Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Kembali Membaik


__ADS_3

Hari libur yang seharusnya membahagiakan malah sebaliknya. Entah, apa yang Tuhan rencanakan, menemukan mereka dalam satu kapal.


Angel, masih berdiam diri di depan pagar pembatas seraya menatap ombak yang cukup besar mengikutinya. Tidak peduli angin laut yang sangat kencang menerpa rambut indahnya.


Angel benar-benar bingung dengan sikap Gio.


"Apa Gio menyukai Rara," pikirnya setelah melihat perlakuan Gio pada Rara. "Tidak mungkin mereka memiliki penyakit yang sama. Oh Tuhan kenapa jadi begini, kenapa tidak aku saja yang penyakitan dengan begitu Gio akan memperhatikanku. Kenapa harus gadis itu."


Angel merasa kesal, karena Rara menjadi penghalang untuknya.


...****************...


Gio hendak pergi ke kamarnya tetapi dia bertemu Revan. Keduanya hanya saling pandang dalam diam. Tidak aneh jika mereka seperti itu, dari dulu Gio dan Revan tidak pernah banyak bicara tapi hubungannya kali ini tidak sebaik dulu.


"Gio," panggil Revan menghentikan Gio.


"Aku ingin kamu menyelamatkan Rara," ucap Revan demikian.


Gio menoleh pada temannya itu. Mungkinkah Revan sudah mengetahui penyakit Rara sebenarnya. Mereka pergi minum bersama, sepertinya ini akan menjadi awal kedekatan mereka lagi.


"Jujur aku terkejut mendengarnya. Aku mengaku menyukainya tapi aku tidak tahu Rara mengalami masalah seberat ini. Rara dia gadis ceria, dia selalu tertawa dalam keadaan apa pun. Sulit menebaknya jika dia sedang memiliki masalah. Aku sering bertanya tentang wajah pucat nya tapi Rara selalu bilang dia baik-baik saja. Dia tidak pernah mengatakan lelah atau sakit."


Revan berkata dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Aku tidak pantas untuknya," kata Revan demikian.


Gio menoleh pada sahabatnya yang sedang terpuruk. Untuk pertama kalinya Gio mengangkat tangan untuk mengelus lembut bahu Revan.


"Jika kamu bilang tidak pantas lalu bagaimana denganku? Bahkan aku tidak bisa menyelamatkan Tiara. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Tiara kesakitan. Aku hanya bisa menangis bagai lelaki pengecut," ujar Gio.


Gio menundukkan kepalanya untuk menghalangi air mata yang menetes membasahi pipinya. Seorang lelaki tidak pantas menangis bukan? Namun, mengingat Tiara selalu membuatnya menangis.


"Kenapa kamu menangis? Dasar cengeng. Dulu kita terkenal dengan ketampanan, kekuatan seperti gengster. Semua wanita memuja kita, kita tidak pernah lemah apalagi menangis. Ayolah Gio kamu jangan mempermalukan temanmu ini," ujar Revan membuat Gio tertawa.


"Teman? Akhirnya ada yang memanggilku teman. Sudah lama sepertinya, setelah masa lulus itu berakhir."


Bayangan masa-masa sekolah kembali terlintas di benak mereka. Gio, tersenyum ketika mengingat pertemuannya dengan Tiara. Gadis pertama yang berani menentangnya. Dan gadis pertama yang meluluhkan hatinya.


"Kenapa dengan bibirmu? Apa kamu mengingatnya lagi?" tanya Revan dengan senyuman.


"Bagaimana kabar Nico?" tanya Gio.


"Nico ya. Coba tebak jadi apa dia sekarang?" Revan membalikkan pertanyaan.


"Jadi apa? Seorang penulis? Bukankah dia pandai membuat syair atau pemusik."


"Salah," balas Revan. "Nico, asisten pribadiku sekarang."

__ADS_1


"Apa!" Gio begitu terkejut, seperkian detik senyumnya mengembang. "Aku pikir Nico jadi seorang penulis atau apa ternyata ... kamu hanya mengajak Nico untuk bekerja denganmu." Tatap Gio pada Revan.


"Bukan salahku. Kamu yang pergi meninggalkan kita, tapi ... kapan-kapan kita harus bertemu. Nico pasti senang bisa melihatmu."


"Mm ... ya," balas Gio.


"Soal Rara," ucap Revan tertahan. Entah, apa yang akan dia ucapkan.


"Santai saja, aku tidak menyukainya. Aku hanya ingin membantunya sembuh dari penyakitnya itulah janji ku setelah aku menjadi dokter. Jika kamu menyukainya berjanjilah padaku untuk menjaganya, jangan biarkan setetes linang mengalir dari sudut matanya."


Karena Gio tidak ingin, melihat mata Tiara terus menangis.


"Ya, aku janji. Kamu juga harus berjanji untuk menyembuhkannya."


"Ku usahakan," balas Gio. Mereka berdua pun saling berpelukan.


...****************...


Angel, masih kesal karena rencananya gagal. Niat ingin bermesraan dengan Gio, malah sendirian tanpa teman di atas kapal. Hidangan mewah di depannya tidak menggiurkan selera makannya. Angel malah malas untuk mengisi perut walau cacing dalam perutnya sudah memanggil minta di isi.


"Kenapa hanya di pandang? Bukankah ini makanan lezat, makanlah selagi hangat," ujar Gio yang tiba-tiba muncul lalu duduk di depannya.


"Gio!" Angel begitu terkejut juga senang.

__ADS_1


"Makanlah, aku tidak ingin merusak hari libur kita," ujar Gio yang menuangkan minuman ke dalam gelas Angel.


Angel tentu saja tersenyum. Memang aneh, sikap Gio tidak pernah selembut dan semanis itu pada Angel. Apa Gio sudah menerimanya? Entahlah, hanya Gio yang tahu dan Angel tidak peduli yang penting acara dinner nya berjalan lancar.


__ADS_2