
Jangan lupa vote, komen dan like
.
.
Happy reading
.
.
Setiap orang yang melintas dijalan raya itu dapat melihat tiga orang pemuda sedang menghabiskan waktu bersama di area outdoor sebuah restoran cepat saji. Mereka terlihat begitu asyik menghabiskan waktunbersama.
Bahkan seseorang yang terlihat duduk diatas kursi roda itu pun ikut tertawa bersama. Seakan keterbatasan fisiknya tak menghalangi dirinya untuk bahagia.
"Terus terus gimana?" Tanya anna dengan antusias menatap ke arah Thunder dan rebeca yang berada dihadapannya.
"Emang dasar Thunder aja yang *****. Udah tau kelas kita dilantai tiga eh kok bisa punya pemikiran mau kabur lewat jendela" ucap rebeca sambil tertawa.
"Namanya juga orang lagi kalut, lagi bingung harus ngapain. Pikiran gue pokoknya harus pulang segera. Atau kalau enggak curut gue mati lah" ucap Thunder dengan kesal.
"Lagian kayak ga ada binatang lain yang bisa dipelihara aja. Kan semua orang jijik lihat curutnya, jadi ga ada yang berani ngasih makan" tambah Anna.
"Suka suka lah, kok kamu yang sewot"
"Ya jelaslah aku sewot, kak thunder melihara curut dirumah. Itu binatang hama kak. Please deh"
"Hama.. hama.. emang dia habis ngapain kamu sebut hama? Habis makan BH kamu?" Anna mendelikkan matanya. Ia langsung memukuli Thunder dengan brutal. Membuat rebeca tertawa lepas.
"Sorry ya, BH aku ga bau kayak celana dalam kak Thunder yang jarang ganti"
Ceplos anna dengan santainya sambil mengunyah permen karetnya. Rebeca semakin tertawa terpingkal pingkal
"Eh bocah, kualat sama kakak sendiri"
senjata thunder akhirnya dikeluarkan.
Anna yang sudah terbiasa dengan kata kata itu meresponnya dengan santai.
"Aku imut aku diam" ucap anna dengan suara di imut imutkan. Kemudian ia meniup permen karetnya sambil memiringkan kepalanya dan menunjuk ke arah pipinya. Berekspresi seimut mungkin.
Thunder memasang wajah kesal. Apalagi saat melihat rebeca terus menertawainya. Meski ia kesal ditertawakan namun dihati terdalamnya ia senang melihat tawa diwajah rebeca. Tawa yang sempat menghilang karena tragedi itu.
Namun tiba tiba...
"Aww shhh" tiba tiba rebeca meringis
menahan sakit di kakinya.
"Eh kenapa ra?"
"Kak kenapa?"
Thunder dan anna langsung panik dan mendekati rebeca.
"Tolong lurusin kaki gue" ucap rebeca.
Thunder membantu meluruskam kaki rebeca dengan pelan pelan. Kemudian ia membenarkan posisi duduk rebeca di kursi rodanya.
"Udah nyaman?" Tanya Thunder. Rebeca mengangguk
"Makasih" ucap rebeca. Thunder mengangguk kemudian kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Rebeca memperhatikan kakinya sejenak. Kemudian ia menaikkan tatapannya ke arah depan. Atau lebih tepatnya ke arah seseorang yang berdiri di belakang anna.
Rebeca benar benar terkejut dengan
keberadaan orang itu.
"Leo..." lirih rebeca. Thunder dan anna langsung menoleh kearah pandang rebeca.
Leo berdiri disana , menatap rebeca dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Leo.. lo disini?" Tanya rebeca lagi. Leo hanya diam.
Thunder yang sudah memendam amarah Kepadanya langsung bangkit dari duduknya.
"Ngapain lo disini?"tanya Thunder sudah berdiri didepan Leo dengan gagahnya. Namun hal itu tidak membuat Leo mengalihkan perhatiannya dari rebeca.
"Lo kenapa re?"
Buggghhh
Satu pertanyaan yang lolos dari bibir leo langsung dihadiahi oleh bogem mentah oleh Thunder. Membuat leo langsung tersungkur disana. Pengunjung lain langsung bergerumbul ke tempat mereka. Mencari tahu apa yang terjadi
"Kak thunder!!" Anna langsung melerai mereka berdua. Sedangkan rebeca hanya bisa berteriak meminta mereka untuk berhenti.
"Lo apa apaan sih??" Tanya leo dengan wajah geramnya.
"Apa apaan? Lo yang apa apaan brengsek" balas Thunder tak kalah beringasnya. Anna Bersusah payah memisahkan mereka. Ia berada diantara Thunder dan leo. Berusaha mendorong dada kedua pria itu untuk menjauh.
"Kemana aja lo selama ini?"
"Bukan urusan lo!"
"Oh gitu? Terus kenapa lo tanya tentang rebeca? Dia bukan urusan lo!"
Buhggh
"Kak!! Udah.." jerit Anna saat Thunder kembali memberi hantaman kepada leo
"Temen lo bilang? Temen macam apa yang menghilang ga ada kabar, bahkan lo gatau tentang apa yang terjadi sama temen lo. Itu yang lo sebut temen? Iya?"
Leo kembali bangkit. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan kasar.
"Lo tau leo, selama ini kita udah hidup baik baik aja tanpa lo. Terus kenapa lo balik lagi? Bikin semuanya berantakan. Bahkan lo bikin berantakan hidup adek gue" ucap Thunder dengan penuh penekanan. Anna langsung
menunduk. Sebuah senyum miring terpatri diwajah Leo.
"Apa yang lo bilang ke kakak lo ann? Kalau gue ngejar ngejar lo? Kalau gue udah bikin hidup lo berantakan karena obsesi gue itu? Iya?" Tanya leo pada Anna. Sedangkan anna hanya diam, tak mengerti dengan perkataan leo.
"Asal lo tau, gue ga pernah berniat untuk buat hidup adek lo berantakan. Itu semua karena dirinya sendiri, yang selalu gagal move on dari gue"
Bughhh
Bughhh
Bughhh
Thunder terus memukuli Leo dengan bertubu tubi. Namun kali ini anna hanya diam. Benar kata Leo. Ini kesalahan dirinya sendiri yang tidak bisa move on darinya. Bukan, bukan tidak bisa. Namun memang anna tidak pernah mencobanya. Dan ini adalah kesalahan terbesarnya.
"Thunder!! Leo!! Stopp please" teriak rebeca dengan histeris.
Anna hanya diam. Namun kedua matanya terus mengeluarkan air mata yang mengalir begitu deras. Tak ada isakkan di bibirnya. Namun hatinya hancur. Dihantam oleh kenyataan.
Orang orang disana memisahkan Thunder dan leo. Leo sudah babak belur disana sini, begitu pula dengan Thunder Tanpa mengatakan apapun, leo langsung pergi dari sana. Namun saat itulah Anna tersadar dari lamunannya. Ia melangkah untuk mengikuti leo namun ditahan oleh
__ADS_1
Thunder.
"Please kak, aku mau ngomong sesuatu sama dia" ucap anna dengan wajah memelas. Akhirnya thunder melepaskan anna. Membiarkan anna pergi menyusul Leo.
Tok tok tok
Anna mengetuk kaca mobil milik leo dengan pelan. Membuat menoleh ke arahnya.
"Aku mau ngomong, please..." ucap anna dengan tangan saling mengatup.
Memohon pada leo agar mau meluangkan sedikit waktunya untuk anna. Leo menghela nafasnya. Leo memberi isyarat agar anna masuk kemobilnya. Tanpa tunggu lama anna langsung masuk dan duduk di sebelah Leo. Untuk beberapa saat mereka saling diam.
Leo sibuk mengusap darah disudur bibirnya dengan tisue. Entah keberanian dari mana, tangan Anna terulur menyentuh tangan Leo yang sedang sibuk itu. Ia mengambil tisue yang dipegang Oleh Leo kemudian ia mulai membersihkan darah itu.
Anna membersihkan luka leo dengan
telaten. Pelan dan begitu lembut. Namun air matanya terus mengalir. Anna berusaha menahannya namun tidak bisa. Leo terus memperhatikan wajah itu. Ingin sekali tangannya terulur untuk mengusap air mata itu, namun ia tidak bisa. Ia tidak ingin Anna menganggapnya memberi harapan
lebih.
"Kak leo kenapa sih jahat banget sama aku?"Tanya anna dengan suara bergetar.
"Gue emang jahat ann. Bukan sama lo aja" jawab leo dengan dingin.
"Tapi dulu kak leo ga kayak gini"
"Dulu sama sekarang itu beda"
"Apanya yang beda"
"Setiap orang itu berubah, baik buruknya tergantung siklus kehidupan yang mereka lalui selama hidup"
"Jadi selama ini gimana siklus hidup kak leo? Begitu burukkah hingga kak seperti ini?"
Kini tatapan mereka berdua saling terkunci. Leo dapat melihat tatapan terluka dimata anna. Namun begitu pula dengan Anna, ia melihat luka dimata Leo. Luka yang entah karena apa.
"Ann..." panggil leo dengan lembut kali ini.
Tatapannya masih terkuci dengan tatapan anna
"Iya?" Balas anna dengan suara bergetar. Karena baru kali ini leo berbucara lembut padanya setelah mereka bertemu lagi.
"Tolak perjodohan ini" ucap leo yang
membuat anna seakan dijatuhkan setelah diterbangkan kelangit ketujuh.
"Ke.. kenapa?" Tanya anna dengan suara bergetar.
"Lo ga pantes buat gue" ucap leo kini
mengalihkan pandangannya kearah lain. Anna meneguk salivanya susah payah.
Kemudian berkata
"Aku tau, aku bukan orang yang sempurna. Tapi kak, aku pengen egois untuk kali ini. Aku tetap ingin menerima perjodohan itu meski kak menolak. Meski aku tak pantas untuk kak leo" ucap anna.
Anna mengusap air matanya dengan kasar.
Ia langsung membuka pintu mobil leo dan keluar begitu saja.
"Sejujurnya, gue yang ga pantes buat lo ann. Lo terlalu sempurna buat gue. Gue hanya akan bisa memberikan luka buat lo" lirih leo.
Leo meninju setir mobil dengan keras. Untuk meluapkan kekesalan dan emosinya. Seandainya Leo bisa jujur pada Anna. Senadainya leo bisa mengatakan apa yang terjadi. Seandainya..... Anna tak mencintai
__ADS_1
dirinya, semua tak akan serumit ini.