Seperti biasa dengan dada telanjang dan handuk yang melilit pinggang nya.
Mengapa anda tidak pernah memakai baju ketika keluar kamar mandi sih, tuan?
"Hey, jika aku bertanya tatap wajahku!" Raga mulai geram karena Anin bahkan tidak menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Tu- tuan Raga, a- ada apa?" Anin terbata - bata menyahuti Raga, ia akhirnya berbalik tapi wajahnya masih menunduk ke bawah.
"Tunjukkan wajahmu!" tegur Raga.
Ya ampun, tanganku sudah basah. Anin.
"A- ada apa tuan?" tanya nya lagi.
"Kau tidak dengar apa yang ku katakan? tunjukkan wajahmu!" ulang Raga.
Anin berusaha mendongakan kepalanya, menatap mata Raga. Tidak berani melirik ke tubuh polos nya.
Aku gugup sekali. Anin.
"Kau sudah berani ya sekarang pulang larut malam seperti ini? Apa karena akhir - akhir ini aku terlalu baik padamu? Jadi kau memanfaatkan ku?" tanya Raga.
"Ti- tidak tuan. Tidak sama sekali. Maafkan saya tuan." Anin mengatupkan kedua tangannya.
"Aku akan memberikanmu hukuman!" ucap Raga.
Matilah aku! matilah kau Anin. Anin.
__ADS_1
***
Maaf untuk keterlambatan update. Jangann lupa like dan vote nya ya teman teman. Terimakasih.