Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Cemburu


__ADS_3

"Tiara!" teriak Gio yang sudah sampai di rumah.


Namun, keadaan rumah sangat sepi, tidak ada Tiara di sana. Gio mencari ke setiap sudut hingga ke belakang danau, tetapi tidak menemukan Tiara.


Tiara berjalan gontai sepanjang jalan, tatapannya begitu kosong memikirkan seorang gadis yang mencium Gio saat itu.


Tentu Tiara itu sangat minder, gadis yang mencium Gio sangat cantik dibandingkan dirinya, yang memiliki wajah pucat, rambut botak, serta kurus. Tidak mungkin Gio suka padanya jika bukan karena kasihan.


Tiara duduk perlahan di pinggir trotoar, tidak takut jika akan ada orang jahat yang melintas, atau pasukan geng motor yang bisa saja melukainya.


Jalanan yang gelap, membuat Tiara bebas menangis.


"Aku memang bodoh, tidak mungkin Gio menyukaiku, dia menikahi ku karena kasihan. Gio tidak akan menyukai wanita penyakitan seperti aku. Seharusnya aku sadar diri Gio pasti lelah dan bosan menemaniku yang hanya diam di atas ranjang. Bahkan aku sudah hampir mati," ucap Tiara yang masih terduduk lemah.


Gio masih mencari Tiara di sepanjang jalan, tetapi tidak dia temukan. Tiara berdiri meninggalkan jalanan gelap itu berjalan menuju kota, tempat keramaian.


"Lihatlah tuh cewek, orang gila atau bukan? Wajahnya pucat banget kaya hantu." Tiara menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar hinaan itu.


"Bilang saja jika kamu tertarik Bro," ujar teman pria yang tengah menyindir Tiara.


"Tertarik apaan, gue masih waras bro. Tubuh kurus, muka pucat siapa yang akan tertarik padanya."


Hati Tiara semakin sakit mendengar hinaan itu. Tangannya mengepal seolah ingin menghajar pria-pria itu, tetapi tidak mungkin dia lakukan. Tubuh yang kurus dan lemah tidak mungkin menghantam tubuh seseorang.


Tiara kembali pulang, tapi tidak melihat Gio di sana. Tiara berpikir jika Gio sedang bersenang-senang. Berjalan Tiara ke dalam kamar, menatap bayangan dirinya pada pantulan cermin.


Hinaan pemuda tadi kembali terngiang, hingga perkataan Bella dia ingat lagi. Jika Gio terpaksa menikahinya bukan karena cinta.


Dengan emosi Tiara membuka ciput rajutnya, dia menatap sedih kepala botaknya. Tubuh kurus hingga terlihat tulang dada yang sangat menonjol, menatap diri sendiri bagaikan tengkorak sangat menjijikkan.


Pipi tirus, dan bibir yang kering tidak akan terlihat cantik walau ditutup riasan sekali pun. Tiara membuang semua make up nya yang berantakan di bawah lantai.


Serta semua obat yang di dalam laci dia buang ke dalam closet. Tiara kembali putus asa dan menyerah. Hingga saat melihat air dalam bathtub Tiara merendam tubuhnya dalam air yang dingin.


Tidak peduli tubuhnya sudah menggigil, air itu semakin tinggi, dan Tiara semakin menenggelamkan tubuhnya.


Gio baru saja sampai, merasa putus asa karena tidak menemukan Tiara. Pria itu duduk bersandar pada sofa, tiba-tiba terbangun mendengar suara keran air yang menyala.


"Apa Tiara sudah pulang," ucapnya segera melangkah ke dalam kamar.


"Tiara!" Gio terkejut, melihat kamar yang berantakan.


Tatapannya kini tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka. Gio segera berlari memasuki kamar mandi, matanya terbelalak ketika melihat tubuh Tiara yang tenggelam dalam bathtub.

__ADS_1


"Tiara!"


Gio segera mengangkat tubuh kurus itu. Tiara sudah tidak sadar, yang langsung Gio bawa ke atas ranjang tidak peduli tubuh yang basah.


Gio sangat menyesal, sudah meninggalkan Tiara hanya karena rasa cemburu.


"Tiara bangun, aku mohon. Bangunlah Tiara kamu pasti salah paham, gadis itu bukan siapa-siapa aku. Aku tidak pernah memintanya untuk mencium ku," ucap Gio semakin khawatir.


Setelah mengganti pakaian Tiara, Gio segera menghubungi Dokter untuk memeriksa Tiara.


.


.


Sampai pagi menjelang, Tiara belum sadarkan diri. Gio yang tertidur di sampingnya tidak merasakan gerakkan apa pun dari Tiara walau hanya gerakkan jari tangan saja.


Gio menyentuh dahi Tiara memastikan jika demamnya sudah turun.


"Syukurlah demamnya sudah turun," ucap Gio lalu bangun dari kursi berjalan ke arah kamar mandi.


Tiara mengerjap, membuka mata itu dengan perlahan. Tiara tidak mengingat apa pun selain seorang gadis yang mencium Gio.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Tiara. Segera Tiara menutup mata saat Gio keluar dari dalam kamar mandi itu.


"Panasnya sudah turun kenapa belum terbangun juga," ucap Gio merasa heran.


"Sebaiknya aku memasak bubur dulu untuknya," ucap Gio lalu keluar dari kamar.


Tiara membuka mata, setelah Gio benar-benar pergi.


DAPUR


"Cara membuat bubur," ucap Gio membaca artikel pada ponselnya.


Belajar memasak sangat mudah di zaman serba modern ini. Hanya dengan satu klik, ada banyak artikel memasak yang bisa membantumu.


Seperti yang Gio lakukan pagi ini. Gio menyimpan benda datar itu tepat dihadapannya yang Gio sandarkan pada sebuah wadah. Satu panci Gio letakkan di atas kompor, lalu menuangkan segelas beras yang di campurkan dengan air.


Selama memasak kedua tangannya sibuk mengiris beberapa sayuran yang akan dicampurkan. Satu jam lamanya Gio memasak, hasilnya cukup memuaskan sangat encer dan entah seperti apa rasanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tiara yang tiba-tiba muncul.


Gio segera berbalik pada Tiara. "Kamu sudah bangun? Aku membuat bubur untukmu," ujar Gio, lalu menuangkan bubur itu ke dalam mangkok, membawanya ke atas meja makan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa rasanya enak atau tidak, cobalah." Gio berkata sambil memberikan sesendok bubur pada Tiara.


"Ini masih panas," ucap Tiara membuat Gio kembali menarik sendoknya.


"Kalau begitu kita tunggu sampai dingin," ujar Gio.


Tiara terus menatap Gio, aneh baginya karena Gio seakan lupa dengan masalah semalam. Namun, Tiara tidak bisa melupakannya begitu saja.


"Gio," ucapnya membuat Gio menatapnya.


"Aku ingin bicara," sambung Tiara yang langsung disanggah Gio.


"Aku ingin meminta maaf atas sikap ku kemarin," ujar Gio. "Aku mendiamkan mu dan meninggalkan mu. Dan satu lagi, jangan salah paham tentang gadis semalam. Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan, aku sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan gadis itu, percayalah. Aku pergi hanya karena kesal sehingga aku ingin pergi balapan," ungkap Gio.


"Jika pun kamu ada hubungan dengan gadis itu, aku tidak masalah. Karena kamu juga berhak memilih dan bahagia Gio."


Kening Gio mengerut mendengar perkataan Tiara. "Apa maksudmu?" tanya Gio.


"Aku gadis tidak sempurna, penyakitan dan tidak bisa diandalkan. Kamu seorang pria yang sempurna, pasti ingin mempunyai istri yang bisa membahagiakanmu, yang cantik, dan sehat yang tidak akan dihina saat bersamamu. Aku tahu kamu menikahi ku karena terpaksa, setelah malam itu aku sadar, aku seharusnya tidak memaksamu untuk menikahi ku."


"Tiara sudah aku bilang aku tidak ada hubungannya dengan gadis itu."


"Kamu jangan membohongi dirimu Gio, lihat aku … rambut botak, tubuh kurus, wajah pucat tidak mungkin pria sepertimu menyukaiku."


"Lalu siapa yang berhak menyukaimu? Apa itu Revan?" Gio bertanya dengan dingin, rasa cemburunya kembali lagi.


"Revan? Kenapa kamu menyebut namanya? Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini."


"O ya?" Gio bangkit berdiri mendekati Tiara. "Apa ini," katanya menjunjung tangan Tiara yang terdapat sebuah gelang.


"Kamu menerima pemberiannya tanpa seizinku. Apalagi jika bukan karena menyukainya, katakan apa kamu menyukai Revan?" Tatapan Gio berubah menakutkan.


"Ini sebuah gelang, apa hubungannya dengan suka atau tidak."


"Ya, ini memang sebuah gelang. Namun, kamu harus ingat … aku adalah suamimu, yang berhak melarang apa pun yang tidak aku suka. Dan aku tidak menyukai pemberian Revan ini. Seharusnya kamu mengerti kenapa aku pergi semalam, balapan, dan …."


"Dicium seseorang," sanggah Tiara membuat Gio diam.


"Jadi karena ini kamu marah? Seharusnya kamu katakan dari awal, bukan pergi lalu bersenang-senang." Tiara bangkit dari duduknya menatap Gio dengan amarah.


"Apa kamu tahu semalam aku sangat khawatir padamu. Sehingga aku pergi mencari mu, tapi apa yang aku lihat … kamu tertawa dan bersenang-senang, bahkan ciuman seorang gadis tidak kamu hiraukan. Kamu hanya diam tanpa menghindar itu artinya kamu juga menyukainya."


Tiara berlari ke dalam kamar, meninggalkan Gio yang hanya diam mematung.

__ADS_1


__ADS_2