
Malam sudah mulai larut, semua anggota keluarga sudah kembali ke kamar nya masing - masing setelah makan malam baru saja usai. Anin dan Luna juga sudah tiba sebelum makan malam. Seluruh keluarga dibuat kebingungan dengan keakraban mereka. Bagaimana bisa, bukankah Luna sangat tidak menyukai Anin, begitu pikir mereka.
"Kalian pergi kemana saja seharian ini, nak?" tanya ayah.
"Jalan - jalan biasa saja yah, aku hanya mengajak kakak ipar ke salon." jawab Luna dengan santai.
Raga tidak berhenti memperhatikan Anin sedari ia sampai tadi. Istrinya itu terlihat lebih cantik dan segar setelah Luna mengajak nya pergi ke salon hari ini.
Sepasang suami istri yang sudah mulai tampak rambut putih menutupi warna asli rambut mereka itu baru saja masuk ke kamar.
"Minumlah obatmu." ucap bu Faiza sembari memberikan beberapa kapsul obat kepada suaminya.
"Terima kasih." ucap tuan Malik seraya mengambil obat itu.
"Kau ini selalu saja lupa, nanti kalau aku tiada siapa yang akan membantumu?" tanya bu Faiza.
"Jangan berbicara sembarangan!" sembur tuan Malik, terlihat kerutan di sekitar pelipisnya.
"Kau akan tetap disini! bersamaku!" ucapnya lagi sembari memeluk istrinya itu.
__ADS_1
***
"kamu terlihat berbeda hari ini." Raga memulai percakapan sesaat setelah mereka baru saja memasuki kamar.
"Apa yang berbeda?" Anin menyahut, pura - pura tidak tahu.
"Kamu terlihat lebih cantik, dan.." suara Raga terhenti.
"Dan? dan apa?" tanya Anin kembali.
Raga mendekati tubuh Anin dan mendekatkan kepalanya ke telinga istrinya itu, dia membisikkan sesuatu.
"Ishh, jangan berbicara sembarangan, tuan! itu terdengar menggelikan sekali. Anda diam saja!" Anin memukul - mukul ringan dada Raga. Lelaki itu bukannya marah tetapi malah tertawa kencang sekali.
"Memangnya kenapa? hal seperti itu wajar saja. Itu pujian dari suami kepada istri." jawab Raga sembari mengulum senyum. Membuat wajah Anin tambah memerah semerah tomat karena malu.
Anin tak bergeming. Ia bingung ingin menyahuti apa. Hingga akhirnya Raga memulai kembali percakapan.
"Luna tidak mengganggumu, kan? apakah dia mengancam dirimu perihal sesuatu? jika iya ceritakan sejujurnya kepadaku!" Suara Raga terdengar seperti marah, tetapi sebenarnya tidak.
__ADS_1
"Ke- kenapa tuan bertanya seperti itu?" tanya Anin ragu.
"Memangnya kenapa? kenapa kamu terlihat gugup begitu? apa perkataan ku tadi benar?" tanya nya kembali.
"Hah, eh em maksud saya tidak tuan. Adik ipar Luna sangat baik sekali, dia mengajakku spa dan terapi lainnya di salon tadi. Katanya karena dia melihat diriku lusuh dan sangat tidak bersemangat sekali. Padahal sebenarnya aku biasa saja. Ya walaupun badanku rasanya sakit semua." jelas Anin.
"Kenapa badanmu bisa sakit semua?" tanya Raga yang mencoba menjahili Anin. Karena dia tahu bahwa Anin sangat malu membahas hal seperti ini.
"Apa? anda ini bagaimana? bukankah ini semua gara - gara tuan? anda jangan tidak mengaku ya, tuan!" jawan Anin kesal..
"Hahahaha, apa kamu mau lagi?" tanya Raga seketika membuat wajah Anin kembali memerah.
"Jangan macam - macam!" Anin memperingatkan.
"Memangnya kenapa? bukankah tidak apa - apa jika macam - macam dengan istri? kita kan sudah sah!" jawab Raga yang mulai semakin mendekati Anin. Anin merasa tidak baik, ia terjatuh di atas kasur saat menyadari bahwa tidak ada jalan untuk kabur.
Malam yang panjang kembali terulang..
***
__ADS_1
Hy guys maaf banget seminggu yang lalu gaada update, aku bener - bener banyak tugas banget🥺. Jangan pada lupa ya sama Anin dan Raga, terimakasih yang sudah setia menunggu cerita mereka. Jangan lupa like dan vote nya terimakasih💞