
"A- apa ini, tuan?" tanya nya masih gugup.
"Ambilah itu untuk mu. Itu adalah black card, kartu kredit tanpa batas." jawab Raga singkat.
"U- untuk apa tu- tuan memberikannya pada saya?" tanya Anin kembali, suaranya terdengar masih gugup.
"Itu hadiah lain dariku karena kau sudah bersikap baik selama ini kepadaku dan keluargaku. Pergunakan lah kartu itu untuk keperluan mu, gunakan secukupnya. Dan, biar aku beritahu kepadamu, mulai sekarang aku akan mengunci rapat kamar mu ini. Kau tidak boleh lagi tidur disini, aku sudah menyuruh pelayan untuk membantumu membereskan semua pakaianmu." ucapan Raga lagi - lagi mengejutkan Anin.
Astaga, ada perintah baru apa lagi ini. Kenapa anda seenaknya begini sih tuan. Anin.
"Iya, tuan. Terima kasih atas kebaikan hati anda." jawab Anin singkat.
"Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Raga disambut anggukan kepala dari Anin yang masih bingung atas kebaikan hati Raga akhir - akhir ini.
Huh tuan, anda memberikan saya kartu ini pasti karena anda tadi berhasil mencium saya. Hiks saya merasa menjadi wanita yang tidak benar. Setelah anda mencium saya, anda memberikan saya uang. Anin.
"Jangan lupa sarapanmu." perintah Raga yang kembali membalikan badan nya menghadap istrinya itu. Lalu, pergi keluar kamar tanpa menunggu jawaban Anin.
***
Anin berada di kamar nya seharian ini, ia membaca, memainkan telepon selular nya, tidur, hingga melamun. Bahkan ia tidak memakan sarapan nya sesuai perintah Raga tadi.
__ADS_1
Huh aku tidak berani turun sendiri. Memang sih tuan Malik dan nyonya Faiza sangat baik. Tetapi, aku tidak mau saja sarapan. Anin.
Akhirnya Anin benar - benar tidak memakan sarapan nya. Pelayan pun tidak ada yang berani mengetuk kamarnya. Alhasil, Ia sungguh bosan, dan akhirnya memutuskan turun ke bawah dan mencoba berbicara dengan manusia - manusia di rumah ini, siapapun. Dan sekalian meminta tolong pelayan untuk memindahkan barang - barang di kamarnya ke kamar lelaki gila yang sudah menjadi suaminya itu.
"Nona Anin, mengapa anda berada disini? Apakah ada yang bisa kami bantu?" beberapa pelayan menghampiri Anin yang baru saja mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga.
"Hehe, tidak perlu nyonya, jangan sungkan dengan saya. Saya tidak ingin merepotkan anda." jawaban Anin membuat mata para pelayan membelalak seketika.
"Nona, panggil saja saya bi Imah, jangan memanggil saya nyonya. Anda lah nyonya kami. Ini adalah Riana dan Riani. Pelayan pribadi yang ditugaskan tuan Raga untuk membantu segala keperluan nona." ucap bi Imah.
"Oh riana, aku sudah mengenalnya. Oh ini Riani adikmu yang kamu ceritakan padaku hari itu ya Riana?" tanya Anin.
"Iya, nona. Dia kembaran saya." jawab Riana sembari melebarkan senyum.
"Eh iya, tidak perlu sungkan denganku, ya. Kita bisa berbicara layaknya teman. Em panggil saja aku Anin." ucap Anin. Mereka berdua saling memandang.
"Tidak, saya tidak berani nona. Nanti tuan Raga akan memarahi kami." ucap Riani.
"Begitu ya? ya sudah lah terserah kalian saja." Anin.
"Nona, kalau begitu saya pergi kembali memasak ke dapur. Jika nona lapar atau butuh sesuatu, suruh saja mereka berdua membantu nona. Anda tidak perlu sungkan, nona." ucap bi Imah yang kemudian pergi setelah di iyakan oleh Anin.
__ADS_1
Terjadi keheningan cukup lama, hingga Anin membuka suaranya.
"Oh iya ngomong - ngomong dimana ayah mertua dan ibu mertua?" tanya Anin yang sedari tadi tidak melihat kedua mertua nya.
"Tadi, tuan Danu mengantar nyonya besar dan tuan besar untuk pergi kontrol ke rumah sakit, nona." jawab Riana.
"Oh begitu? Kenapa tidak membawaku saja? Aku kan di rumah. Pasti ibu mertua kerepotan." ucap Anin iba.
"Tidak apa nona, nyonya besar dan tuan besar sering seperti itu. Ada seorang suster mendampingi mereka." jawab Riani.
"Kalau adik ipar Luna? dia kemana? aku hampir tidak pernah melihat nya di rumah ini?" tanya Anin penasaran. Setidaknya ia bisa tahu seluk beluk apa saja yang ada di rumah ini pikirnya.
"Jika nona Luna, dia juga sudah bekerja di perusahaan tuan Malik, nona. Mereka bertiga bersaudara itu bekerja di tempat yang sama. Hanya saja tuan Raga bekerja di anak cabang perusahaan tuan Malik dan dia menjadi pimpinan nya disana." jawab Riana.
Ya Tuhan, padahal mereka ini pelayan. Tapi tahu sampai ke akar akar nya. Anin.
"Begitu ya? em kalau kekasih tuan Raga yang bernama Ufairah itu, apa kalian mengenal nya juga?" pertanyaan Anin seketika membuat Riana maupun Riani bungkam seribu bahasa.
Mengapa nona menanyakan tentang dia?
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya semua, sukses selalu kalian.