Arranged Marriage

Arranged Marriage
Nanti cantiknya hilang


__ADS_3

Dua puluh menit yang lalu Anin sudah sadar dari pingsan nya yang sudah membuat suaminya kalang kabut. Di tangan nya sudah tercap manis jarum suntik beserta selang infus. Dan benar saja, saat ia sadar suaminya yang berubah menjadi mendadak romantis dan peduli itu langsung menciumi kepalanya dan menghujani nya dengan puluhan pertanyan.


"Kenapa? Kenapa kamu bisa jadi demam berdarah? Kamu pergi kemana saja jadi terkena gigitan nyamuk? Apa jangan - jangan dirumah kita ada nyamuk besar? Tapi kenapa harus kamu yang kena? Kenapa tidak aku? Aku kan juga selalu bersamamu saat dirumah?" Anin benar - benar frustasi menjawab pertanyaan suaminya yang menurutnya terlalu panik itu. Padahal ia hanya merasa lemas sedikit.


"Iya, dirumah kita ada nyamuk besar. Sangat besar dan cerewet! Dia juga suka menggigit." Ketus Anin.


"Hah benarkah? Apa kamu melihatnya? Sebesar apa? Apa sebesar ini? Tapi aku tidak pernah melihatnya." Raga mempraktekan besar nyamuk itu dengan membuka lebar tangannya dan membuat Anin tertawa.


"Kenapa kamu malah tertawa!" Tegur Raga.


"Anda lucu sekali tuan." Jawabnya masih sambil tertawa.


"Apa anda benar - benar mau melihat nyamuk itu?" Tanya Anin.


"Iya, memangnya dia ada dimana?" tanya Raga balik.


"Dia ada di sini, coba anda berbalik ke belakang." pinta Anin sembari masih tertawa melihat kepolosan suaminya


Saat Raga berbalik, ia terkejut melihat wajahnya sendiri di kaca yang ada di ruangan rumah sakit itu, setelah mengerti ia kembali menatap Anin dan mencoba menggodanya.

__ADS_1


"Jadi kamu menganggapku seperti seekor nyamuk!" terlihat guratan di wajah lelaki yang sudah matang itu.


"Tuan bukan begitu maksud saya, saya tidak bermaksud, sumpah! Saya hanya bercanda." Anin terlihat gugup sampai berhenti tertawa. Ia pikir suaminya ini akan paham dengan lelucon nya. Tetapi saat melihat guratan di wajah lelaki itu tawa Anin pun berubah menjadi ketakutan.


"Baiklah jika kamu menganggapku nyamuk, aku mungkin sudah mengganggumu. Aku pergi saja." Raga sudah hampir beranjak dari tempatnya, tetapi Anin menjangkau tangannya dan menariknya.


"Tuan.." saat Anin hampir menangis barulah Raga duduk di sebelahnya.


"Aku hanya bercanda." Raga tertawa sembari mengelus lembut kepala Anin.


Dasar. Anin.


"Sekarang istirahatlah." Perintah Raga.


"Kenapa? Tuan ingin meninggalkan saya ya ketika saya tidur nanti?" protes Anin.


"Hah? Tidak tidak begitu! Kamu kan lagi sakit, jadi kata dokter harus banyak - banyak istirahat!" Raga mencoba membuat Anin mengerti.


"Tidak mau. Saya kan baru saja sadar, kenapa harus tidur lagi." celoteh Anin, tapi Raga hanya diam saja mendengarkan.

__ADS_1


"Kenapa diam tuan, benarkan anda mau meninggalkan saya. Ya sudah pergi saja sana." Usir Anin, entah kenapa mood nya sangat berubah - ubah.


Anin adalah tipikal wanita yang sangat jarang sekali sakit seperti ini, bahkan dia bisa saja tidak sakit selama setahun. Tapi, begitulah dia ketika sakit akan super manja dengan orang - orang sekelilingnya.


Kenapa dia sangat menggemaskan saat ngambek begitu. Raga melengkungkan bibirnya saat melihat bibir istrinya itu maju dua centi.


"Kenapa anda masih disini!" Protes Anin.


"Aku tidak jadi pergi, aku akan menemanimu saja disini sampai kamu sembuh." Ucap Raga sembari tersenyum dengan sangat manis.


Astaga senyuman anda itu bagaikan obat supaya saya cepat sembuh tuan. Anin.


"Tidak perlu, ada suster yang menemani saya." Masih sok menolak padahal butuh juga.


"Sudah jangan ngambek gitu dong sayang, nanti cantiknya hilang. Sini peluk dulu." Anin mendelik hampir menjerit mendengar kata - kata yang baru saja keluar dari mulut Raga. Perasaan terkejut dan tidak percaya menghantui kepalanya. Ia menutup mulutnya dengan rapat saat Raga memeluknya.


Matilah kamu Anin, detak jantungmu tidak bisa dikondisikan. Anin.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya supaya author tambah semangat up nya🥺❤️


__ADS_2