Arranged Marriage

Arranged Marriage
Merepotkan


__ADS_3

"Ya Tuhan, astaga bagaimana ini!" Anin yang semalam benar - benar keasikan, lupa untuk mengabari orang dirumah Raga bahwa dia di rumah ibunya hingga tertidur disana. Tetapi, ia tetap tidak lupa dengan kejadian siang kemarin.


"Ada apa, nak?" tanya Ibu yang baru saja menghampiri Anin.


"Bu, aku lupa bilang kepada tuan Raga dan orang rumah bahwa aku menginap di rumah ibu malam tadi, ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari ibu mertuaku." Anin yang panik seketika keceplosan.


"Apa! Bukankah katamu tuan Raga sudah tau bahwa kamu disini nak? Lalu ini apa? Kamu membohongi ibu?" Ibu Pertiwi yang terkejut mendengar pernyataan dari Anin langsung bereaksi.


Astaga bodohnya aku, kenapa aku tidak ingat kalau aku kemarin berbohong. Anin.


Roman yang mendengar teriakan ibunya dari kamar kakak sulungnya langsung menghampiri dan bertanya.


"Ibu, kakak ada apa?" tanya Roman.


"Eh, em, tidak ada apa - apa Roman." jawab Anin seraya tersenyum.


"Kakak, apa kakak tidak ingin pulang? Bagaimana jika tuan Raga mencarimu? Bagaimana jika dia memarahimu?" tanya Roman. Entah mengapa sejak Anin menikah dia jadi sedikit posesif terhadap kakak sulungnya ini. Banyak kekhawatiran di dalam pikirannya.


"Kakak akan kerumah tuan Malik nanti sehabis pulang dari toko. Sekarang kakak ingin mandi dan bersiap - siap. Ngomong - ngomong dimana Ella?" Tanya Anin.


"Dia sedang bersiap juga, sekarang kamu bersiaplah. Setelah itu kita sarapan bersama." jawab Ibu.


"Baiklah, bu."


***


Sekarang mereka semua sudah sarapan bersama di meja makan. Anin terlihat sangat bahagia sekali, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti setelah bertemu dengan Raga.


"Ayah, mulai sekarang berhentilah menjadi tukang sol sepatu, aku bekerja, Roman dan Ella juga. Kami bisa memberikan apapun untukmu dan juga Ibu, Yah. Jangan terlalu kelelahan, nanti Ayah bisa sakit." pinta Anin yang dijawab senyuman oleh Roy, ayahnya.

__ADS_1


"Kalian memang anak yang baik, Ayah benar - benar beruntung memiliki anak seperti kalian. Tetapi, ayah bosan jika dirumah saja tanpa melakukan apapun. Biarkan Ayah berkeliling mencari rezeki sambil berolahraga ya nak." pinta Roy.


"Yasudah, Ayah. Tidak apa - apa. Tapi, janji ya Ayah jangan sampai kelelahan." pinta Anin dijawab anggukan kepala oleh Ayahnya.


"Kalau begitu, lebih baik kita berangkat saja kak." ajak Roman.


"Iya, ayo Roman, Ella!"


"Ayah, ibu kami berangkat dulu ya." mereka bertiga bersalaman mencium tangan kedua orangtuanya dan pergi menggunakan kendaraan masing - masing.


***


"Wah, sudah ramai ya kak. Padahal baru jam sembilan. Ini semua berkat tangan ajaib kakak yang bisa membuat kue menjadi sangat enak." puji Ella sesaat setelah mereka sampai tadi.


"Kau benar sekali, adik ipar." Saat Anin ingin menyahuti adiknya, suara lelaki yang terdengar lumayan tidak asing menyahuti mereka dari belakang.


Mereka berdua pun berbalik memastikan siapa yang ikut berbicara dalam obrolan mereka dan seketika mata mereka berdua pun langsung melotot sebab terkejut melihat pria yang sedang ada di depannya saat ini.


Ya Tuhan, tuan Raga. Ella.


Apa itu benar - benar dia? Matilah kau Anin, matilah kau. Anin.


"Selamat pagi, istriku. Bagaimana harimu kemarin? Rupanya kamu sangat bahagia sekali hingga lupa jalan pulang ke rumah yang seharusnya kamu tempati." Raga langsung menyolot sambil matanya menatap kedua mata Anin seperti berbicara habis kamu nanti.


Tolong!! selamatkan aku!! Anin.


Glekk! Ella meneguk ludahnya melihat siapa orang di depan nya ini. Ya, tepatnya kakak iparnya.


Astaga, kenapa tuan Raga jadi ada disini! Bagaimana ini!! Ella menatap wajah Raga.

__ADS_1


"Hai adik ipar, bagaimana kabarmu? Aku ingin bilang bahwa hari ini kamu menjaga toko tanpa kakakmu. Aku sudah membawakan seorang asisten untuk membantu kalian!" ucap Raga dengan santainyam


"Hey kamu, kemarilah!" Raga menjentikkan jarinya memanggil seorang wanita di ujung sana. Ya, wanita yang sempat disuruh ibu untuk mencarikannya agar membantu mempermudah pekerjaan Anin.


"Perkenalkan, nama saya Kelly nona. Saya disuruh oleh nyonya dan tuan Raga untuk bekerja dengan nona mengurus toko kue anda ini." Perkenalan yang singkat, padat dan jelas. Sesuai dengan intruksi dari Raga.


"Oh, iya masuklah. Nanti, mintalah bantuan kepada Rahma untuk membantu, ya!" tegas Anin.


"Baiklah, terima kasih nona." sahut wanita itu.


Tatapan Anin kembali bertemu dengan tatapan Raga, cukup dalam dan lama. Ella sudah masuk dari tadi tidak sabar untuk mengetahui apa yang telah terjadi, mengapa kakak iparnya menambah karyawan seperti ini.


"Ikut aku sekarang!" dengan paksa Raga menggenggam dan menarik pergelangan tangan Anin menuju tempat dimana mobilnya terparkir hingga pergelangan tangan itu menjadi merah.


"Aku tidak mau! Kau mau membawaku kemana? Lepaskan." Anin berteriak - teriak saat Raga menariknya, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman pria gila ini.


"Bisakah kamu menutup mulutmu! Kau itu sudah merepotkanku, jangan menambah bebanku lagi" Raga.


Memangnya aku merepotkan apa! Anin.


Setelah perdebatan singkat itu Raga membawa Anin pulang kerumahnya. Ia melarang Anin pergi kemanapun selama tiga hari karena Ia sedang dalam masa percobaan hukuman. Walaupun Anin sempat protes, Raga tetap pada keputusannya.


"Jangan membantah, Anindira! Ini hukuman untukmu yang berusaha kabur! " begitulah kira - kita kata - katanya yang seketika membuat nyali Anin menciut.


Huft, aku tidak bisa membayangkan betapa membosankannya di rumah ini selama tiga hari. Aku kan hanya pergi ke rumah ibuku, tidak kemana - mana. Lagipula, siapa juga yang mau kabur! Aneh sekali. Susah memang jika menikah dengan orang kaya. Suka semaunya! Dasar pria gila! Anin mengutuki suaminya itu dalam hati.


***


Jangan lupa vote dan like nya readers, semangat terus!

__ADS_1


__ADS_2