Arranged Marriage

Arranged Marriage
A 3


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan tinggalkan komentar


.


.


"Jangan lupa jam makan siang nanti kita akan menemui calon suami kamu"Ucapan diaz terus berputar putar di otaknya.


Calon suami? Bahkan anna yakin dia tidak akan menerima pria itu. Karena sebenarnya sejak sangat lama ia sudah menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Meski kini itu seperti hal yang mustahil. Namun anna memiliki keyakinan dalam hati, bahwa hari itu akan tiba. Hari dimana ia berdiri di altar bersama orang yang ia cintai.


Kebahagiaan apalagi yang diinginkan para gadis didunia ini selain mengucapkan janji suci bersama orang yang mereka cintai?


Anna menghela nafasnya. Kini ia berada di salah satu cafe favoritnya. Hari ini ia memiliki tiga janji pertemuan. Bertemu teman dekatnya, bertemu klien barunya dan bertemu orang yang akan dijodohkan dengannya.


Perlu kalian ketahui, anna adalah seorang designer busana. Ia memiliki klien klien dari kalangan atas yang bisa membayar busana rancangannya dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja karena keahlian gadis mudah ini tak main main. Anna selalu bisa membuat klien kliennya merasa terkesan dan sangat menyukai busana rancangannya. Itu sebabnya anna cukup terkenal dikalangan pebisnis, artis dan kalangan atas lainnya. Selain karena nama besar daddynya yang terkenal sebagai pebisnis sukses dan nama mommynya sebagai mantan model terkenal ,namun ia terkenal juga karena keahliannya yang bukan main.


"Nona anna?" Sapa seorang wanita dengan ramah kepadanya. anna tersenyum sambil bangkit dari duduknya.


"Iya saya anna. Mari mrs. Renata silahkan duduk" ucap anna dengan sopan mempersilahkan wanita yang terlihat sudah paruh baya itu untuk duduk di salah satu kursi disana. Mereka memesan minuman untuk dinikmati sembari membicarakan tentang rancangan busana itu.


"Jadi mrs. Renata ingin busana untuk acara apa" tanya anna dengan sopan


"Begini nona, saya ingin sebuah gaun pengantin untuk pernikahan putri saya. Dan juga brides maid sekitar 10 orang" anna mengangguk


"Ingin model atau tema seperti apa?"


"Putri saya ingin gaunnya dibuat simple namun elegan. Warnanya putih tulang saja. Dan..." mereka terus melanjutkan percakapan itu.


Anna dengan sigap mencatat apa yang diinginkan dari kliennya ini. Mereka juga melihat sebuah buku album sebagai salah satu inspirasi untuk model busana yang akan dibuat.


"Astaga ini bagus dan ini juga saya jadi bingung" ucap renata menunjuk kearah gambar yang ia inginkan.


Anna tersenyum.


"Jika anda mau, saya akan memadukan keduanya"


"Bisakah?" Tanya renata tidak percaya


"Tentu mrs. Renata. Dan tetap pada kesan simple namun elegan"


"Wah saya sangat menyukainya. Baiklah saya percayakan semuanya kepada anda nona anna. Saya harap semuanya sesuai ekspetasi saya, karena setau saya semua rancangan anda sangat bagus dan sesuai keinginan"


"Ya anda percayakan saja kepada saya. Saya akan memberikan yang terbaik untuk hari istimewa putri anda"


"Terimakasih nona. Saya pergi dulu. Uang mukanya akan saya tranfer hari ini juga. Saya permisi"


"Silahkan dan terimakasih mrs. Renata" Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan anna disana.


Anna menghela nafasnya. Ia kembali mendapatkan kepercayaan dari orang lain dan ann berharap semoga ia tak pernah mengecewakan mereka.


Anna mengecek ponselnya. Terdapat dua buah pesan dari orang yang sama. Yaitu teman dekatnya. Ya, setidaknya itulah anggapan anna.


Mata coklat itu terus memperhatikan keluar cafe. Berharap orang yang ia tunggu akan datang. Hingga...


Kling...


Pintu cafe terbuka, menimbulkan bunyi nyaring dari lonceng yang ada diatas pintu masuk. Dan akhirnya seseorang yang ditinggu Anna datang.


"Lama" ucap gladys sambil bertumpu dagu dengan wajah cemberut. Membuat pria itu tertawa


"Maaf lagi banyak kerjaan di kantor" ucap dave sambil mendaratkan bokongnya dikursi tempat renata duduk tadi.


"Sok sibuk. Palingan lo cuman rebahan aja dikantor"


"Enak aja. Itu dulu, sekarang gue nggak kayak gitu" sangkal dave membuat anna menaikkan sebelah alisnya.


"Oh ya?"


"Iya lah. Gue belajar dari abang lo, pekerja keras dan ya lihat kesuksesan dia sekarang. Dan gue juga pengen kayak gitu" ucap dave sambil membuka buku Memilih minuman apa yang akan dipesannya. Sedangkan anna hanya diam saja. Tak merespon apapun. Membuat dave terheran heran dan akhirnya ia melihat ke arah anna.


"Kenapa?" Tanya dave. Anna menggeleng.

__ADS_1


"Gue cuma kepikiran kak thunder"


"Kenapa abang lo? Masih marah sama lo?" Tanya dave. Anna menggeleng.


"Dia ga marah sama gue. Tapi sama daddy. Sampai sekarang hubungan daddy sama kak thunder masih dingin. Dan gue ga suka ini" ucap anna sambil mengaduk aduk minumannya dengan sedotan. Dave menghela nafasnya.


"Tandanya ini jadi tugas lo buat nyatuin Thunder sama daddy lo lagi. Lo yang harus membuat hubungan mereka kembali menghangat. Percaya sama gue, mereka itu cuma sama sama gengsi aja. Dan lo harus bisa merobohkan kegengsian mereka. Kalau perlu pakai buldozer"


"Ha?"


"Iya buldozer. Yang gede itu"


"Lo halu apa gimana sih dave" ucap anna sambil tertawa kecil. Membuat dave tersenyum.


"Gue ga halu. Gue cuma pengen hibur lo aja" jawab dave membuat anna langsung diam.


"Lah kenapa wajah ditekuk lagi. Apa perlu gue masang wajah jenaka biar lo ketawa lagi? Please deh disini banyak orang gue harus jaga image. Gue harus pertahankan wajah tamvan gue"


"Serah lo dave" Dave terkekeh mendengar jawaban kesal dari anna.


Dave memanggil seorang pelayan dan memesan minuman untuk dirinya. Setelah itu di mulai membuka pembicaraan lagi.


"Lo tadi habis ketemuan sama siapa? Sama calon suami lo?"


"Sama klien baru dave. Gue ketemuannya nanti siang dan jangan sebut orang itu calon suami gue. Karena gue ga yakin akan nerima perjodohan ini"


"Why?"


"Gue rasa lo tau alasannya"


"Leo?" Tanya dave. Anna mengangguk.


"Kapan lo bisa move on dari dia sih ann"


"Gue ga bakal bisa move on dari dia karena gue ga pernah berusaha untuk move on. Bahkan niat aja ga punya" dave menggeleng gelengkan kepalanya.


Jangan tanya kenapa dave tau soal leo. Karena dave dan anna sudah berteman sejak awal masuk kuliah. Mereka bertemu saat ospek dan masih berhubungan baik hingga saat ini meskipun fakultas yang diambil berbeda. Dan selama berteman, dave tau banyak hal tentang anna. Tanpa terkecuali siapa leo bagi anna.


"Apa ga ada sedikit aja ruang kosong.." dave menjeda perkataannya sebentar


"Buat gue" Anna yang sedang meminum minumannya langsung terdiam karena perkataan dave.


Anna melihat kearah dave.


"Maaf dave" ucap anna yang kini sudah menundukkan kepalanya.


Tangan dave terulur mengusap puncak kepala anna dengan lembut


"Ga usah sedih gitu. Gue gapapa. Lagi pula gue kan cogan. Pasti banyak yang mau sama gue kok" ucap dave. Kali ini anna hanya tersenyum tipis.


"Lo baik sama gue. Tapi kenapa gue ga bisa cinta sama lo. Kenapa gue malah cinta sama orang yang bahkan entah masih ingat sama gue atau enggak" Ucap anna menatap sendu ke arah dave.


"Lo tau kenapa?" Tanya dave. Anna menggeleng.


"Karena lo itu ***** nya minta ampun" ucap dave kemudian menjulurkan lidahnya ke arah anna. Anna langsung memukul dave bertubi tubi. Namun dave malah tertawa. Mereka kembali melanjutkan obrolan. Sesekali mereka tertawa bersama karena lelucon yang mereka buat. Bahkan mereka tak memperdulikan keadaan sekitar yang melihat mereka dengan tatapan kesal karena merasa terganggu.


Bahkan mereka tidak tau jika baru saja ada pengunjung cafe yanng mewurungkan untuk datang kesana saat melihat keberadaan mereka. Orang itu kini memeperhatikan mereka dari luar cafe. Senyum miring terpatri diwajah itu.


************************


Anna berjalan tergesa gesa menuju area privat room yang diberitahukan oleh pelayan restoran, tempat dimana ia akan bertemu orang itu. Anna sudah terlambat selama tiga puluh menit karena terlalu asik mengorbrol dengan dave. Semoga saja daddynya tidak marah karena ia terlambat.


Anna melihat pintu ruangan itu. Ia menghirup nafas dalam dan menghembuskannya.


Tok tok tok


Anna mengetuk pintu itu kemudian dengan sangat pelan ia membukanya.


"Selamat siang semuanya" sapa Anna pada orang orang disana.


Kedua orang tuanya dan seorang wanita dan pria paruh baya yang diyakini anna sebagai pasangan suami istri menoleh padanya. Agatha melihat penampilan putrinya itu dengan terkejut. Agatha langsung bangkit dari duduknya dan menemui anna yang masih berdiri diambang pintu.

__ADS_1


"Kamu kok pakai baju ini sih. Kenapa ga pakai dress yang mommy berikan?" Bisik agatha.


"Maaf mom. Tadi buru buru jadi ga sempat ganti"


"Tidak papa agatha. Putrimu telihat cantik dengan penampilannya saat ini. Lagipula kita akan menjadi keluarga jadi tak perlu terlalu formal" ucap wanita paruh baya itu dengan tersenyum kearah anna dan agatha.


"Ya sudah tidak papa. Ayo sekarang beri salan kepada mr. dan mrs. Afsheen" ucap agatha.


Anna terdiam. Ia tau nama itu. Mungkinkah? Tapi banyak orang yang memilih nama itu sebagai marga mereka.


Anna menepis pikiran pikiran itu. Ia berjalan kemudian mencium tangan kedua orang itu dan menyapa mereka dengan ramah.


"Jangan panggil mrs. Afsheen. Panggil saja mama Anika ya" ucap wanita itu setelah anna menyalaminya. Anna tersenyum dan mengangguk.


Anna mengambil duduk disofa tepat diantara diaz dan agatha. Ia tak menemukan pria itu. Pria yang akan dijodohkan dengannya. Apa pria itu tidak datang?


"Anna sangat cantik ternyata. Ya kan pa?" Ucap anika pada suaminya. Sedangkan mr. Afsheen mengangguk dam tersenyum.


"Saya juga banyak mendengar nama kamu dari teman teman saya. Mereka sangat suka dengan busana rancangan kamu. Kamu sangat hebat" tambah anika.


"Terimakasih..." ucap anna.


"Diaz kamu sangat beruntung. Kedua anak anakmu bisa mencapai kesuksesan yang luar biasa seperti ini" kali ini ucap mr. Afsheen. Diaz yang duduk bersandar disofa kini menegakkan tubuhnya sambil terkekeh pelan.


"Putramu juga sukses afsheen. Kenapa kau iri padaku?" Ucap diaz dengan nada jenaka. Membuat mr. Afsheen ikut terkekeh pelan.


"Kau benar. Dia putra kebanggaan ku" Ucap mr. Afsheen dengan tersenyum.


Tok tok tok


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka. Anna dapat mendengar suara langkah kaki masuk ke ruangan itu. Namun anna sama sekali tak ingin mengalihkah pandangannya dari kedua kakinya. Ia terus menunduk tak ingin melihat orang itu.


"Kenapa lama sekali?" Ucap anika.


"Maaf, toiletnya antri"


Degg


Suara itu. Anna tau suara itu. Itu adalah suara yang sangat dirindukannya selama ini. Tiba tiba tubuh anna membeku. Namun ia berusaha keras untuk bisa menggerakkan kepalanya dan melihat ke arah orang yang duduk di hadapannya.


Anna benar benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang itu, yang kini sedang menatapnya dengan datar adalah orang yang ia inginkan kehadirannya. Dan kini keinginannya sudah terwujud. Orang itu ada disini.


"Kak leo..." lirih anna.


Namun orang yang dipanggilnya sama sekali tak bergeming. Tak memberikan respon apapun. Bhkan tersenyum sedikit saja tidak. Seolah kehadiran anna tak berpengaruh apapun untuk dirinya.


Berbeda dengan anna yang kini sudah berkaca kaca. Bahkan pandangannya sudah mengabur karena air mata yang menggenang.


Tes


Satu tetes air mata jatuh. Leo yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya.


"Sayang kamu kenapa nangis?"tanya anika. anna mengerjabkan matanya beberapa kali.


"Enggak tante, eh mama. Anna cuman kelilipan aja"sangkal gladys berusaha mengusap air matanya.


Diaz dan agatha saling bertatapan. Mereka tau apa yang terjadi pada putri mereka. Namun mereka tetap diam.


"Ya sudah sekarang kalian saling berkenalan saja ya. Kita akan memberikan waktu untuk kalian berdua. Ayo pa" anika mengajak suaminya untuk pergi dari sana.


Diaz dan agatha pun ikut pergi. Sebelum itu agatha mengusap puncak kepala anna untuk memberikan kekuatan padanya.


Karena agatha tau ini berat untuk Anna. Kini tinggallah anna dan leo. Mereka masih sama sama diam. Leo bahkan sudah sibuk dengan ponselnya, mengabaikan anna yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya.


Leo masukkan ponselnya kedalam saku saat merasa jengah dengan situasi ini. Sejak tadi ia menunggu anna membuka suara. Namun ternyata anna sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu malah diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Tanpa mengeluarkan isakkan anna terus menatap ke arah leo.


"Ada yang mau lo tanyain ke gue?" Ucap Leo memecahkan keheningan. Anna mengerjabkan matanya beberapa kali saat mendengar suara leo lagi. Seakan ia dikembalikan dari lamunannya.


"Banyak" ucap anna pelan.

__ADS_1


__ADS_2