
"Lebih baik kau tidurlah, terima kasih sudah membantu mengobati memar di tanganku." ucap Anin disela sela keheningan diantara mereka berdua.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Raga dengan wajah memelasnya, membuat Anin merasa tidak tega.
"Tidak, tidak sama sekali." Jawabnya seraya tersenyum dan menyentuh wajah suaminya itu.
"Istirahatlah." Ucap Anin sekali lagi.
"Kamu mau kemana?" Seakan tidak mau jauh dari istrinya, Raga segera menarik tangan Anin yang akan pergi.
"Aku mau keluar sebentar untuk mengambil minum." jawab Anin lagi seraya mencoba melepaskan tangan Raga dari pergelangan tangannya.
"Disini saja, suruh pelayan saja yang ambilkan." perintah Raga lagi, kali ini Anin tidak bisa menolak.
"Baiklah." jawab nya lalu kembali duduk disebelah Raga.
***
Pagi yang sangat cerah untuk mengawali hari ini, ayah Malik dan semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, termasuk Raga dan Anin. Di sela - sela sarapan mereka, ayah Malik memanggil nama Raga dan Anin dan membuat mereka menoleh.
"Apa ayah butuh sesuatu?" tanya Anin.
"Tidak nak, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan kepada kalian berdua." ucapnya.
__ADS_1
"Kalian kan sudah menikah lima bulan, tetapi bahkan kalian tidak memiliki waktu untuk menikmati bulan madu bersama." lanjutnya dan langsung menarik perhatian semua orang di meja makan.
"Jadi ayah berniatan untuk menawarkan rencana bulan untuk madu kakak ipar dan kakak nih??" potong Luna.
"Cie ciee bulan madu, uhuy cuit cuit." potong Danu langsung di sentil oleh ibu Faiza.
"Heh kamu ini ya, masih kecil udah cie cie." tegur ibu Faiza dan ditanggapi dengan tatapan meledek oleh Luna.
"Hahaha kapok! Makanya jangan usil." Sambung Luna.
"Dasar!" jawab Danu.
"Jadi, ayah sudah menyiapkan segalanya untuk persiapan bulan madu kalian, hotel, pesawat, tempat wisata, dll selama lima hari nak." Lanjut ayah Malik, tetapi tidak ada jawaban dari mereka berdua.
Raga dan Anin saling bertatap, bingung ingin menjawab apa.
Aku ingin mengiyakan, tapi apa Anin akan setuju dengan keputusan ini? Lagi pula dia tidak bersuara sama sekali. Raga.
Kenapa tuan Raga hanya diam saja? Apa dia menunggu aku yang menjawab? Eh tapi dia mau tidak ya bulan madu? Pikiran Anin terbebani dengan berbagai pertanyaan.
"Nak.." tegur Ayah membuat mereka berdua terkejut.
"Aku terserah Anin saja, yah."
__ADS_1
"Aku terserah Raga saja, yah."
Ayah, Ibu, Roman, dan Luna terpukau melihat kekompakan mereka berdua dalam menjawab pertanyaan ayah tadi, bahkan mereka berdua pun sampai saling tatap karena tidak menyangka akan menjawab dengan jawaban yang hampir sama.
"Wah kakak dan kakak ipar memang benar - benar serasi ya!" ucap Roman yang masih melotot.
"Iya kak, benar, mereka sangat serasi sekali, sangat couple goals." ucap Luna menimpali.
Yang dibicarakan terlihat malu - malu menahan senyum, lalu perhatian mereka kembali fokus kepada ayah dan ibu yang masih menunggu jawaban mereka.
"Jadi bagaimana? Kalau kalian setuju kalian bisa mengatur tanggal keberangkatannya. Kalian hanya berdua, kalian akan benar - benar seperti dua pasangan yang berlibur, ah aku membayangkannya seperti drama yang aku lihat kemarin." Timpal ibu yang langsung di ejek oleh kedua anak nya yang nakal itu.
"Yeee ibu, korban drama banget deh." Ejek Roman.
"Iiih emang kenapa sih kak, sirik mulu. Makanya nikah biar bisa uwu uwu." balas Luna membela sang ibu.
"Tau tuh Roman, cepetan nikah, biar anak - anak ayah sama ibu sold out semua." sindir ibu kepada Roman.
"Yaaa akan kupikirkan." Sahutnya yang sudah merasa kalah telak oleh ibu dan adilnya itu.
Anin, Raga dan Ayah hanya tertawa melihat mereka bertiga beradu mulut di sela - sela sarapan pagi, bahkan Anin dan Raga sudah terlihat romantis kembali seperti biasanya, seakan sudah melupakan kejadian kemarin.
***
__ADS_1
Maaf baru bisa update🥺 jangan lupa like dan vote nya ya, makasih banyak banget untuk semua pembaca setia, saranghae🖤