Arranged Marriage

Arranged Marriage
Tidak salah lihat


__ADS_3

Beralih dari tuan Raga yang kebingungan mengirim pesan balasan kepada istrinya. Anin masih mengikuti wanita yang ia rasa kenal tadi sembari sesekali bersembunyi saat wanita itu berbalik karena merasa ada yang mengikutinya.


Aku pasti tidak salah orang, aku yakin itu dia! Tapi sedang apa dia di kampung ini? Anin.


Anin terus mengikutinya hingga berhenti di suatu bangunan di tengah kampung. Ada banyak anak - anak disana. Mereka tidak memakai seragam atau membawa tas sekolah, mereka hanya memakai baju seadanya dengan sebuah plastik yang diikat sebuah tali hingga membentuk sebuah tas plastik.


"Sejak kapan ada sekolah di tengah - tengah kampung seperti ini? Dan kelihatannya sekolahnya sederhana sekali." ucap Anin yang masih bersembunyi di balik pohon besar di sekitar bangunan itu.


Tiba - tiba seseorang menepuk pundak Anin dari belakang dan membuat wanita itu terlonjak kaget lalu berpaling.


"Apa ada yang bisa saya bantu, nona?" Seorang wanita yang tampak lebih tua sedikit dari Anin itu sembari tersenyum ramah melihatnya.


"Eh, em maaf saya hanya ingin bertanya, apakah ini sebuah sekolah nyonya?" Tanya Anin gelagapan seperti baru tertangkap sedang memalingi sesuatu.


"Iya nona, ini adalah sekolah gratis yang dikhususkan untuk anak - anak jalanan dan pengamen yang tidak bisa bersekolah. Disini mereka belajar banyak hal, menulis, membaca, berhitung. Layaknya anak - anak seusia mereka pada umumnya." Ucap wanita itu.

__ADS_1


"Oh iya nona, perkenalkan nama saya Siska. Saya salah satu guru di sekolah ini." Ucapnya sembari mengulurkan tangan kepada Anin.


"Nama saya Anindira. Panggil saja saya Anin." Ucap Anin sembari menyambut tangan guru itu.


"Mari nona, saya antarkan melihat - lihat ke dalam." Ucapnya ramah, seakan tahu tujuan Anin mendatangi bangunan yang katanya sekolah gratis itu. Untuk mengikuti seseorang.


"Baiklah, dengan senang hati." Jawab Anin sembari mengikuti langkah guru itu.


***


"Ini adalah ruangan untuk kelas tiga, nona. Sekolah ini memang terlihat kecil jika dari jauh, tapi di dalamnya sangat luas." ucap bu Siska merasa bangga.


"Ehm, jika saya boleh tahu, uang untuk membangun sekolah ini berasal dari mana?" Tanya Anin penasaran.


"Oh tentang itu, ceritanya sangat panjang nona. Tapi intinya, sekolah ini dibangun atas dasar rasa kemanusiaan yang tinggi. Dan apa anda tahu? Sebenarnya sekolah ini dibangun oleh anak dari seorang konglomerat yang terkenal, tapi ia tidak ingin siapapun mempublikasikan namanya, katanya biarlah ini jadi rahasia diantara kami saja." Kata - kata guru itu sukses membuat Anin merasa penasaran dan terus memaksanya agar memberitahu siapa yang membangun sekolah ini.

__ADS_1


"Maaf nona, tapi saya benar - benar tidak bisa memberitahu anda." berulang kali sudah Anin memaksa guru itu, tetapi ia tetap teguh pendirian.


"Ya sudah, aku cari tahu sendiri saja." sahut Anin sembari berjalan menuju sekolah itu, tersenyum gembira melihat anak - anak yang berlarian kesana kemari walau tanpa baju sekolah seperti pada umumnya, mereka tetap terlihat bahagia.


"Nona, tunggu nona!" guru itu berlari ingin mensejajarkan langkahnya saat melihat Anin sudah mulai mendekati sebuah ruangan yang tampak sederhana namun sangat rapi, tetapi terlambat.


"Kakak ipar.." seorang wanita cantik nan muda memelototkan matanya saat keluar ruangan dan melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Aluna, kamu?" Anin tampak tersenyum santai sembari memperhatikan ekspresi terkejut adik iparnya itu.


Matilah aku, kenapa kakak ipar harus berada disiniiiii!????? Aluna.


"Ternyata aku tidak salah lihat.." Anin tersenyum.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote nya ya, lafyu all!


__ADS_2