
"Hahaha kau memang pelawak yang handal, Deon." Anin tertawa sembari menepuk pundak lelaki itu.
"Tidak juga, aku memang suka menghibur orang lain, mungkin beberapa dari mereka tertawa karena melihat wajahku." Jawabnya juga sembari tertawa, rasanya tidak ada bosannya melihat wajah wanita di depannya ini.
Tiba - tiba, saat mereka beranjak berdiri, seseorang menonjok wajah Deon dengan kerasnya hingga membuat ujung bibir lelaki itu berdarah dan wajahnya sedikit memar.
"Deonnnn." Anin yang terkejut langsung teriak dan menghampiri Deon.
"Jaga batasanmu!" Teriak Raga sembari menarik tangan Anin.
"Kau sudah tidak waras!" Teriak Deon balik dan beranjak berdiri.
"Yaa, aku memang tidak waras, tapi seseorang lelaki yang tertawa tawa berdua bersama seorang wanita yang sudah bersuami itu lebih tidak waras!" Sahut Raga balik dengan amarah yang menggebu - gebu.
"Sudah, sudah! Ada apa dengan kalian berdua?! Dan kau, kenapa kau menonjok Deon begitu, sebenarnya apa masalahmu!" Teriak Anin kepada Raga yang masih terlihat emosi.
"Aku? Kau bertanya apa masalahku?! Masalahku adalah aku tidak suka melihat istriku berbicara dan tertawa bersama lelaki asing!" umpat Raga.
"Dia bukan lelaki asing?! Dia temanmu!" Teriak Anin yang juga dipenuhi dengan emosi.
"Jangan berteriak kepadaku, Anindira!" Anin langsung mundur beberapa langkah saat mendengar suara Raga yang melemah tapi seakan memberikan pernyataan menyelekit.
__ADS_1
"Deon, Deon kau pergilah saja dari sini ya. Nanti kita bicara lagi, maaf aku tidak bisa mengobati lukamu." Anin memohon maaf sembari meminta Deon untuk pergi, lelaki itu mengangguk, tapi Raga masih dengan emosinya.
"Tidak usah perduli padanya! Kau bukan siapa - siapanya!" ketus Raga sembari menarik tangan Anin ke sampingnya, Anin yang merasa kesakitan terus memegang lengan tangannya yang dicengkram Raga.
"Bisakah kau tidak kasar kepada wanita! Kau menyakitinya!" Deon mencoba membantu Anin melepaskan genggaman tangan Raga di lengannya, tapi lelaki itu malah mendorongnya.
"Tidak perlu ikut campur! Ini adalah urusanku dengannya. Urusi saja hidupmu sendiri. Lebih baik kau pergi dan cari wanita, lalu nikahi dia daripada mengganggu istri orang lain." ketus Raga sekaligus menyindir.
Kurang ajar sekali dia ini menghina kejombloanku. Deon.
"Sudah sana pergi, urusanmu dengan ayahku sudah selesai kan?" Raga mengusir Deon yang masih berdiri terheran - heran dengan sifat Raga yang tidak berubah.
Sialan. Raga.
***
"Tuan lepaskan tanganku, sakit! Tuan! Tuan Raga!" Bentak Anin.
"Berhenti berteriak kepadaku! Dan apa tadi? Tuan? Apa kamu lupa aku menyuruhmu memanggil dengan sebutan apa! Kamu itu sudah salah dan selingkuh tapi masih saja keras kepala!" Raga mengeluarkan semua emosinya.
"Aku tidak selingkuh! Justru kaulah yang sudah selingkuh dan mengingkari janjimu sendiri, kau benar - benar tidak menghargai aku sebagai istrimu, bahkan kau diam saja saat wanita itu memelukmu, siapa yang selingkuh hah! Bahkan saat aku pergi kau tidak menyadari atau bahkan mencegahku, saat aku berdua dengan Deon lalu kau malah menghajarnya, tanpa tahu kenapa dia dan aku bisa duduk disitu berdua. Kau benar - benar tidak tahu diri, kau menyalahkan orang lain tanpa berkaca terhadap dirimu sendiri, aku cemburu apa kau tahu!!! Aku cemburu!! Dia itu mantanmu, dan kau mau mau saja saat dia memelukmu!! Aku cemburu!!" Anin tidak kalah emosi dibanding Raga, ia mengeluarkan segala perasaan yang ia rasakan, tanpa mementingkan apa yang akan terjadi setelah ia mengatakan hal itu. Ia sudah berfikir bahwa Raga akan memakinya atau bahkan memukulnya.
__ADS_1
Anin sudah menutup wajahnya yang sembab dengan kedua tangannya, semakin takut jika Raga akan memukulnya. Tapi dugaannya salah.
"Aku minta maaf sudah berburuk sangka kepadamu, aku minta maaf jika sudah mengabaikanmu, aku minta maaf sudah menyakitimu, aku benar - benar menyesal. Aku baru menyadari kehilanganmu saat aku tidak melihatmu dimana - mana. Maafkan aku sudah melanggar janjiku padamu. Aku minta maaf sudah membuat banyak keributan hari ini. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mencintai Ufa lagi, dia hanya masa lalu ku dan aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja. Aku minta maaf sudah menyakiti perasaanmu, aku mencintaimu." Raga memeluk Anin dengan kencang sekali, wanita itu menangis sesenggukan di dalam pelukan suaminya, dan langsung balik memeluk Raga. Seakan pelukan itulah yang bisa melunturkan emosinya.
"Apa cengkraman tanganku tadi menyakitimu?" Raga melepaskan pelukannya dan menarik tangan Anin untuk duduk di pinggiran kasur, ia melihat memar di tangan Anin, lalu mengambil salep untuk mengobati memar itu, sangat perlahan agar tidak menyakiti istrinya lagi.
Kau ini sebenarnya sangat baik, hanya saja kau tidak bisa mengendalikan emosimu sendiri. Anin.
***
Jangan lupa like dan vote nya yang kenceng ya! Makasih banyak, nungguin lolos review lama bgtðŸ˜
Visual
Dokter Deon
Ufairah
__ADS_1