Arranged Marriage

Arranged Marriage
A 11


__ADS_3

Vote, komen, like, rate 5 biar semangat up terus


.


.


Happy reading


.


.


Leo membuka kedua matanya saat merasakan sesuatu yang hangat mengenai ceruk lehernya. Sebuah senyuman akhirnya terbit di bibir Leo saat mengetahui itu adalah deru nafas Anna yang sedang tertidur lelap.


Entah sadar atau tidak, Anna tidur sambil memeluk dirinya. Menyembunyikan wajah cantik itu di ceruk leher Leo.


Leo hanya diam karena ia tak ingin menganggu Anna. Leo tau pasti gadis itu sangat kelelahan setelah apa yang terjadi semalam. Ia memilih membiarkan gadis itu beristirahat dalam tidur nyenyaknya sambil menghirup dalam aroma rambut Anna yang sangat ia sukai.


"Tak berubah" guman Leo sambil tersenyum.


Ia masih ingat sekali aroma yang dulu sering ia cium dari rambut Anna. Dan kini ia dapat merasakannya kembali.


Prang!!


Leo terkejut mendengar suara gaduh itu. Suaranya cukup keras, hingga membuat Anna berjingkat dalam tidurnya. Leo mengusap rambut Anna dengan lembut memberikan kenyamanan lagi pada gadis itu agar tetap tertidur.


Setelah dirasa Anna sudah nyaman kembali dalam tidurnya. Perlahan Leo melepaskan tangan anna yang sejak tadi memeluk dirinya. Leo bergerak dengan sangat pelan turun dari ranjangnya. Sebenarnya ia sangat enggan untuk beranjak dari sana. Namun ada sesuatu yang harus ia pastikan.


Leo mencari cari sumber suara kegaduhan itu. Dan ternyata berasal dari dapur. Buru buru leo berjalan kesana, dan apa yang ia lihat sesuai dengan dugaanya.


"Ups sorry aku bangunin kamu" ucap alice yang kini menikmati segelah kopi di atas meja pantry.


Alice kembali meminum kopinya dan mengacuhkan Leo yang berdiri menatapnya. Merasa tak nyaman terus diperhatikan akhirnya alice balas menatap pria itu.


"Kenapa?" Tanya alice dengan malas.


Leo berjalan mendekatinya. Kemudian Leo melingkarkan kedua tangannya di perut alice, mengecup bibir alice lembut.


"Udah lama disini?"tanya Leo. Alice mengangguk.


"Dari semalam" balasnya sambil menyesap kopinya lagi.


"Kenapa ga bilang kalau kamu kesini?" Tanya Leo lagi sambil menyelipkan rambut alice ke belakang telinga.


"Kenapa? Biar ga ketahuan kalau kamu tidur berdua sama tunangan kamu?" Tanya alice dengan tersenyum. Senyum yang berbeda.


"Lice maaf aku cuma..."


"Aku tau. Udahlah Leo, ga usah dibahas. Karena gimana pun alasannya aku tetap kalah sama Anna. Dia orang yang diinginkan oleh kedua orangtua kamu, dia mengisi masa lalu kamu, dia dari keluarga terpandang, sedangkan aku? Hanya seorang gadis sebatang kara yang selalu dipandang sebelah mata karena pekerjaanku sebagai model majalah dewasa"


"Lice jangan gitu. Kamu tidak serendah itu"


"Orang yang tau kebenarannya akan berkata seperti itu leo, tapi yang tidak? Hanya bisa menghujat" alice mengalihkan tatapannya dari Leo. Ia mulai merasa sesak didadanya. Namun alice berusaha menutupinya dengan kembali menyesap kopinya.


Tiba tiba alice merasakan bibir Leo mengecup keningnya. Hal itu dilakukan Leo cukup lama hingga membuat alice memejamkan matanya.


"Semalam tidur dimana?" Tanya leo yang kini memeluk tubuh alice cukup erat. Alice pun membalas pelukan Leo. Ia menyandarkan kepalanya didada bidang milik leo.


"Dikamar tamu" balas alice.


"Kenapa ga bangunin aku?"


"Kamu kelihatan nyenyak banget"


"Tapi aku ga masalah kalau kamu memang bangunin aku"


"Udah gapapa"


"Nanti malam tidur sama aku kalau gitu" ucap Leo

__ADS_1


"Hem" balae alice singkat.


Mereka kembali saling diam. Sibuk dengan pikiran masing masing.


"Leo..."


"Iya sayang?"


"Boleh aku cemburu lihat kamu sama Anna?" Tanya alice dengan ragu


"Enggak" balas Leo singkat. Sebuah senyum miris terbit dibibir alice.


"Karena aku emang ga selevel sama Anna Jadi aku ga pantes untuk cemburu sama dia, bener kan?"


"Bukan"


"Terus?"


"Kamu emang berbeda dengan Anna. Kamu nggak selevel dengannya. Kamu ada dihati aku lice, kamu udah menempatinya. Sedangkan Anna, dia ga punya tempat dihati aku. Jadi buat apa kamu cemburu sama Anna, karena dia ga berarti apa apa buat aku" Alice hanya tersenyun singkat


"Apa aku harus percaya sama perkataan kamu?"


"Harus. Karena aku jujur dan tulus mengatakannya"


"Apa aku boleh sedikit saja meragukannya?" Tanya alice lagi


"Apa alasan kamu meragukan ucapanku?"


"Karena kamu memiliki masa lalu yang indah sama dia. Lalu kemana perginya perasaan itu?" Ucapan alice membuat Leo tercekat. Alice benar. Kemana perginya rasa itu?


"Awalnya hanya sedikit memudar. Tapi setelah kamu datang, rasa itu benar benar hilang" alice hanya diam. Ia tak tau harus bagaimana. Apakah ia bisa mempercayai perkataan leo? Karena menurutnya itu adalah hal mustahil, mengingat Leo dan Anna bersama tidak hanya sebulan dua bulan, namun bertahun tahun.


Tetapi, selama ini Leo selalu jujur padanya. Leo selalu mengatakan kebenaran padanya. Tak pernah ada yang Leo sembunyikan dari dirinya.


Alice menghela nafasnya.


"Semalam nggak lupa diminum kan?" Tanya alice pada Leo. Leo hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.


Leo menguraikan pelukannya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah alice, membuat alice memberhentikan perkataannya. Alice memejamkan matanya saat bibir Leo mulai menempel pada bibirnya


dan mulai **********.


Mereka berciuman dengan penuh gairah. Kedua tangan alice sudah mengalung di leher leo. Menarik tengkuknya agar memperdalam ciuman mereka.


"Em.. permisi" ucap Anna yang entah sejak kapan berada disana. Membuat kegiatan berciuman Leo dan alice terhenti.


Leo menghembuskan nafas kasar, kemudian mengalihkan pandangannya pada Anna dengan kesal


"Kenapa?" Tanya Leo dengan malas. Gladys terkejut. Sosok Leo yang hangat sudah hilang, dan kini Anna sudah menemukan Leo yang selalu bersikap dingin padanya.


"Aku pamit untuk pulang. Udah siang, daddy sama mommy pasti khawatirin aku" cicit Anna sambil menunduk.


Leo menghembuskan nafas gusar. Ia langsung berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan alice dan Anna disana. Tak ada percakapan diantara mereka. Anna hanya diam menatap kearah kedua sepatunya sedangkan alice kembali menikmati kopinya.


"Gimana tidur lo? Nyenyak?" Tanya alice dengan nada seperti meremehkan.


anna tau apa maksud alice. Anna tak menjawabnya, ia memilih diam karena takut salah menjawab dan berakibat lebih buruk.


"Gue tau lo pasti merasa bersalah sama gue. Tenang aja, gue ga marah. Anggep aja gue berbaik hati sama lo karena ngizinin lo merasakan kenyamanan yang selama ini gue rasakan" ucap alice dengan santai, tanpa memikirkan bagaimana perasaan anna.


"Dulu aku pernah merasakannya" balas anna dengan pelan. Membuat alice tersenyum sinis sambil melihat ke arah Anna.


"Dulu. Nggak sekarang. Lagipula kalau Leo bahagia dengan hubungan kalian dulu apa mungkin Leo bakal ninggalin lo?" Tanya alice dengan senyum meremehkan.


Benar. Yang dikatakan oleh alice memang benar. Jika Leo merasa nyaman bersamanya, tidak mungkin Leo akan meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.


"Bibir lo kenapa?"tanya alice padanya setelah memperhatikan wajah Anna. Anna membalas tatapannya


"Kena pukulan preman semalam" ucap anna dengan santai membuat alice menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Alice turun dari meja pantry dan meninggalkan Anna disana. Anna menghela nafasnya sambil mengambil duduk disalah satu kursi.


"Coba gue lihat" ucap alice yang tiba tiba muncul membuat Anna terkejut. Anna menunjukkan sudur bibirnya yang memar.


Alice menuangkan sedikit fondation ke punggung tangannya. Kemudian dengan hati hati ia mengoleskannya disudur bibir anna yang memar hingga tak lagi ketara.


"Beres" ucap alice.


"Makasih" ucap Anna sambil tersenyum tulus. Alice hanya mengangguk. Saat alice akan pergi Anna menghentikannya. Membuat alice kembali menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Kenapa kamu bantuin aku? Bukannya kamu ga suka sama aku?" Tanya anna dengan takut takut.


Alice tersenyum sinis.


"Gue cuma ga mau Leo disalahin sama orangtua lo karena hal itu dan akhirnya kalian dipaksa menikah hari ini juga. Gue peduli sama leo bukan sama lo, jadi ga usah kepedean" ucap alice kemudian berlalu pergi.


Gladys hanya diam. Bukankah memang sudah sepantasnya alice seperti itu padanya?


"Ayo" ucap Leo yang sudah berpakaian lengkap dan berdiri didepannya.


"Aku bisa pulang sendiri kok kak" tolak anna saat melihat Leo membawa kunci mobil.


"Gue anter. Selama lo masih belum sampai rumah, lo masih tanggung jawab gue. Dan gue ga mau kerepotan nantinya kalau ada apa apa sama lo" Ucap Leo dengan tatapam menusuk pada Anna. Anna tak berani membalas tatapan itu, ia langsung menundukkam kepalanya.


"Ayo. Jangan lelet"


Leo berjalan mendahului Anna, dan seperti biasa Anna mengikutinya dari belakang. Di sofa ruang tamu sudah ada alice yang duduk bersantai disana sambil memangku sebuah toples makanan. Alice mendengar semua percakapan Leo dan Anna tadi. Satu hal yang dapat alice simpulkan. Anna adalah gadis yang terlalu baik dan lugu


Alice yakin jika ia bersikap jahat pada Anna, gadis itu tak akan memiliki niat untuk membalasnya. Dan persaingan seperti itu tidaklah seru. Akan lebih baik jika alice bersikap biasa saja pada gadis itu, atau jika tidak ia akan selalu menjadi tokoh yang selalu salah dalam hal ini.


"Aku nganterin Anna dulu" pamit Leo saat melewati alice sambil mengusap puncak kepalanya. Alice hanya mengangguk sebagai jawaban.


Saat Anna melewatinya, gadis itu memberikannya senyuman padanya. Lihat, dugaan alice benar bukan. Bahkan anna masih bisa tersenyum padanya. Setelah apa yang ia katakan tadi padanya.


***************


Mobil leo sudah berhenti di pekarangan rumah Anna. Diperjalanan tadi tak ada satupun yang membuka pembicaraan. Mereka hanya sama sama diam. Leo fokus menyetir dan Anna memperhatika jalan yang dilewatinya.


Anna akan melepas seatbeltnya namun gerakan tangannya dihentikan oleh Leo. Membuat Anna melihat kearah Leo yang kini sudah menatapnya.


"Lupain kejadian semalam. Gue hanya butuh teman" ucap Leo pada anna yang dibalas oleh senyuman.


"Aku tau, apa yang terjadi semalam ga ada artinya kan buat kak leo. Ga usah dijelasin lagi, aku udah faham"


"Gue cuma ga mau lo berharap lebih"


"Kak leo tenang aja, itu nggak akan terjadi. Karena sejak awal harapanku sudah musnah" Leo mengerutkan keningnya. Ia mulai kesal dengan jawaban Anna yang selalu santai dan...


"Anna berhenti untuk selalu bersikap seolah disini lo yang tersakiti" marah Leo. Membuat senyum gladys meredup. Ia kembali membuat kesalahan.


"Asal lo tau, disini gue juga korban. Gue muak dengan perjodohan ini. Jadi berhenti bersikap seolah lo adalah korban dari kebrengsekkan gue, karena gue kayak gini juga karena lo"


"Emang apa yang aku lakuin kak?" Tanya anna dengan suara bergetar menahan tangis.


"Sikap lugu lo, sikap sok baik hati lo, dan sikap lo yang seakan selalu ikhlas dengan apa yang terjadi itu buat orang lain merasa iba dan kasihan sama lo. Kemudiam akhirnya gue yang terdesak agar semakin dekat sama lo. Gue ann.. gue!"Suara Leo semakin meninggi.


Untung pelataran rumah Anna cukup luas dan mereka masih berada didalam mobil jadi tak akan terdengar oleh orang didalam rumah. Namun sepertinya dua bodyguard di depan pintu rumah bisa mendengarnya.


"Udah kak?" Tanya anna setelah beberapa saat mereka diam. Leo sibuk mengatur emosinya. Entah kenapa ia sampai kelepasan seperti itu.


"Asal kak leo tau, aku ga pernah punya niatan kayak gitu. Aku juga nggak mau jadi orang menyedihkan dan selalu dikasihani."


"Pernikahan kita tinggal sebulan lagi. Lebih baik kak leo pikirkan baik baik, tetap melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Keputusannya ditangan kak leo. Karena aku udah pasrah, aku udah capek dengan semua ini. Kak leo pergi silahkan dan bertahan pun silahkan"


Leo menatap sengit kearah Anna. Dan kali ini Anna berani membalas tatapan itu.


"Aku masuk. Makasih udah dianterin" ucap Anna memutuskan pandangan itu. Anna keluar dari mobil leo dan langsung masuk kerumahnya. Tak menoleh sedikitpun pada leo.


Dan begitu pula dengan Leo. Setelah Anna masuk ia langsung melajukan mobilnya

__ADS_1


keluar dari pekarangan rumah Anna.


__ADS_2