
"Huh, kau ini! Sudah berani memaksaku." ketus Raga.
"Eh, em maaf tuan." Anin yang tersadar akan perilakunya mulai melepaskan tangan Raga yang tadi tidak sengaja ia tarik dan menundukan pandangannya. Raga terlihat tersenyum tipis.
"Ya sudah, karena hari ini pertama kalinya kita pergi berdua, akan ku ijinkan kau menyentuh tubuhku atau mengajak ku kemanapun kau mau." Raga memberikan toleransi.
Cih! untuk apa aku menyentuh tubuhnya.
"Cepatlah, aku akan ikut menemanimu naik wisata bebek air ini." ucap Raga diselingi senyum mengembang dari wajah Anin.
"Benarkah? Ayo tuan kita pergi, ayo tuan!" Anin menarik tangan Raga dengan tidak sabar.
Mereka duduk bersebelahan di atas bebek air yang mereka kayuh. Sudah tiga putaran, dan sepertinya rasa bosan sudah menghampiri Anin. Akhirnya, Anin meminta Raga untuk menyudahi dan segera beranjak dari danau.
Mereka berdua berkeliling mengelilingi taman bermain itu, sambil sesekali bercanda tawa bersama. Entah mengapa, hari itu Anin merasa Raga seperti layaknya manusia pada umumnya. Begitupun sebaliknya, Raga merasa ada yang aneh dengannya hari ini. Tiba - tiba ia teringat kata - kata ibu kemarin.
__ADS_1
***
Flashback
"Raga, darimana kamu?" Suara seseorang mengejutkan Raga yang baru masuk ke dalam rumah dengan mengendap - endap.
Raga hampir saja mengumpat karena terkejut. Ia mengedarkan pandangan ke arah suara tersebut dan mendapati Ayah dan Ibunya yang sudah berdiri menunggu kepulangannya.
"Jawab Ayah, darimana kamu? Mengapa jam segini kamu baru pulang!" tanya tuan Malik.
"Ayah, aku."
"Ayah, tadi banyak sekali pekerjaan di kantor, aku harus menyelesaikannya agar tidak menumpuk." jawab Raga.
"Apa karyawan di kantor mu kurang banyak sehingga mengharuskan kamu yang lembur bekerja?" tanya ayah sejenak membungkam mulut Raga.
__ADS_1
"Bukan begitu, Yah. Tetapi, aku yang tidak ingin merepotkan mereka semua untuk menyelesaikan pekerjaan itu." jawaban Raga.
"Huh Raga, kamu pikir ayah tidak tahu seharian ini kamu pergi menemui mantan kekasihmu itu." tegas tuan Malik.
Raga membelalakan matanya menatap ayahnya tidak percaya, bagaimana ayah bisa tahu, pikirnya.
"Raga, ibu juga kemarin melihatmu pergi makan siang dengannya di cafe." potong ibu membuat Raga benar - benar kehabisan kata - kata.
"Nak, ibu katakan padamu, ketika kamu sudah menikah maka jangan pernah lagi berhubungan dengan wanita manapun, walaupun kalian hanya berteman. Setelah menikah teman wanitamu hanyalah istrimu, hanya istrimu saja. Dan apa kamu tahu, kemarin ibu pergi acara bersama teman - teman ibu di cafe tempatmu berkencan dengan Ufa. Disaat bersamaan ibu juga melihat Anin bersama adik perempuannya di cafe itu sedang membeli es krim. Ibu tahu, dia melihatmu dengan wanita itu, bahkan adiknya hampir saja menghampiri kalian, tetapi Anin mencegahnya dan memilih membawanya keluar dari cafe itu. Ibu benar - benar tidak habis pikir denganmu. Bagaimana bisa seorang pria beristri dengan santainya pergi makan siang dengan wanita lain ditempat terbuka yang ramai pengunjung seperti cafe? Nak, kamu itu adalah seorang pria yang dikenal dan ditakuti banyak orang, bahkan privasi mu sangat terjaga, bagaimana bisa kamu." Ibu berhenti setelah menasehati Raga panjang lebar, ia kehabisan kata. Ia benar - benar tidak habis pikir dengan putra sulungnya ini, bagaimana bisa dia berselingkuh dibelakang istrinya.
"Bu, ibu tahu kan jika aku hanya mencintai Ufa? Aku tidak pernah mencintai gadis itu! Dia adalah gadis pilihan ayah dan ibu! Dan aku tidak menyukainya, aku membencinya! Dia adalah perusak hubunganku dengan Ufairah!" Raga berteriak di depan orangtuanya. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Ia adalah orang yang akan melakukan apa saja demi keluarganya. Tapi, mengapa malam ini.
"Kamu bahkan sudah berani membentak kedua orangtuamu hanya karena membela wanita itu, Raga? Ingatlah kata - kata Ayah, jika kamu tidak menghentikan sikap burukmu ini, nanti jika suatu saat istrimu tahu kelakuanmu dan memilih meninggalkanmu, kamu akan menyesal dan berlutut memohon maaf kepada istrimu, bahkan kamu akan melakukan apapun untuknya, agar dia kembali kepadamu. Ingat itu, Raga." tegas tuan Malik yang langsung masuk ke kamarnya disusul nyonya Faiza meninggalkan Raga yang termenung sendirian.
Aku tidak akan pernah mencintainya, Ayah. Sampai kapanpun juga. Raga.
__ADS_1
***
Maaf jika author terlambat update berarti tandanya author lagi sibuk ga sempat nulis atau pikiran lagi benar - benar buntu habis ide xixi. Jika kalian berkenan, bisa kasih author kritik dan saran ataupun kasih ide apa aja buat author supaya jalan terus kehaluannya, wkwkwk. Jangan lupa vote dan like nya ya!