
"Tidak merepotkan tuan. Senang bisa membantu anda." balas Anin sembari senyum tak kalah lebar dari suaminya.
"Apa kau hari ini akan pergi ke toko?" tanya Raga.
"Ehm, sepertinya tidak tuan. Saya hari ini hanya akan di rumah saja. Ada Ella, Rahma, dan juga Kelly karyawan baru yang anda kirimkan kemarin. Saya rasa mereka bisa bersama - sama. Memangnya kenapa tuan?" tanya Anin balik.
"Tidak apa - apa, aku hanya bertanya saja." ucap Raga.
"Oh begitu." jawab Anin singkat.
Sejenak tercipta keheningan di antara mereka berdua. Lalu, Raga memanggil Anin untuk mendekat ke arahnya.
"Kemarilah, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu." Raga menjentikkan jarinya memanggil Anin yang tadi sempat menjauhkan tubuhnya darinya.
Astaga kenapa perasaanku tidak enak ya. Tuan Raga mau apa? Anin.
"Cepat kemarilah mengapa kamu masih diam disitu!" perintah Raga lagi membuat Anin tidak bisa berkutik. Anin mendekatkan diri kepada Raga dengan perlahan tapi pasti. Ia meneguk liurnya.
"Ada apa tuan?" jarak di antara mereka masih jauh mengharuskan Raga untuk menghampiri istrinya yang terlihat gugup itu.
__ADS_1
Menggemaskan sekali. Raga.
"Kenapa gugup begitu?" tanya Raga sembari mengulum senyum.
Sial. Kenapa tuan Raga senyum seperti itu. Anin.
"Tu- tuan, apa anda tidak bekerja?" tanya Anin.
"Kenapa memangnya? Aku akan bekerja setelah ini."
Setelah ini? Maksudnya? Anin
"Ti- tidak saya hanya bertanya saja." ucap Anin seraya memalingkan wajahnya.
"A- ada apa tu- tuan memanggil saya?" tanya Anin gelagapan.
Cupp!
Anin membelalakan matanya saat Raga tiba - tiba mencium bibir nya dengan refleks. Ia hampir saja mundur karena terkejut. Wajahnya merah padam. Perasaan malu dan takut menghampirinya.
__ADS_1
Astagaa, ya ampunn. Tuan Raga ini sudah tidak waras apa!! kenapa mencium ku begituu!!! Aaa aku rasanya ingin tenggelam ke dasar kerak bumi saja jika begini. Ya ampun jantungku serasa copot. Astaga, astaga aku tidak tahu lagi harus berbicara apa. Kenapa bedebah gila ini? kenapa dia menciumku. Aku ini masih perawan lelaki gila. Kenapa anda harus mencium bibirku begini. Hiks ciuman pertamaku, huaa.
Anin termenung sembari masih membelalakan matanya menatap Raga tidak percaya. Ia berharap ini adalah mimpi, tapi sayangnya ini adalah kenyataan.
"Kamu terlihat senang sekali ku cium sampai - sampai wajahmu semerah tomat seperti itu. Anggap saja ini adalah hadiah pemberian dariku karena kebaikan hatimu yang mau membantuku memasang dasi tadi." ucap Raga dengan santai, beda dengan Anin yang sudah menahan geram dan hampir terkulai.
Sial, jika tahu aku akan dapat hadiah begini, aku tadi tidak akan mau membantunya memasang dasinya. Hiks, ibu tolong aku. Lelaki gila ini sudah merenggut ciuman pertamaku, huaaa. Anin menangis dalam hati, ada perasaan menyesal karena sudah menolong Raga memasangkan dasi tadi.
"Jika kamu mau mendapatkan hadiah lagi, bersikap baik lah padaku. Aku akan memberikanmu tubuhku." ucap Raga sembari menyunggingkan senyum.
Cih, memangnya siapa yang mau tubuh anda tuan. Anda sepertinya sudah mengalami pikun, tuan. Anda bahkan sudah melanggar salah satu dari sekian banyak perjanjian pernikahan yang anda buat sendiri. Anin.
Tanpa menunggu jawaban Anin, Raga langsung berbalik ingin keluar dari kamarnya dan segera beranjak pergi ke kantor. Tetapi, ia tiba - tiba berhenti dan berbalik kembali menghampiri Anin yang masih berdiri mematung di tempatnya tadi. Lalu dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu kepada Anin.
"Ambilah." ucap Raga.
Dengan ragu Anin mengambil kartu itu dari tangan Raga.
"A-apa ini, tuan?" tanya nya masih gugup.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan vote nya ya, semoga kalian sehat selalu.