
"Tiara!" teriak Mytha dan Zy pada Tiara yang sudah siap pergi ke pantai.
Outfit yang dipakai pun sangat sederhana, hanya mengenakan dress, dan tidak lekat memakai jaket rajut. Rambut palsu itu membuat Tiara semakin cantik.
"Tiara, rambutmu indah sekali," ujar Zy memuji.
"Di mana Gio?" tanya Mytha celingukan mencari Gio.
"Gio, sudah pergi. Kalian tenang saja dia sudah mengizinkan aku untuk pergi bersama kalian," ucap Tiara.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang, ayok!" Zyana langsung menuntun Tiara menuju mobilnya.
Zy, sebagai pengemudi dan Mytha duduk di bagian belakang. Ketiga wanita itu semakin heboh dan ceria saat atap mobil terbuka.
"Zy, mobilmu keren sekali." Mytha memuji. Tiara hanya tersenyum, melihat keceriaan teman-temannya.
"Tiara kenapa hanya diam? Bicara dong," cibir Mytha, Tiara hanya menanggapi dengan senyuman.
"Eh, apa kita perlu membeli cemilan? Sepertinya iya. Kita mampir ke minimarket sebentar," ujar Zy membelokkan stir mobilnya ke arah mini market.
Mereka bertiga pun ikut turun, hendak memasuki mini market Tiara terhenti saat melihat apotek. Wanita itu baru teringat jika obatnya sudah dia buang, dan berniat untuk membelinya lagi sebelum Gio tahu.
"Tiara, ayo!" ajak Zy ketika langkah Tiara terhenti.
"Kalian berdua masuk saja dulu, aku mau ke apotek sebentar ada yang harus ku beli," ujar Tiara. Zy dan Mytha pun menoleh ke arah apotek yang bersebrangan dengan mini market.
"Apa mau aku antar?" tanya Mytha.
"Tidak usah, aku sendiri saja. Kalian masuk saja dulu, aku mau ke apotek dulu."
"Baiklah. Kita masuk dulu," ujar Mytha dan Zy yang melangkah memasuki mini market. Dan Tiara melangkah ke arah apotek.
Tiara celingukan melihat kendaraan yang akan melintas, setelah sepi barulah dia menyebrang.
Entah sebuah kebetulan, atau memang takdir Tiara selalu dipertemukan dengan Revan. Tiara tertegun melihat punggung lebar itu, ingin berbalik terlanjur Revan melihatnya.
"Tiara?" Tiara hanya tersenyum ketika Revan memanggilnya.
"Hai Revan, apa kamu sedang sakit?" tanya Tiara sekedar basa-basi padahal hatinya sangat gelisah, takut Gio melihat.
"Tidak, aku hanya membeli beberapa vitamin," jawab lelaki itu.
Tiara memilih diam, mengalihkan perhatiannya pada si pelayan toko untuk memesan beberapa obat yang dia butuhkan. Tatapan Revan tertuju pada tangan Tiara yang kosong tanpa gelang darinya.
"Apa kamu tidak memakai gelang dariku?" tanya Revan.
Tiara segera menengok tangan kirinya.
"Mm ... aku lupa memakainya. Setiap kali tidur aku selalu membukanya," jawab Tiara dengan gugup.
Revan hanya ber-Oh ria. Tersenyum dengan rasa kecewa.
__ADS_1
Seorang pelayan memberikan obat padanya. Tiara pamit pergi tetapi Revan mengikutinya, sekedar menawarkan tumpangan.
"Kamu sendiri tidak bersama Gio?" tanya Revan.
"Gio sedang ada urusan," jawab Tiara.
"Mau aku antar?"
Langkah Tiara terhenti seketika. Wanita itu menoleh pada pria tampan yang selalu perhatian padanya. Dengan senang hati Tiara akan menerima tawarannya tetapi, tidak dengan saat ini yang statusnya sudah berubah.
Menjadi seorang istri dari Nathaniel Gionino Putra yang sangat cemburu pada sahabatnya sendiri Revan. Membuat Tiara harus menjaga jarak dengan pria mana pun tidak hanya Revan.
"Terima kasih tawarannya, tapi a ...."
"Revan!" teriak Nico di sebrang sana menghentikan ucapan Tiara dan mengalihkan pandangan Gio. Nico berdiri bersama Zy dan Mytha, tangannya melambai pada Revan yang tengah bersama Tiara.
Revan dan Tiara pun menghampiri mereka.
"Revan, kita ke pantai. Mereka semua akan pergi ke pantai," ujar Nico memberitahukan Revan.
"Pantai?" tanya Revan.
"Ya, aku, Tiara dan Zy. Jika kalian mau ikut ayo!" ajak Mytha.
'Bagaimana ini, Gio tahunya hanya Zy dan Mytha yang menemaniku. Aku mohon Revan kamu jangan ikut,' batin Tiara.
"Ayolah Revan."
Namun, tidak dengan Tiara yang bimbang dan gelisah. Satu pesan dia kirimkan pada Gio hanya sekedar memberitahu jika Revan dan Nico ikut pergi.
Namun, Gio yang sedang sibuk belajar menjadi seorang CEO hanya fokus pada arahan Baskara, dan mendengarkan persentase para klien hingga mengabaikan panggilan dan pesan dari Tiara.
Tiara semakin tidak tenang takut Gio marah lagi.
"Tiara ayo!" teriak Mytha dari dalam mobil.
"Zy, kayanya aku mau pulang saja," ujar Tiara mencemaskan kedua temannya.
"Apa kamu sakit? Ada yang terasa nyeri?" tanya Mytha dan Zy khawatir.
"Tidak, aku hanya pusing dan ingin istirahat.," jawab Tiara.
"Biar aku antar," tawar Revan yang turun dari mobil.
"Ayo aku antar kamu pulang."
"Tidak usah. Kalian pergi ke pantai saja aku akan hubungi Gio nanti."
"Kalau begitu hubungi Gio sekarang. Aku tunggu sampai Gio datang," tegas Revan.
Tiara terdiam, dia bingung. Gio tidak juga menjawab teleponnya, sedangkan Revan kekeh menunggu Gio datang.
__ADS_1
"Tidak dijawab, kan? Lebih baik aku antar kamu saja. Buat kalian pergi saja ke pantai nanti aku menyusul."
"Ta-tapi ...," ucap Tiara tertahan karena Revan langsung menuntun tangannya ke arah motornya berada.
.Tiara hanya pasrah, membiarkan Revan mengantarkannya pulang.
.
.
"Revan, terima kasih sudah mengantarkan aku. Namun, maaf aku tidak bisa mengajakmu mampir karena aku ingin istirahat," kata Tiara setelah sampai.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Istirahatlah aku akan pulang." Tiara hanya mengangguk.
Hati Tiara sangat lega dan tenang ketika Revan pergi, tetapi ketenangan itu hanya sesaat sampai sebuah motor sport memasuki rumahnya.
Revan dan Gio berpapasan di depan gerbang, mereka menghentikan motornya sejenak dan saling pandang.
Tiara semakin gelisah, bingung harus mengatakan apa pada Gio. Sedetik tatapan Gio beralih pada Tiara yang berdiri di depan pintu. Dan kembali menatap Revan.
Gio, membuka helm full face nya lalu turun dari motor. Tatapan tajam dia pancarkan pada Revan.
"Aku hanya mengantarkan Tiara pulang," ujar Revan lalu pergi dari rumahnya.
Gio, kembali menaiki motor, melajukan ke arah Tiara dan berhenti. Tiara segera mendekat ke arah Gio yang sudah turun dari motor.
"Gio, aku bisa jelaskan," ucap Tiara.
"Apa kamu melakukan kesalahan? Sehingga harus menjelaskannya padaku." Gio berkata dengan tatapan yang tidak biasa. Melewati Tiara memasuki rumah.
Tiara segera menyusul Gio.
"Aku takut kamu salah paham, aku pikir untuk menjelaskannya." Tiara terus berkata sepanjang langkah mengikuti Gio.
"Tidak perlu menjelaskan apa pun karena aku sudah melihatnya. Kalian bersenang-senang hari ini?" tanya Gio dingin.
"Gio!" Panggilan Tiara ketika Gio memasuki kamar mereka. Gio terlihat sangat marah hingga mengunci pintu kamar.
Tiara bingung harus menjelaskan seperti apa. Berulang kali Tiara mengetuk pintu itu tetapi tidak terbuka.
"Gio, buka pintunya." Gio hanya diam di dalam kamar, tidak peduli dengan teriakan Tiara.
Tiba-tiba Tiara merasa mual dan pusing. Dia lupa tidak meminum obat dari kemarin.
"Gio, aku mohon buka Gio! Mm ...."
Tiara sudah tidak tahan ingin memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Tiara segera berlari ke arah dapur.
Lama tidak mendengar teriakan Tiara, Gio segera membukakan pintu. Namun, tidak melihat Tiara di sana. Hingga Gio mencarinya ke sekeliling rumah, dan berhenti di tengah dapur.
Matanya terbelalak seketika, saat melihat Tiara yang tergeletak di bawah lantai.
__ADS_1