
"Ibu, tuan Raga.. dia.."
"Em, ibu tuan Raga tidak ikut, tadi kakak pergi ke toko seperti biasanya dan katanya dia merindukanmu, oleh karena itu aku membawanya kesini bu." Ella yang melihat raut wajah gugup kakaknya langsung menimpali.
Ella, aku padamu. Anin.
"Oh begitu ya nak, ibu kira kamu diusir tuan Raga dari rumahnya, ibu takut sekali nak." Jawab Ibu, terlihat guratan kekhawatiran kepada putri sulungnya. Anin hanya tersenyum menanggapi.
Ibu aku baru saja merencanakan ingin kabur dari rumahnya, tetapi kau malah berkata seperti itu, aku jadi bimbang lagi, huft. Anin.
"Ayo kita masuk, nak. Kebetulan sekali ibu tadi memasak makan siang kesukaan kalian semua. Jamur krispi dengan sayur bening ditambah sambal yang pedas. Kamu pasti belum makan, kan?" tanya Ibu.
Glekk. Mereka berdua sama - sama meneguk liur.
"Aaa ibuu, tahu saja kami belum makan siang. Ayo bu aku sudah tidak sabar lagi, sudah lama aku tidak makan jamur krispi huhuu." Rengek Anin dan Ella.
Mereka pun makan bersama seperti biasanya, Roman akan makan siang di luar, anak itu biasa pulang sore dari kantor. Ia sekarang jarang sekali bisa makan siang bersama keluarganya. Eh, tetapi ngomong - ngomong dimana Ayah?
"Ibu, aku tidak melihat Ayah. Dimana dia bu? Apa Ayah masih berkeliling menjadi tukang sol sepatu?" tanya Anin yang tersadar sedari tadi tidak melihat Ayahnya.
"Oh Ayah, tadi ayah pergi sebentar ke rumah Pak RT, katanya semua kepala keluarga disuruh kumpul untuk merundingkan ronda malam. Karena sekarang sudah rawan pencurian." jawab Ibu.
"Pencurian?" Ella dan Anin sama terkejutnya mendengar penyataan dari ibu Pertiwi.
__ADS_1
"Iya nak, maka dari itu akan diadakan ronda malam bergantian setiap hari." Ibu.
"Oh begitu bu, baguslah jika begitu. Setidaknya kampung kita menjadi aman" jawab Anin.
***
Raga sudah sampai dirumah sejak jam empat sore tadi, tetapi ibunya bilang Anin belum pulang sejak daritadi. Sehabis makan siang tadi Ibu Faiza sempat mengirimkan pesan singkat kepada Anin.
Nak, kamu pulang dari toko jam berapa? ~Ibu Faiza.
Jam tiga sore bu. Tetapi, jika kue nya cepat habis maka Anin akan pulang sehabis makan siang. ~Anin.
Baiklah nak, kamu tadi pagi pergi naik ojek kan, nak? Kenapa kamu tidak bilang, kita memiliki banyak mobil dan supir, mereka bisa mengantarkanmu. ~Ibu Faiza.
Hehe, tidak apa bu. Anin sudah biasa. ~Anin.
Iya bu. ~Anin.
"Nak, kamu carilah istrimu, dia belum pulang sejak tadi siang! Apa dia tersesat? Atau jangan - jangan dia diculik nak." Ibu membuat asumsinya sendiri. Ia takut terjadi sesuatu kepada wanita yang telah menjadi menantu nya kemarin itu.
"Bu, dia tidak mungkin tersesat ataupun diculik. Kenapa ibu jadi terlalu mengkhawatirkannya seperti ini? Bahkan Luna pulang selarut malam pun, ibu tidak terlalu mencarinya." Raga merasa jengkel melihat perubahan drastis yang terjadi pada ibunya akhir - akhir ini.
Semua gara - gara gadis itu. Raga.
__ADS_1
"Ibu tidak mau tau, pokoknya sekarang kamu cari istrimu sampai dapat, jangan pulang jika belum ketemu!" Perintah Ibu.
"Apa! Malam - malam seperti ini? Yang benar saja bu! Aku tidak mau. Aku lelah sekali." tolak Raga.
"Raga.." Bu Faiza meneteskan air matanya mendengar penolakan Raga. Ia benar - benar khawatir terhadap menantunya itu.
Ya Tuhan, sungguh merepotkan sekali. Raga.
"Huft, yasudah aku berangkat dulu bu." Ucap Raga singkat.
"Berhati - hatilah nak. Jangan cari di rumah orangtua nya ataupun menelpon mereka. Nanti mereka menjadi khawatir dengan Anin." ucap bu Faiza.
"Baiklah bu."
***
Sudah dua jam Raga mengelilingi kota ini, ia sudah mencari Anin ke toko kue nya, tetapi Anin tetap tidak ada. Pasrah, Raga sempat melewati rumah mertuanya, walau Ibunya melarangnya. Tetapi Ia tidak melihat tanda - tanda keberadaan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Kemana gadis itu malam - malam begini. Raga semakin gusar.
Karena hari sudah semakin malam, Raga memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia lihat ibunya tertidur di ruang tamu menunggunya, lalu ia masuk ke dalam kamarnya mengambilkan selimut dan menyelimuti ibunya. Ia kembali ke kamar, berganti pakaian dan berendam air hangat yang sudah bercampur aromaterapi. Bertarung dengan pikirannya yang masih penasaran kemana istrinya pergi.
Kenapa aku jadi khawatir? Raga.
__ADS_1
***
Jika kalian suka cerita Raga dan Anin, jangan lupa vote dan like nya ya readers. Terima kasih banyak.