Arranged Marriage

Arranged Marriage
A 6


__ADS_3

Jangan lupa vote, komen dan like


.


.


Happy reading


.


.


Diaz menaikkan pandangannya kepada


Thunder yang berdiri didepannya dengan nafas memburu. Diaz tau Thunder sedang marah, namun diaz tak tau apa yang baru saja terjadi. Namun dapat diaz simpulkan jika


Thunder baru saja terlibat perkelahian karena beberala lebam diwajahnya.


"Kenapa kamu?"tanya diaz sambil meletakkan laptop yang sejak tadi dipangku olehnya. Kemudian diaz bangkit dan mulai meneliti tubuh Thunder.


"Ada apa? Kenapa lebam lebam seperti itu? Kamu ada masalah sama siapa?"


Agatha yang datang ke ruang keluarga


membawa nampan berisi minuman untuk dirinya dan diaz benar benar terkejut ketika melihat putranya berantakan seperti itu.


"Thunder! Sayang kamu kenapa? Kok bisa kayak gini? Siapa yang ngelakuin ini ke kamu?" Tanya agatha bertubi tubi sambil membingkai wajah Thunder. Melihat luka luka diwajahnya.


"Leo" ucap Thunder. Diaz menaikkan sebelah alisnya sedangkan agatha langsung diam.


"Ada apa kali ini?" Tanya diaz dengan nada dingin. Ia tau kemana arah pembicaraan ini akan dibawa.


"Thunder bener bener ga setuju dan ga rela kalau anna dijodohin sama leo. Apalagi menikah"


"Kamu ini kenapa sih? Ga suka banget sama leo. Dulu kan kalian teman dekat"


"Itu dulu dad!! Sekarang enggak. Bahkan aku sangat menyesali pertemanan ku dulu dengannya setelah apa yang leo katakan soal anna" diaz menaikkan sebelah alisnya.


"Apa yang leo katakan?"


"Dia bicara seolah olah anna yang ngejar ngejar dia, seolah anna yang memohon mohon untuk perjodohan ini"


"Memang itu kenyataannya kak" saut


Anna yang tiba tiba muncul. Semua orang langsung melihat ke arah anna yang melangkah mendekati mereka.


"Yang dikatakan kak leo itu bener kak. Aku memang ga bisa move on dari dia. Dan memang selalu aku yang memohon sama kak leo untuk menerima perjodohan ini" ucap


Anna dengan mata berkaca kaca.


"Kenapa?" Tanya Thunder dengan dingin


"Karena aku cinta sama dia" kini air mata anna mengalir dikedua pipinya.


"Kamu sadar nggak? Belum apa apa aja , Leo udah nyakitin kamu apalagi...


"Aku tau kak leo emang selalu nyakitin aku sejak pertemuan ini. Tapi aku yakin suatu saat nanti kak leo akan kembali seperti yang dulu aku yakin"


Thunder hanya geleng geleng kepala saja. Anna benar benar keras kepala.


"Gimana kalau itu nggak pernah terjadi?"


"Pasti akan terjadi" ucap anna dengan yakin, membuat Thunder tersenyum miring.


"Bodoh kamu. Aku harap kamu ga akan menyesal nantinya" ucap Thunder kemudian pergi dar sana.


Anna, diaz dan agatha melihat ke arah Thunder yang berlalu menuju kamarnya. Sebenarnya, diaz juga mulai sedikit meragukan keputusannya untuk menjodohkan anna dengan leo setelah


mendengar perdebatan kedua anak anaknya itu. Namun disisi lain, ia tak ingin membiat anna kecewa. Jika anna saja yakin leo bisa berubah, kenapa dirinya tidak.


"Kamu yang sabar ya sayang"ucap agatha memeluk anna.


Anna membalas pelukan agatha sambil menangis didalam pelukannya. Dan hal itu mampu membuat hati anna sedikit membaik.


"Sekarang kamu istirahat aja ya" ucap agatha dengan lembut. Anna mengangguk.


"Iya mom"


Anna tersenyum pada agatha dan diaz kemudian berjalan menuju kamarnya. Didalam kamarnya Anna dapat mendengar dengan jelas jika thunder sedang menyetel musik dengan volume tinggi dikamarnya. Kebiasaan ketika pria itu sedang kesal. Meskipun genre musik yang thunder suka sama dengan Anna sama, namun jika cara


Thunder memutar musiknya seperti itu tetap saja mengganggu Anna yang bersebelahan dengan kamarnya. Dan itu sungguh membuat anna kesal.


"KAK BERISIK!! KECILIN NAPA! DIKIRA INI HUTAN APA? ADA MANUSIA JUGA DISINI!"


Thunder yang kebetulan sedang menyandarkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di sudut dinding pembatas kamarnya dengan anna pun bisa mendengar teriakan anna. Meskipun tak jelas namun thunder yakin gadis itu sedang marah. Thunder tersenyum jail. Ia semakin menaikkan volume musiknya. Bahkan agatha dan diaz yang berada di ruang tengah dapar mendengat musik itu.


Brak!!

__ADS_1


Tiba tiba pintu kamar Thunder terbuka lebar. Menampilkan Anna dengan wajah kesalnya. Dengan langkah kesal Anna mengambil sebuah remot disalah satu meja yang ada dikamar thunder. Gladys menekan sebuah tombol yang membuat musik itu berhenti.


"Telinga apa nggak sakit dengerin musik kayak gitu?" Thunder hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Thunder malah kembali menekan layar ponselnya yang membuat musik kembali berbunyi kemudian Thunder memejamkan matanya lagi. Anna tak habis pikir dengan telinga Thunder. Sekebal apa. Ia yang berada disini sebentar saja merasa ngilu.


Tak mau berdebat lagi, anna langsung mengarah pada tombol tombol yang berada di dinding dekat pintu kamar.


Anna menekan tombol mode kedap suara.Kemudian ia segera menutup pintu dan keluar dari sana.


Anna tersenyum senang saat tak lagi mendengar suara itu. Kenapa ia tadi harus susah susah marah seperti itu. Seharusnya langsung tekan tombol kedap suara dan beres.


Anna menghempaskan tubuhnya diranjang. Memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun tak lama kantuk datang dan ia pun terjun ke alam mimpi.


************


Anna terbangun ketika merasakan getaran di ranjangnya. Dengan mata masih mengantuk ia mencari penyebab dari getaran itu. Dan ternyata itu karena ponselnya yang berdering.


Anna terkejut ketika melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan singkat diponselnya. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah, itu semuanya dari leo. Tak pikir lama anna menelfon leo kembali.


"Halo kak ..." Anna langsung menjauhkan ponselnya saat suara bising langsung terdengar ketika sambungan diterima.


"Kak.. kak leo dimana? Kok berisik banget sih? Halo.."


"Halo.. ini anna ya? Eh lo bisa kesini nggak? Gue temennya leo, dia lagi mabuk di nightclub" anna membulatkan matanya saat mendengar pernyataan itu.


"Apa? Terus?" Tanya anna panik.


"Nanti gue jelasin. Yang penting lo kesini dulu, gue perlu bantuan lo"


"Oke. Tapi dimana alamatnya?"


"Gue share loc"


"Oke" Sambungan telfon terputus.


Anna sangat panik. Ia melihat le arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Anna bingung harus melakukan apa. Namun ia sangat ingin menjemput Leo, tapi ia takut datang kesana sendirian.


Drt drt


Ponselnya kembali bergetar. Ia melihat ada sebuah pesan dari leo yang pastinya dikirim oleh temannya tadi. Orang yang belum sempat memperkenalkan dirinya itu mengirimkan sebuah lokasi pada anna. Dan tempat itu benar benar night club.


Anna mempelajari alur perjalanan menuju tempat itu. Kemudian tanpa berpikir lagi. Anna langsung mengambil jaketnya kemudian keluar kamarnya dengan hati hati agar tak membuat kegaduhan.


Suasana di rumahnya sudah sangat sepi. Semua orang pasti sudah tidur. Anna memberanikan diri masuk ke ruang kerja diaz untuk mengambil kunci mobil yang ada di dalam laci ruangan itu. Semua kunci kendaraan pasti disimpan disana. Yang anna takutkan adalah daddynya yang belum tidur dan masih melembur disana.


Namun anna bernafas lega setelah membuka pintu itu dan ternyata tak ada siapapun.


"Nona mau kemana?" Anna sangat terkejut saat ia akan baru saja keluar dari pintu utama rumahnya. Bagaimana ia bisa melupakan itu, jika pasti masih ada beberapa penjaga yang siap siaga 24 jam di rumahnya.


"Em.. itu pak. Aku mau keluar nemuin temenku"


"Malam malam begini non?"


"Iya. Aku sudah izin pada daddy kok tenang aja"


"Oh ya sudah. Apa perlu saya antar?"


"Tidak perlu aku bisa sendiri"


"Anda yakin non? Ini sudah dini hari"


"Yakin pak"


"Baiklah non hati hati"


Anna mengangguk. Ia bernafas lega saat ia bisa meyakinkan penjaga itu. Dengan terburu buru anna menuju mobilnya di garasi dan segera melesat pergi. Dan lagi lagi ia mendapatkan kendala saat keluar gerbang. Ia di cegah oleh penjaga gerbang rumahnya, namun lagi lagi anna bisa meyakinkan mereka.


Kenapa? Karena sebelumnya anna tak pernah berbohong dan melakukan hal aneh. Anna tak pernah diam diam pergi dari rumah. Dan ini adalah untuk pertama kalinya ia pergi tanpa izin, berbohong pada penjaga, ditengah malam dan itu semua demi Leo. Orang yang selalu menyakiti hatinya.


*****************


Suara musik terdengar begitu keras, mengalahkan suara musik dikamar Thunder tentu saja. Bau alkohol, rokok dan barang terlarang langsung menusuk indra penciuman Anna.


Matanya langsung disuguhkan oleh berbagai macam pemandangan. Ada yang sedang berciuman, bergoyang di dance floor, berbincang dan menikmati minuman di meja bar. Dan saat itulah mata anna menangkap sosok leo yang duduk disana. Tengah mengenggam gelas alkohol yang entah jenis


apa itu. Anna tidak mengerti.


Anna berjalan mendekati leo. Orang


orang disana menatapnya dengan aneh. Gadis berwajah polos yang memakai jaket kebesaran dengan celana jeans panjang serta sepatu snikers sama sekali tak cocok untuk berada disana. Namun anna tak peduli. Ia hanya ingin membawa Leo pulang.


"Kak leo.." panggil anna. leo langsung menoleh sambil langsung tersenyum dan bertepuk tangan. Pria itu benar benar mabuk.


"Ini dia yang bikin hidup gue berantakan, akhirnya datang juga" ucap leo melantur dengan suara beratnya. Anna tercekat mendengar perkataan leo. Namun selanjutnya ia disadarkan oleh kehadiran seseorang.


"Anna akhirnya lo dateng"ucap orang itu yang diyakini gladys teman leo.


"Leomabuk. Gue ga bisa bawa dia pulang, gua masih ada urusan setelah ini. Jadi tolong lo bawa pulang dia ya" ucap orang itu. Anna hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ayo.. bawa gue pulang. Bukannya lo pengen kita nikah? Tinggal bersama, jadi ayo sekarang" ucap leo sambil berusaha turun dari kursi. Membuat tubuhnya hampir saja terjatuh jika tidak anna dan teman Leo langsung menangkap tubuhnya.


"Ck lo kalau mabuk nyusahin orang sedunia tau gak" ucap teman leo kesal.


Anna hanya diam. Dia hanya merasa tak percaya dengan ini semua. Ternyata leo sekarang seorang pemabuk. Sama sekali bukan diri leo yang dulu.


"Lo bawa mobil kan?" Tanya teman Leo.


"Iya bawa kok"


"Yaudah ayo bantuin gue bawa dia kemobil lo" anna dan teman Leo membopong Leo menuju mobil anna. Susah payah mereka membawa tubuh besar leo masuk kedalam mobil. Dan akhirnya mereka berhasil.


"Oh iya ann. Jangan bawa dia pulang kerumahnya. Bisa abis nih orang kalau papa nya tau dia mabuk kayak gini. Lebih baik lo bawa ke apartemennya aja. Lo tau kan?"


"Iya tau"


"Oke. Thanks ya udah bantuin gue. Btw gue noval" ucap teman Leo bernama noval itu pada anna sambil mengulurkan tangannya.


"Anna" balas anna dan menerima uluran tangan itu.


"Gue tau, Leo cerita banyak tentang lo"


Anna terkejut. Apa yang diceritakan leo


tentang dirinya pada noval?


"Dia ga cerita aneh aneh kok. Udah ga usah dipikirin. Sekarang lo bawa dia balik aja"


Anna mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih pada noval. Kemudian anna langsung membawa


mobilnya pergi dari tempat itu. Diperjalanan anna memperhatikan leo yang terlelap di sampingnya. Bahkan Leo belum membersihkan lukanya.


Kenapa pria ini bisa sampai mabuk seperti ini? Apa karena al merasa frustasi dengan masalahnya? Atau memang leo menyenangi hal seperti ini dan sering melakukannya? Tak terasa mobil anna sudah sampai di


apartemen leo. Dengan susah payah, tubuh kecil anna menopang tubuh besar leo menuju apartemennya.


Untung saja leo masih bisa menopang sedikit tubuhnya dan itu meringankan beban anna.


Sampai didepan pintu apartemen lagi lagi anna dihadapkan oleh masalah. Ia tak tau pasword pintu apartemennya.


"Kak leo paswordnya apa?" Tanya anna pada leo, meski ia tak yakin leo akan menjawabnya karena pria itu sudah tak sadarkan diri.


"Aquilla" balas leo dengan pelan. Anna terkejut. Apa dia bilang, Leo pasti melantur.


Susah payah anna mengetikkan nama Leo disana. Namun salah. Tanggal lahir Leo, juga salah. Anna terus mencoba namun tidak bisa.


"Aquilla buka pintunya.." ucap leo lagi seakan baru saja mengucapkan sebuah mantra untuk membuka pintu.


Namun dari situ Anna terpikirkan untuk


mencoba nama aquilla. Dan ternyata.. benar. Anna tercengang. Al menggunakan namanya sebagai pasword apartemennya.


Anna membopong tubuh Leo masuk kesana. Anna membawa masuk leo memuju salah satu kamar disana. Ia tak peduli apa benar itu kamar Leo atau tidak. Yang penting ia bisa


segera membaringkan leo, karena ia sudah sangat lelah menopangnya. Leo langsung terbaring diatas ranjang. Bahkan posisinya juga tidak benar. Anna membuka sepatu leo dengan telaten. Kemudian ia menata bantal untuk Leo dan berusaha membenarkan posisinya.


Namun saat anna akan bangkit Leo menahan tangannya. Menarik gadis itu hingga terjatuh diatas tubuhnya.


"Gue mau lo sekarang" ucap leo dengan suara parau.


"Ha? Maksud kak leo emmmpp" anna Terkejut saat leo langsung melahap bibirnya.


Leo membalik posisinya, hingga kini ia yang berada di atas anna. Ia terus ******* bibir anna dengan kasar. Anna berusaha melawan namun tak bisa. Ia hampir kehabisan nafas dan ingin muntah merasakan rasa alkohol yang tersisa dimulut


"Kak leo.. lepasin aku" rintih Leo saat Leo menekan kedua pergelangan tangannya dan membawanya ke atas kepala. Anna tak bisa berkutik sama sekali.


"Gue mau lo"


"Kak leo sadar kak.. ini ga be emmpp" mulut Anna kembali terbungkam oleh mulut Leo.


Air mata mulai mengalir di kedua


matanya. Leo tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Dan anna takut dengan ini. Apalagi saat Leo mulai meremas buah dadanya dengan kasar meski masih ia masih berpakaian lengkap.


Krekkk


Anna semakin ketakutan saat Leo merobek jaket tipisnya dan untuk kedua kalinya Leo merobek baju baju Anna dengan kasar. Dan saat itu lah, anna merasakan dunianya seakan runtuh. Saat leo mulai melecehkan


dirinya.


Komen next sebanyak banyaknya ya biar tambah semangat nextnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2