
Malam semakin larut, Anin dan Raga pun sudah sama - sama terlelap dalam mimpi indah mereka. Walaupun, berpisah kamar.
"Aduh, aku kebelet buang air kecil." Anin berbicara dengan suara pelan, ia benar - benar tidak tahan lagi. Tetapi saat Ia ingin masuk ke dalam toilet yang menyatu dengan kamar mandi di sebuah ruangan besar itu, tiba - tiba pintunya terkunci. Sepertinya ada orang disana.
Ya ampun, aku ingin berteriak saja rasanya tidak sanggup lagi. Pasti di dalam ada tuan Raga. Ketok nggak ya? Aduh aku malu banget kelihatan kebelet gini. Tapi nanti kalo aku ngompol disini gimana? Anin terduduk di depan ruangan itu sambil mengapit kedua kakinya agar tidak terkencing di celana.
Kenapa lama sekali, apa dia sedang bertapa di dalam!
Cegrek. Suara pintu mengagetkan Anin yang terduduk lemas menahan kencingnya, seseorang keluar dari kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
Sedang apa dia ni? Mengapa dia duduk di depan kamar mandi. Raga.
Raga yang melihat Anin terduduk dengan tertunduk sambil memegang perut menegurnya dan membuat gadis itu terkejut.
"Hei, kamu ini sedang apa?" Raga mengagetkan Anin.
Anin diam saja tidak menjawab perkataan Raga, dia masih duduk sembari menundukan kepalanya dan mengapit kedua kakinya. Lalu, dia mendongak menatap suaminya itu.
"Hah, kamu pakai nanya lagi! Aku kebelet kencing tau! Kamu ngapain sih di dalam kamar mandi lama banget? Bertapa ya?" Anin sontak berdiri mendengar suara Raga dan langsung menerobos tubuh Raga untuk masuk ke dalam toilet.
Ah, lega sekali. Astaga malunya aku, kenapa aku tadi berbicara seperti itu padanya. Dia masih diluar nggak ya? Aduh aku malu banget. Apalagi tadi aku melihatnya tidak memakai baju, astaga dia sungguh atletis sekali, aaa aku tidak kuat. Eh sadar Anin kamu ini bicara apa! Ingat pernikahan kalian hanya sekedar hitam diatas putih! Tidak didasari cinta! Anin.
Sudah dua jam Anin di kamar mandi, bahkan lebih lama dari Raga yang tadi hanya lima belas menit. Dia masih malu untuk keluar, bagaimana jika Raga menunggunya di luar, eh tapi mana mungkin.
__ADS_1
"Hei, kamu sedang apa di dalam! Sudah dua jam kamu masih di kamar mandi! Cepat keluar, aku ingin bicara denganmu!" Raga menggedor pintu kamar mandi itu dan membuat Anin terkejut.
Nah benarkan, dia menungguku. Dia pasti ingin penjelasan dariku tentang hal yang tadi, aduh bagaimana ini! Anin.
"Hei, jika kamu tidak keluar dari sana dalam sepuluh detik, maka aku akan mendobrak pintu ini." Suara peringatan dari Raga yang membuat Anin langsung keluar dari sana, bodo amat mau diapakan yang penting pintu toilet ini selamat, pikirnya.
"Ada apa!" Anin tiba - tiba keluar mengurungkan niat Raga untuk mendobrak pintu.
Lama Raga menatap mata Anin dan hampir membuat gadis itu salah tingkah.
"Aku ingin bicara denganmu!" Ucap Raga.
"Besok saja, ini sudah malam." Jawab Anin tanpa menatap mata Raga.
"Lepaskan! Kenapa kau membawaku kesini!" Tukas Anin.
"Kau masih ingat kan aku melarangmu untuk pergi keluar rumah dalam tiga hari kedepan." Raga memulai pembicaraan.
"Lalu?" Jawabnya tanpa menatap mata Raga.
"Jika aku sedang berbicara tatap mataku!" Raga mulai kesal dengan sikap Anin.
"Kenapa? Aku sudah tahu tentang itu! Tidak usah membahasnya lagi!" Jawab Anin.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mulai malam besok dan seterusnya, kau harus tidur denganku. Malam ini kubiarkan kau tidur di kamarmu terlebih dahulu." pernyataan yang dibuat Raga seketika membelalakan mata Anin.
"Kenapa! Bukankah kita baru menikah satu hari yang lalu! Kenapa kau mengubah semua rencana awal!" Anin tidak terima, ia benar - benar tidak mau harus tidur satu kamar dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Jangan banyak membantah!" Sahut Raga.
"Aku tidak mau." Jawab Anin.
"Kau harus mau! Titik!" Pernyataan yang dibuat Raga tidak sama sekalu membuat Anin goyah, ia tetap pada keputusannya.
"Aku tidak akan pernah sudi jika harus tidur bersama denganmu." Anin dengan cepat berlalu dari sana tetapi tangannya masih diraih Raga.
"Cepat ikut aku!" Raga langsung menarik tangan Anin menuju kamarnya dan melalui kamar Anin.
"Jangan memaksaku! Aku tidak mau!" Anin mulai meronta.
Raga sama sekali tidak mendengar rontaan dan ocehan Anin, Ia menarik Anin masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu. Anin mulai ketakutan
Sebenarnya apa maunya! Anin.
***
Maaf kemarin nggak up ya, insyaa Allah kalo ada waktu nanti double up nya, hehe. Terimakasih yang sudah mendukung jangan lupa like dan vote nya.
__ADS_1