
"Sayang jangan mengebut, pelanlah sedikit nanti jika terjadi apa - apa pada kita bagaimana? Kamu kan masih belum sepenuhnya pulih." Ufa mencoba menghentikan Raga yang menyetir dengan mengebut. Tetapi, lelaki itu bahkan tidak bergeming hingga mereka sampai di kediaman Ufa.
"Masuk dan beristirahatlah. Kamu pasti lelah sekali, terima kasih ya sudah menemaniku seharian ini hingga ke rumah sakit. Maafkan aku yang membuat masalah tadi." ucap Raga sembari tersenyum dan mengusap lembut kepala Ufa.
"Tidak masalah, aku senang bisa menghabiskan waktu seharian ini dengan mu, jangan jera ya mengajak ku pergi lagi. Dan jangan terlalu emosi buatlah pikiranmu tenang dulu. " ucap Ufa sembari menunjukkan wajah puppy eyes hingga membuat Raga gemas sendiri dan mencubit pipinya setelah sesaat ia pergi melajukan mobilnya menuju rumahnya.
***
Di rumah.
"Ayah, ibu kalian belum tidur?" tanya Raga yang baru sampai dan melihat kedua orang tua nya di ruang keluarga tampak berbincang santai.
"Raga, dari mana saja kamu? kenapa kamu pulang selarut ini?" tanya ayah.
"Iya, kasihan istrimu sepertinya ia dari tadi sudah menunggu kepulanganmu, dia terlihat gelisah sekali. Bahkan Anin tidak memakan makan malam nya." ucap Ibu khawatir. "Coba kamu periksa nanti ya, bujuk dia juga untuk makan. Ibu takut dia akan sakit." Ibu tampak khawatir, terlihat jelas semburat kekhawatiran di kedua manik matanya.
"Iya bu, kalau begitu Raga masuk dulu." jawab Raga yang langsung menyelonong naik ke tangga.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar nya, Anin terlihat mondar - mandir tak tentu arah, terlihat jelas sekali rasa kalut bercampur takut di kedua matanya. Entah apa yang akan terjadi nanti ketika Raga datang dan menghampiri nya. Apakah mungkin lelaki angkuh yang sudah menjadi suaminya itu akan memukuli nya habis - habisan? Atau bahkan membunuhnya? pikiran nya kemana - mana. Tetapi, dia kan juga pergi berkencan dengan kekasihnya. Lalu apa salahnya jika dia pergi berdua lelaki lain. Pikirnya.
Krukkk. Terdengar suara cacing dalam perutnya yang meronta - ronta meminta makan. Karena sejak siang tadi saat sup panas miliknya itu tumpah dan terjadi perkelahian yang tak ter elakkan itu, ia rasanya tak berselera makan lagi dan memutuskan pulang ke rumah.
Aku sebenarnya sangat lapar sekali. Tapi entah mengapa rasanya semua makanan terasa hambar. Anin meremas pergelangan tangannya yang basah.
Ceklek. Terdengar suara pintu terbuka dari arah kamar Raga, Anin yang terkejut langsung merebahkan diri di atas kasur sembari menutupi tubuh mungilnya hingga ke kepala dengan selimut agar Raga tidak melihatnya dan menghukumnya.
Ya Tuhan tolong selamatkan lah aku, aku masih ingin hidup. Setidaknya aku bisa membahagiakan ayah, ibu, Roman dan Ella dulu baru lah tidak apa - apa jika bedebah gila ini ingin membunuhku sekalipun. Anin.
"Berhentilah berpura - pura tidur!" terdengar suara Raga yang tiba - tiba mengejutkan Anin.
"Oh begitu ya? kamu sudah mulai berani berselingkuh di belakang ku? apa kamu lupa kenapa aku menikahimu? atau kamu ingin ayahmu ku cebloskan ke penjara karena kasus itu?" ancam Raga.
Deg. Sesuatu seperti meremas jantung Anin. Tangan nya bergetar, keringat nya mulai bercucuran.
Ayah. Tidak ayah tidak boleh sampai di penjara. Kenapa aku sampai lupa jika aku menikahinya karena hal itu. Astaga aku harus bagaimana ini. Aku sungguh bingung.
__ADS_1
"Baiklah, rupanya kamu memang ingin ayahmu membusuk di penjara ya? oke tunggu saja sebentar lagi." ucap Raga sembari mengambil ponsel nya di kantong dan mencoba menghubungi seseorang.
Belum ada jawaban dari sana, tiba - tiba Anin bangun dan berlutut di kaki Raga sembari memohon ampun dan meminta maaf.
"Tuan, saya mohon ampuni saya. Saya salah, saya minta maaf tuan. Saya bisa jelaskan segalanya. Maafkan saya." pinta Anin sembari berlutut di kaki Raga.
"Huh, nyalimu besar juga ya. Aku sungguh tidak menyangka wanita sepertimu bisa berselingkuh. Oh iya aku lupa, kamu kan wanita murahan yang bisa dibeli menggunakan uang. Apa mungkin lelaki itu lebih kaya dari aku hingga kamu menyelingkuhiku." sindir Raga.
Kenapa rasanya sakit sekali saat dia mengatakan hal itu kepadaku. Anin.
"Tidak tuan, tidak begitu. Saya mohon ampun tuan, saya tidak akan melakukan nya lagi." ucap Anin, air matanya sudah tak terbendung.
"Aku akan menghukum mu malam ini, akan ku buat kamu menjerit semalaman tanpa ampun. Anggap saja ini seperti malam pertama kita yang tertunda." ucap Raga sembari menyeringai.
Ya Tuhan, apa yang dia katakan. Apa ini akhir dari keperawanan yang ku jaga selama ini? Anin.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya, terimakasih🍓