Arranged Marriage

Arranged Marriage
Seperti lansia


__ADS_3

"Huh untung saja aku tadi berhasil lepas dari tuan Raga. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi tadi jika aku tidak segera kabur." Anin menggerutu sembari berjalan turun tangga menuju meja makan.


"Selamat pagi sayang. Ayo kita sarapan bersama dulu. Apa kamu hari ini ke toko?" tanya bu Faiza saat melihat Anin turun tangga dengan pakaian rapi.


"Selamat pagi juga bu. Iya hari ini Anin akan pergi ke toko karena Anin sudah terlalu lama libur." jawab Anin seraya mendudukan tubuhnya di kursi meja makan setelah ibu mertuanya itu menarik kursi untuknya.


Ya terus saja peduli padanya bu. Aluna.


"Selamat pagi adik ipar, Ayah." ucap Anin.


Aluna hanya menatap sinis kakak ipar nya itu dengab wajah tidak sukanya. S**ungguh pencitraan sekaliii. Aluna.


"Pagi juga kakak ipar." Danu.


"Pagi juga nak, dimana suami mu?" tanya tuan Malik.


"Em tuan Raga, dia sedang bersiap - siap Yah." jawab Anin singkat.


"Kenapa kamu memanggil suami mu sendiri dengan sebutan tuan? Bukan kah kalian sudah menjadi suami istri? apa pantas jika menyebutnya tuan?" Ayah Malik mengerutkan kening nya dalam, merasa aneh dan tidak suka dengan panggilan yang diberikan menantu pertama nya itu kepada anaknya.


Matilah aku. Anin.

__ADS_1


"Iya nak, kenapa memanggil Raga begitu? mulai sekarang jangan lagi ya!" peringatan dari ibu mertua.


Belum sempat Anin berbicara, suaminya yang seenaknya itu langsung datang dan memotong pembicaraan diantara mereka.


"Istriku yang cantik ini memang suka begitu bu. Aku sudah sering sekali memberitahunya untuk memanggilku dengan nama biasa layaknya suami, tetapi dia tidak mau dengar." Ucap Raga sembari merangkul pundak Anin membuat wanita itu tersentak karena terkejut, tubuhnya terasa kaku karena Raga mencengkram bahunya.


Wanita ini sungguh berbahaya sekali. Dia bisa saja tanpa sadar membongkar segalanya. Raga.


"Ooh begitu ya, nak. Ya sudah tapi lain kali jangan lagi ya menantu ibu yang cantik." pujian bu Faiza seketika membuat merah pipi Anin, ia jarang sekali dipuji cantik oleh siapapun. Sekali dipuji, rasanya ia hampir mau terbang.


Aa senangnya dipuji begitu. Terima kasih ibu mertua ku yang baikk hatinya. Anin.


Istriku yang cantik. Raga.


Kenapa dia memandangku seperti itu? Anin.


Romantis sekali kakak kepada kakak ipar, jika aku menikah nanti, aku juga ingin seperti itu. Danu.


Sangat sangat menyebalkan sekali. Aku benci padanya. Luna.


Mereka makan dalam diam, tanpa suara sama sekali. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang bergesekan. Padahal dalam hati mereka masing - masing menggerutu tidak jelas.

__ADS_1


***


"Tuan Raga! Tuan, tunggu tuan!" Anin berteriak - teriak sembari berlari memanggil Raga yang berjalan cepat tanpa menghiraukannya.


Ya Tuhan apa pendengaran nya sudah rusak? Kenapa tidak berpaling! Kesal Anin.


Raga tiba - tiba saja menghentikan jalan nya dan membuat Anin yang sedang berlari kaget hingga menabrak tubuhnya dan agar tidak terjatuh ia memegang pundak Raga dari belakang dengan refleks. Raga tersenyum sinis.


"Huh, tuan apa anda tidak mendengar saya memanggil daritadi?" tanya Anin.


"Beraninya kamu menyentuh tubuhku." tajam Raga.


"Ehm, ma- maaf tuan saya tidak sengaja dan tidak bermaksud seperti itu. Saya terkejut anda berhenti tiba - tiba tadi." jawab Anin.


"Jadi kamu menyalahkanku?" ucap Raga sembari berbalik menghadap istrinya yang terlihat kesal sekaligus takut itu.


Huh memang serba salah sekali berbicara dengan lansia. Anin.


***


Jangan lupa like dan vote nya, jangan lupa follow ig author @dedewinthap for more information terimakasih banyak readers semoga kita semua sehat selalu🍓🍓

__ADS_1


__ADS_2