
"Gio!" Panggil Baskara yang tiba-tiba menamparnya. Danu mungkin tidak menyalahkan Gio tapi Baskara berpikir Gio lalai sehingga Tiara masuk rumah sakit.
"Kenapa Papa menamparku?"
"Kamu masih bilang kenapa? Kamu membawa Tiara menaiki motormu malam-malam seperti ini membuatnya jatuh pingsan dan berada di rumah sakit sekarang. Dan kamu diam-diam mengambil kunci motor tanpa seizinku."
"Kamu marah karena itu? Bahkan mereka saja tidak menyalahkanku. Jangan memarahiku jika tidak tahu masalahnya."
"Jangan pernah melukai Tiara sedikit pun. Karena …."
"Karena itu akan menghancurkan bisnismu itu maksudmu? Apa karena itu juga kamu menjodohkan ku dengan gadis penyakitan sepertinya!"
Plak,
Satu tamparan kembali Gio terima. Baskara begitu pandai melakukannya. Gio tersenyum sinis lalu menatap tajam ayahnya. "Kadang aku berpikir, apa aku ini anakmu."
"Kamu!"
"Mas!" teriak Junita. Baskara sudah mengangkat tangannya dan hampir menampar putranya lagi jika Junita tidak menghentikan semua itu. "Sudah cukup. Gio baru saja pulang jangan menamparnya lagi. Gio masuklah ke kamarmu."
"Apa ini sebuah pembelaan? Kalian pandai sekali bersandiwara."
"Gio!"
"Mas! Hentikan."
"Kapan kamu akan bersikap sopan pada ibumu."
"Ibu? Sejak kapan aku punya ibu. Sampai kapan pun aku tidak akan menerimanya sebagai ibuku."
"Anak itu." Baskara sangat kesal Gio pergi begitu saja tanpa meminta maaf.
Arghh …!
Gio berteriak meluapkan emosinya hingga semua barang yang ada di dalam kamar dia lempar dan tendang. Gio muak dengan hidupnya yang suka di atur, sang ayah yang selalu membela ibu sambung. Bahkan ibu kandungnya sendiri tidak pernah menemuinya.
Gio terduduk lemah di samping ranjangnya. Tatapannya begitu kosong, sedetik bayangan masa kecil pun terlintas. "Kenapa kamu meninggalkan ku."
Gio masih ingat ketika sang ibu pergi meninggalkannya. Bahkan wanita itu tidak peduli dengan tangisannya. Sang ayah hanya diam lalu menariknya dengan kasar. Bahkan Gio selalu di marahi ketika ingin bertemu ibunya.
****
"Kawan apa yang terjadi pada wajahmu? Kamu bertengkar lagi dengan ayahmu?" Nico panik melihat luka di wajahnya. "Sampai kapan kamu akan seperti ini." Bahkan Nico bosan melihatnya.
Pertengkaran Gio dan Baskara bukan untuk pertama kali. Semua teman-teman di sekolah sudah tahu hal itu.
"Singkirkan tanganmu." Gio menepis tangan Nico dari bibirnya. "Mana kunci motorku." Nico melemparnya. Semalam Gio meminta tolong Nico untuk membawa motornya di mal.
"Aku titip motor ini di rumahmu. Jika aku bawa pulang motor itu tidak akan bisa kupakai lagi."
"Terserah kamu saja. Ngomong-ngomong sedang apa kamu di mal?"
"Tidak perlu tahu." Gio pergi melewati Nico menuju kelasnya. Di tatapnya bangku kosong milik Tiara, Gio semakin khawatir memikirkannya.
"Apa dia baik-baik saja. Bagaimana keadaannya." Tiara sudah mulai menghantui pikirannya. Bahkan semangat Gio hilang karena tidak melihat Tiara.
__ADS_1
Zy dan Mytha memasuki kelas mereka terkejut melihat bibir Gio yang merah. Dan merasa aneh karena Tiara belum juga datang.
"Gio, dimana Tiara apa dia belum datang?"
"Aku tidak tahu."
"Aish, menyebalkan sekali. Kamu bilang dia tunanganmu tapi kamu tidak tahu kemana Tiara."
"Apa aku harus tahu semua yang dia lakukan? Kalian semua menyebalkan yang terus menekanku." Dengan penuh amarah Gio pergi meninggalkan kelas. Zy dan Mytha merasa aneh dengan sikap Gio.
"Ada apa dengannya?"
"Kamu memancing emosinya," ujar Zy.
"Memancing?"
"Kamu tidak lihat bibirnya? Sepertinya dia bertengkar lagi dengan ayahnya sehingga moodnya tidak baik hari ini."
"Kamu benar. Kadang aku kasihan pada Gio."
"Jangan mengasihaninya dia tidak membutuhkan itu."
"Ngomong-ngomong kemana Tiara jam segini belum datang."
"Entahlah mungkin dia tidak akan masuk hari ini," ujar Mytha melangkah menuju bangkunya yang diikuti Zy.
***
Tiara masih terbaring lemah di atas brankar. Selang infus masih menancap di tangannya. Susan dan Danu masih berada di ruang Dokter membicarakan penyakit Tiara yang semakin parah.
"Setelah transfusi darah dan di cek, sel-sel kankernya sudah menyebar. Dia pingsan karena kelelahan. Sepertinya kita harus melanjutkan kemoterapi."
"Kita jelaskan padanya pelan-pelan. Ini demi kesembuhannya." Danu dan Susan hanya pasrah. Tiara harus menjalani kemoterapi lagi mungkin dia sudah bosan melakukannya.
Mereka kembali ke kamar inap. Namun, Susan dikejutkan karena Tiara menghilang dari kamarnya bahkan dia mencabut infusannya.
"Papa Tiara."
"Kita cari." Danu dan Susan segera pergi mencarinya begitu pun dengan Dokter yang membantu. Mereka mencari di setiap sudut rumah sakit tetapi tidak menemukan Tiara. Entah kemana Tiara pergi.
Gio duduk melamun di sisi lapangan basket. Tiba-tiba ponselnya berdering Susan memanggilnya. Gio segera menjawab panggilan itu berpikir terjadi hal buruk pada Tiara.
"Halo Tante?"
" … "
"Apa? Baiklah aku akan mencarinya sekarang." Gio segera menutup teleponnya berlari meninggalkan sekolah.
Tiara berjalan gontai di sepanjang trotoar. Pakaian rumah sakit masih melekat di tubuhnya bahkan dia berjalan tanpa alas kaki. Tiara berhenti sejenak menghadap ke sebrang jalan melihat siswa TK yang berlarian.
"Bahkan aku tidak tahu seperti apa taman kanak-kanak. Mereka sungguh sangat imut aku ingin kembali ke masa kecil."
Tiara menyebrangi jalan lalu memasuki taman kanak-kanak itu.
"Kakak, apa kau sakit?" Seorang gadis kecil bertanya padanya.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu?"
"Dari baju yang kamu pakai." Tunjuk gadis itu pada pakaian rumah sakit yang Tiara pakai.
"Kamu sangat pintar."
"Kenapa kakak ke sini tidak di rumah sakit?"
"Entahlah. Mungkin aku bosan berada di sana. Lalu kamu sedang apa di sini? Tidak masuk dan belajar."
"Aku juga bosan." Sontak Tiara tertawa gadis itu sangat lucu.
"Kalau begitu maukah kamu bermain?"
"Bermain apa? Sepertinya aku tidak bisa ibuku sudah memanggil. Jika kakak ingin menunggu pergilah ke sana ada taman yang indah."
"Haruskah aku ke sana?"
"Heem harus. Kalau begitu aku pergi dulu bye Kakak." Tiara hanya diam ketika gadis itu pergi. Bahkan dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Haruskah aku pergi ke taman."
"Tiara!" Kakinya berhenti melangkah, panggilan itu membuatnya berbalik ke arah jalanan.
"Gio." Dilihatnya Gio berdiri di sana tatapannya begitu intens hingga dia melangkah mendekat. Wajahnya terkejut saat Gio memeluknya.
Kini mereka berada di taman. Tiara duduk dan hanya diam ketika Gio membersihkan telapak kakinya.
"Kamu bolos sekolah?"
"Karena kamu membuat semua orang khawatir. Bahkan kamu melupakan sepatumu." Gio bangkit berdiri lalu duduk di samping Tiara.
"Kenapa dengan bibirmu?"
"Ini bukan apa-apa aku sering mengalaminya."
"Jadi benar hubungan dengan ayahmu tidak baik."
"Hubunganku dengan dia selamanya tidak akan membaik," ujar Gio lalu menatap Tiara. "Apa yang kamu lakukan? Keluar dari rumah sakit apa itu lucu? Kamu mengkhawatirkan semua orang bahkan kedua orang tuamu."
Tiara segera berpaling dari pandangan Gio. "Apa kamu membawa boneka bearku?"
"Bear?" Gio baru ingat dia meninggalkan boneka itu. Namun, Gio tidak akan membiarkan milik Tiara hilang, tentu saja boneka itu ia dapatkan lagi.
"Apa kamu berniat mencarinya lalu kabur dari rumah sakit? Bagaimana jika kamu pingsan lagi dan tidak ada yang membawamu!"
"Kenapa kamu selalu marah?"
"Sudah pernah ku bilang beritahu aku jika akan pergi."
"Kamu khawatir atau tertekan karena harus menjagaku?"
"Aku mencemaskanmu. Aku benar-benar mencemaskanmu!" Kata Gio dengan nada tinggi. "Sudah ku bilang pulang, tapi kamu sangat keras kepala. Apa kamu tidak berpikir betapa paniknya aku … tiba-tiba aku melihat tubuhmu sudah tergeletak di bawah lantai. Lain kali jangan buat aku khawatir lagi dan menurutlah padaku."
"Kamu juga membuatku khawatir," ucap Tiara membuat Gio menatapnya. Gio hanya diam ketika tangan Tiara mengusap lembut luka di bibirnya. Sejenak Tiara menghentikan tangannya ketika pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
...----------------...
Tinggalkan komentar yang menarik