
Sore hari menjelang, Raga pun menjemput istrinya itu di toko kue nya, dan baru saja masuk Raga sudah dihadapi dengan raut wajah tidak enak dari istrinya. Sambil mengendarai mobilnya menuju rumah, Raga mencoba bertanya - tanya.
"Kenapa cemberut gitu?" Tanya Raga.
"Bete." Jawab Anin sekenanya.
"Bete kenapa sih cantik? Kamu bete gara - gara aku?" Tanya Raga lagi.
"Bukan, karena pacar kamu!" Anin yang kesal langsung saja menyebutkan kata itu di hadapan Raga, membuat yang bertanya jadi bingung sendiri.
"Pacar apaan? Aku ga punya pacar. Aku cuma punya istri." Tegur Raga.
"Iiiiih kamu kok nyebelin banget sih, emangnya siapa lagi yang terobsesi sama kamu kalo bukan wanita itu!" Emosi Anin meledak - ledak membuat Raga terkejut.
"Ufa? Kenapa memangnya dia? Apa dia membuat masalah denganmu?" Tanya Raga lagi tetapi jawaban Anin malah memojokkan nya.
"Tuh kan kamu kalo ngebahas dia pasti langsung ngeh, gercep banget. Coba kalau aku!" Salah lagi, Raga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung ingin berbicara apa.
Akhirnya Raga memutuskan untuk puasa berbicara hingga mereka sampai ke rumah, takut apabila kata - katanya malah memancing emosi istrinya. Walaupun sebenarnya ia sudah sangat penasaran.
Nanti aku tanyakan saja jika mood nya sudah baik. Raga.
__ADS_1
***
Malam harinya, saat mereka berdua sedang bersantai, Raga yang sudah penasaran setengah mati mencoba mengajak Anin berbicara.
"Sayang." tegur Raga yang merebahkan diri tepat di atas paha Anin yang masih duduk.
"Iya, kenapa?" jawab Anin yang masih fokus akan buku resep kue keluaran terbaru.
"Bagaimana?" tanya Raga lagi.
"Apanya?" Anin malah balik menanya.
"Ooh, hahaha, kamu jangan ngambek gitu dong sayang." entah sejak kapan mereka berdua jadi memanggil sayang satu sama lain seperti ini.
Anin menyingkirkan sedikit bukunya dan mengusap lembut kepala suaminya di atas pahanya, ia masih di fokus kan oleh buku bacaanya itu.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, aku ikut aja gimana nya kamu, supaya nggak ribet kalo aku ikut campur." jujur saja Anin malas mengurusi hal seperti ini, lebih baik ia ikut saja apa kata Raga, ia sudah pasrah apabila suaminya itu benar - benar akan membawanya bulan madu selama sebulan.
"Ya sudah, kita akan pergi lusa." Jawab Raga dan langsung menelungkupkan wajahnya di perut Anin.
"Apa! Lusa? Apa tidak terlalu cepat, kita bahkan belum menyiapkan apa - apa!" Anin yang terkejut langsung meletakan buku yang ia baca tadi di atas nakas.
__ADS_1
"Katanya terserah aku!" Anin seperti termakan omongannya sendiri, iya maksudnya, Anin memang menyerahkan segalanya kepada Raga, tetapi tidak pergi lusa juga.
"Hmm ya sudah, nanti aku akan mengemas barang - barang kita." Anin menurut karena tidak ingin berdebat dengan suaminya itu.
"Untuk apa kamu mengemas barang! Suruh pelayan saja, percuma aku membayar mereka kalau kamu yang melakukan pekerjaan seperti itu!" Protes Raga yang merasa bahwa istrinya suka sekali mengerjakan pekerjaan pelayan.
"Iya, sayang. Nggak usah marah - marah mulu ih." Tegur Anin sembari tertawa.
"Sayang, ngomong - ngomong.." Raga mencoba mengupas sedikit hal yang menurutnya ada yang janggal hari ini.
"Kamu tadi sore waktu aku jemput kan bilang kalau kamu bete karena Ufa, memang dia melakukan apa?" tanya Raga dengan sangat hati - hati karena takut Anin malah tidak mau menjawabnya.
"Eh, emm enggak kok, enggak." wanita ini memang suka sekali menyembunyikan semua masalahnya, dan enggan membaginya dengan siapapun termasuk lelaki yang sedang merebahkan diri di atas pahanya ini.
"Sayang, tolong jangan merahasiakan sesuatu dariku, apapun itu, sekecil apapun, kamu tetap harus cerita. Kita ini sudah menjadi suami istri, kamu bisa cerita semua hal sama aku, juga aku yang bisa menceritakan segala hal ke kamu. Jadi tolong jangan menyembunyikan apapun." ucap Raga sembari mencium tangan Anin yang sedang mengusap kepalanya.
"Sebenarnya, tadi siang.."
***
Hayoo kira - kira Anin bakal cerita gak ni?? 😆Menuju episode bulan madu readers, udah siap belum niii?? Heheh jangan lupa like dan vote nya yang kenceng yaa🙏🏿
__ADS_1