
"Ternyata aku tidak salah lihat.." Anin tersenyum.
"A- apa maksud Kak Anin?" Tergagap saking terkejutnya.
"Kamu tidak usah gugup begitu, ayo kita bicara!" Ajak Anin sembari menarik tangan Luna, entah mau dibawa kemana.
***
"Kamu kenapa merahasiakan ini semua dari anggota keluarga?" Anin akhirnya buka suara setelah mendengar penjelasan lumayan panjang lebar yang disampaikan Luna tadi.
"Sebenarnya aku malu jika semua orang tahu bahwa aku membangun sekolah gratis untuk anak - anak jalanan ini kak." Luna mulai memberanikan diri untuk jujur kepada kakak iparnya itu.
"Kenapa? Bukankah ini sebuah niat yang bagus? Kamu harusnya bangga bisa menyisihkan uang yang diberi kakak - kakakmu untuk membangun sekolah ini. Kamu benar - benar sudah bekerja keras, Luna."
"Iya kak, tapi apakah ayah dan ibu akan menerimanya? Aku membuka sekolah gratis apalagi untuk anak jalanan." Ucapnya sedih.
"Tentu saja! Kenapa ayah dan ibu akan melarangmu, aku saja sangat bangga denganmu, apalagi ayah dan ibu." Anin merangkul pundak Luna, memberikan sedikit ketenangan kepada gadis itu.
__ADS_1
"Kamu gadis yang manis dan baik hati." Puji Anin, membuat Luna tersenyum dan merasa lega.
"Maaf atas perilaku buruk ku selama ini, kak." Ucapnya merasa bersalah.
"Tidak pelu meminta maaf, kakak tau kamu orang yang baik." Sahut Anin.
"Oh iya kalau begitu, apa kakak bisa melihat - lihat sekolahmu ini?" tanya Anin disambut anggukan yang antusias dari Luna.
"Tentu saja kak, ayo aku antarkan untuk melihat seluruh isi sekolah." Sahut Luna antusias.
***
"Em kalau aku boleh tau, bagimana caranya kamu memberikan gaji kepada guru - guru itu?" Tanya Anin penasaran.
"Dari uang yang kusisihkan, kak. Biasanya kan kak Raga dan kak Danu memberikanku usng setiap bulan. Dan dari uang itulah aku meng gaji para guru disini, kak." Seru Luna.
"Wah kamu hebat banget ya. Masih muda udah punya sekolah sendiri dan pinter nyisihin uang. Kalo gitu supaya kamu tambah semangat, kakak bakal bantu kamu untuk lebih memperbesan dan memperluas sekolahan ini, kakak juga akan bantu kamu beli fasilitas yang lebih bagus untuk anak - anak disini. Supaya kalian semua nyaman mengajarnya dan anak - anak juga." Tawar Anin seketika mengejutkan Luna.
__ADS_1
"Jangan kak, jangan! Gawat nanti kalo Kak Raga tahu." tolak Luna mentah - mentah.
"Loh emang kenapa? Bagus dong kalo dia tahu, siapa tahu juga dia mau nyumbang hahaha." Anin tertawa setelah menyadari perkataannya sendiri.
"Kakak nggak akan merestui aku membangun sekolah ini, kak!" Tolak Luna lagi.
"Kan belum dicoba. Nanti kakak yang kasih tau Kak Raga kalau kamu takut. Tenang aja dia pasti nggak akan marah kok!" Ucap Anin sembari mengusap kepala Luna.
***
Sementara di sisi lain, seorang pria yang masih setia menunggu dan mondar - mandir tidak jelas diruangannya menunggu telepon dari istrinya.
"Kenapa dia ini tidak mengangkat telepon ku! Apa sesibuk itu?" Raga mendesah frustasi.
Sudah satu jam ia menunggu pesan balasan maupun telpon dari istrinya, tapi rasanya nihil. Gadis itu benar - benar membuatnya kacau hari ini.
"Aghhh ayo angkat dong!" Teriak Raga frustasi.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan vote nya ya! Maaf banget udah jarang update, tapi aku usahain paling engga aku ada update selama satu bulan ya🥺 love you all