Arranged Marriage

Arranged Marriage
Tidur bersama


__ADS_3

"Sebenarnya apa maumu." Akhirnya kata - kata itu keluar dari mulut Anin tanpa ia sadari.


"Kemarilah." Raga menjentikan jarinya menyuruh Anin yang masih berdiri di muka pintu untuk mendekat.


"Tidak mau!"


"Aku tidak ingin berdebat denganmu, aku juga tidak ingin tidur bersama. Huh padahal pernikahan kita baru dua hari yang lalu, tapi sudah ketahuan." Kata - kata Raga membuat Anin penasaran.


Ketahuan? Ketahuan apa! Anin.


"Ketahuan apa?" Tanya Anin.


"Ketahuan Ibu."


Hah apanya yang ketahuan Ibu, dia ini tidak pernah belajar kosa kata atau apa, kenapa bicara setengah - setengah! Anin.


"Kemarilah." ucap Raga.


Anin yang penasaran mencoba mendekati Raga, awalnya Ia duduk manis di sofa, tidak berani mendekati Raga yang terlihat tampak frustasi.


"Semalam aku pergi makan siang dengan kekasihku." Raga mencoba berbicara terbuka dengan Anin.


"Aku tahu." Jawabnya dengan tatapan kosong, ia tidak ingin mengingat kejadian itu.


"Kau tahu?" tanya Raga terkejut setelah mendengar jawaban Anin.


"Iya, aku tahu! Aku tahu saat malam pernikahan itu kau menelpon kekasihmu, aku tahu kau mengajaknya bertemu, dan aku juga tahu kau makan siang berdua dengannya!" Anin mulai tersulut emosi.

__ADS_1


Kenapa dia marah? Raga.


"Baguslah jika kau tahu." Raga memancing.


"Hanya itu saja?" tanya Anin balik.


"Hh, kemarin aku pergi makan siang bersama kekasihku, dan ibu melihatnya. Ibu sedang pergi menemui teman - teman sosialita nya di kafe yang sama tempatku makan siang." ucap Raga membuat Anin terkesiap.


Ibu mertua? Apa jangan - jangan kemarin ibu juga melihatku ada di sana? Aaaa aku harus bilang apa jika ibu benar - benar melihatku. Anin mencoba memikirkan jalan keluar dari permasalahan rumitnya ini.


"Pasti kau tahu dari ibu, kan? Atau apakah kau juga yang memberitahu ibu bahwa kita tidur terpisah?" tanya nya.


"Apa? Aku? Untuk apa aku memberitahu ibu hal seperti itu!" Jawab Anin.


"Ya mungkin saja." Ragu Raga menatap Anin.


"Kau mau kemana lagi!" Raga menarik tangan Anin membuat wanita itu mengurungkan niatnya.


"Ke rumah mantan ku!" jawab Anin sekenanya.


"Apa! Mau apa kau kerumah mantanmu malam - malam begini! Kau mau kita cerai sekarang? Apa kau sudah bosan, bukan kah kita baru menikah dua hari! Kau mau aku menghancurkan semua keluargamu?"


Astaga kenapa dia? Padahal kan aku cuma menjawab asal - asalan! Apa jangan - jangan dia..


"Kenapa kau tersulut emosi seperti itu? Bukan kah bagus jika aku memintamu bercerai? Kau kan tidak perlu menunggu waktu setahun untuk segera menikahi kekasihmu." Anin terus menyindir Raga.


"Oh begitu? Jadi kau ingin aku menikahi kekasihku? Baiklah, aku akan menikahinya lusa nanti untukmu. Tapi sebelumnya aku hancurkan dulu keluargamu besok." Kata - kata Raga membuat nyali Anin semakin ciut.

__ADS_1


"Tidak, tidak! Aku hanya bercanda saja, kenapa kau serius sekali!" Anin.


"Cepatlah tidur disini! Awas jika kamu berani - berani keluar kamar selangkahpun!" ancam Raga.


"Iya iya baiklah. Kau tidurlah duluan, nanti aku menyusul." pinta Anin.


"Apa kau benar - benar ingin melihat aku marah, Anindira?" suara Raga terdengar dingin seperti ingin memangsa Anin hidup - hidup.


Bagaimana caraku menolaknya! Anin.


"Iya, iya aku tidur disini. Eh tapi sepertinya sofa ini cukup empuk, aku tidur disini saja agar tidak mengganggumu, karena aku tidak bisa diam jika tidur nanti aku mengganggumu." tawar Anin.


"Tidak! Tidurlah disini, bergeraklah semaumu, aku tidak akan terbangun!" Raga masih tetap kepada keputusannya.


Anin terlihat berfikir mencari jawaban untuk kembali menolak lelaki yang sudah menjadi suaminya tersebut.


"Anindira. Aku tidak suka mengulang dua kali kata - kata yang sudah ku ucapkan." Perintah Raga.


"Iya, iya aku tidur." Anin beranjak ke atas kasur dan langsung berbaring membelakangi Raga yang masih bersandar di kasur itu.


Huh berani sekali dia membelakangi ku seperti itu. Raga.


Tetapi Raga tidak mendebat Anin lagi mengingat waktu yang sudah mulai pagi, tidak lama ia pun ikut terlelap di alam bawah sadarnya, di sebelah Anin yang bergerak menghadap ke arahnya tanpa Ia sadari. Dan, malam itu menjadi sejarah pertama dalam hidup mereka untuk tidur bersama, walau tak melakukan apa - apa.


***


Terimakasih yang sudah membaca, jangan lupa like dan vote nya.

__ADS_1


__ADS_2