
Ufa sempat menghilang beberapa saat setelah tragedi keributan di restoran hari itu. Dan, Anin pikir mungkin wanita itu tidak akan datang lagi, tetapi dugaan nya salah besar. Wanita itu kembali lagi ke kehidupannya, bahkan saat ini sedang memeluk suaminya di depan matanya sendiri.
"Ufa.." Raga terbata menyebut nama itu, perasaannya campur aduk.
Aluna yang melihat reaksi bisu dan tidak terbaca dari kakak iparnya langsung berinisiatif mencairkan suasana disana.
"Ehm kakak, kak Ufa datang kesini untuk berkunjung dan ia juga memberikan beberapa bingkisan yang ia bawa dari luar negeri." ucap Luna yang mencoba mencairkan suasana.
"Raga kemarilah, aku membawakanmu beberapa bingkisan, aku juga membawakan manisan jahe kesukaanmu, apa kamu ingat kita sering membelinya saat kita liburan di luar negeri dulu? Kamu kan juga sering memintaku membuatkannya untukmu, dan katamu kamu sangat menyukainya kan?" Ufa langsung menarik tangan Raga turun dari tangga hingga tangan nya itu terlepas dari tangan wanita yang terdiam membisu dibelakangnya.
Anin diam tak bergeming beberapa saat, hingga Danu menegurnya saat ia turun tangga, Anin yang menyadari kehadiran Danu disana langsung mengusap air matanya yang tiba - tiba mengalir.
"Kakak ipar, apa kakak baik - baik saja?" tanya Danu sembari menepuk bahu Anin dan membuatnya terlonjak kaget.
"Eh, ehm iya aku baik - baik saja Danu, kamu turunlah ke bawah bersama mereka." perintah Anin kepada adik iparnya itu.
"Kenapa kakak tidak ikut turun juga? Ayo kak kita turun dan lihat!" Ajak Danu.
__ADS_1
"Ehm aku nanti saja, aku terlupa bahwa ada sesuatu yang ingin aku ambil di dalam kamar, nanti aku menyusul." tolak Anin secara halus dan dijawab anggukan kepala oleh Danu.
Raga terlihat tersenyum tanpa canggung menerima suapan saat Ufa menyuapi nya manisan jahe itu, ia bahkan mengusap usap kepala wanita itu dihadapan istrinya.
Rasanya sesak sekali melihat mereka berdua seperti itu. Raga sudah mengingkari janjinya. Anin.
***
Anin terduduk dan menangis tanpa suara sembari menelungkupkan wajahnya di sebuah kursi taman di belakang rumah mewah itu, rasanya sakit sekali saat suaminya tadi mengacuhkannya begitu saja.
Dia jahat sekali, aku sangat kecewa padanya. Dia bahkan tidak melirik diriku saat wanita itu menarik tangannya. Aaaa aku benci padanya, benci sekaliiii!!!! Anin berteriak dalam hatinya, ingin sekali rasanya ia berteriak senyaring - nyaringnya tapi rasanya tidak mungkin.
"Dokter Deon? Ternyata anda, saya kira siapa. Anda sedang apa disini?" jawab Anin dengan senyuman manisnya.
Raga benar - benar tidak salah memilih istri, dia manis sekali. Deon.
"Oh aku sedang mengantarkan obat untuk paman Malik, dan aku tidak sengaja melihatmu disini, apa yang kamu lakukan? Semua orang sedang menyambut kedatangan Ufa di dalam." tanpa anda beritahu saya juga tahu, rasanya ingin sekali Anin mengucapkan kata kata itu tetapi ia lebih memilih tersenyum.
__ADS_1
"Oh begitu. Duduklah disini dokter, jadi dokter sedang mengantarkan obat untuk ayah, apa dokter setiap hari selalu rutin mengantarkannya, tapi saya jarang melihat anda kemari." Anin sedikit bergeser agar Deon bisa duduk, ia sedang mencoba mengalihkan perhatian dokter karena ia malas membahas Ufa.
"Terima kasih banyak. Aku tidak setiap hari kemari, aku kesini setiap sebulan sekali untuk mengantarkan obat untuk paman." Jawab Deon sembari duduk dan tersenyum.
"Ooh begitu, terima kasih dokter selalu menjaga dan merawat ayah." ucap Anin lagi sembari menundukan kepalanya.
"Haha tidak usah sungkan denganku, oh iya panggil aku Deon saja supaya kita bisa semakin akrab ya." Pinta Deon.
"Iya Deon." ucap Anin lagi - lagi dengan semburat senyuman diwajahnya.
Mereka berbincang banyak hal, terkadang Anin membuat lelucon hingga Deon tertawa terpingkal - pingkal, baru saja mereka berbicara sebanyak ini dan mereka sudah langsung akrab.
***
"Kemana dia? Apa dia marah kepadaku karena masalah Ufa tadi? Aduh kenapa aku bodoh sekali tadi! Dia pasti cemburu, aku harus mencarinya kemana lagi??" Raga yang frustasi mencari keberadaan Anin, mengusap peluh yang membasahi lehernya. Sampai tiba - tiba suara tawa yang sangat ia kenal itu terdengar di telinganya.
Anin? Sedang apa dia dan Deon duduk disana berdua? Tertawa - tawa lagi! Cih! Raga.
__ADS_1
***
Jangan lupa vote yang kencenggg dan like nya juga, terimakasihh.