Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Batuk Darah


__ADS_3

Gio masih setia menunggu Tiara, setiap hari, setangkai bunga matahari selalu dibawa pria itu, menyimpannya di samping Tiara. Gio selalu berharap agar Tiara cepat bangun.


"Entah kapan kamu akan bangun, aku akan menunggumu di sini," ucap Gio.


Namun, seseorang telah memanggilnya. Baskara meminta Gio mendatangi parusahaan. Gio ragu antara pergi atau tinggal, tetapi Gio juga harus menghadiri pertemuan penting di perusahaan ayahnya.


"Tiara, aku pergi sebentar jaga dirimu baik-baik," bisik Gio pada telinganya lalu mengecup kening mulus itu, setelah itu Gio pergi.


Gio terus melangkah tanpa melihat ke belakang. Revan, berdiri menatap kepergiaannya lalu masuk ke kamar VIP tempat Tiara berada.


Perlahan Revan membuka pintu lalu mendekati ranjang, tempat Tiara berbaring.


Pria itu menatap Tiara dalam diam.


"Apa kamu tahu, akhir dari cerita yang kita baca? Berulang kali dan terus aku mengulang, hingga air mata ini jatuh. Akhir cerita itu sangat menyedihkan, aku tidak menyukainya karena si tokoh wanita harus tiada," ucap Revan.


"Aku harap, itu tidak akan terjadi padamu. Kamu masih ingat kupu-kupu yang aku katakan? Teruslah terbang seperti mereka, walau hidupnya tidak akan lama." Revan berkata dengan senyuman.


Menyimpan sebuah buku romansa di samping Tiara. Pria itu tidak lama hanya ingin memastikan keadaan wanita yang dia cinta. Revan pergi meninggalkan kamar VIP itu.


Tiara mengerjap, kelopak mata itu terbuka perlahan, lalu memindai sekeliling ruangan. Wanita itu mulai mengingat pertengkarannya dengan Gio, hingga Tiara langsung mencari Gio yang tidak ada di dekatnya.


"Gio," ucap Tiara berusaha untuk bangun.


Namun, tubuhnya yang lemah tidak kuat dan kembali berbaring. Sebuah buku di sampingnya terjatuh, Tiara menunduk melihat apa yang sudah wanita itu jatuhkan.


"Buku," ucapnya.


Namun, saat hendak mengambil seorang wanita sudah mengambil buku itu untuknya.


"Love story," ucap wanita itu, Tiara pun mendongak menatap siapa wanita di depannya.


"Kamu," ucap Tiara saat melihat Rara.


"Eh, kamu jangan dulu bangun, berbaringlah!" titah Rara. Wanita itu membantu Tiara berbaring di atas ranjangnya.


"Ini bukumu." Rara memberikan buku romansa itu. "Aku sepertinya mengenal buku itu, seperti punya temanku," lanjut Rara.


"Apa kamu mau membersihkan kamar ini?" tanya Tiara, melihat Rara memegang alat pelnya.


"Tidak, aku ke sini ingin menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Rara yang dijawab anggukan oleh Tiara seraya berkata, "Lebih baik."


"Di mana suamimu? Biasanya dia ada di sini."


"Setiap hari?" tanya Tiara.


"Hem," jawab Rara dengan anggukan. "Aku tidak berani masuk karena ada Gio, tapi ke mana pria itu sekarang, dia tidak pernah pergi dari kamarmu," sambung Rara celingukan.


"Apa kamu melihat ada yang masuk selain Gio?" Tiara penasaran apa Revan datang menjenguknya.


"Tidak. Saat aku masuk tidak ada siapa pun di sini," jawab Rara.

__ADS_1


'Apa mungkin Revan datang? Dia meninggalkan bukunya,' batin Tiara menatap buku romansa itu.


"Wajahmu pucat sekali Tiara." Tiara hanya tersenyum menanggapi perkataan Rara.


"Apa aku pernah tidak terlihat pucat?" tanyanya pada Rara yang hanya diam.


Tiara menoleh ke arah meja samping ranjangnya. Wanita itu baru menyadari begitu banyak bunga matahari yang ada di kamarnya.


Tangan Tiara terulur mengambil bunga itu, sedetik bibirnya melengkung, Tiara tahu pasti Gio yang sudah membawanya.


"Kamu menyukai sun flower?" Rara bertanya lagi, Tiara pun mendongak menatapnya.


"Hem, apa kamu menyukainya juga?"


"Aku tidak terlalu suka bunga," jawab gadis itu. "Aku tidak pandai merawatnya, dan … suka ada kumbang pada kelopak bunga, aku tidak menyukainya."


Tiara tersenyum mendengar perkataan Rara. Lalu mencium bunga mataharinya lagi.


Tiba-tiba Tiara terbatuk membuat Rara terkejut juga panik.


"Tiara, kamu tidak apa-ap …." Rara tercengang. Begitpun dengan Tiara, ketika melihat cairan kental merah yang keluar dari mulutnya. Hingga menodai bunga mataharinya.


"Batuk darah," ucap Rara membuat Tiara menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa ini hanya batuk," ucap Tiara, celingukan mencari sebuah benda untuk menghapus darahnya.


Rara segera memberikan tisu pada Tiara.


"Terima kasih," ucap Tiara.


Tiara hanya diam di dalam kamar seraya menatap ke arah jendela.


"Aku masih bisa melihat cahaya matahari, hidupku masih lama bukan?" Tiara bermonolog.


"Tiara?" Panggilan Gio mengalihkan pandangannya, Tiara tersenyum melihat Gio melangkah ke arahnya.


"Kapan kamu terbangun? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Gio setelah duduk di sampingnya.


"Apa aku memiliki ponsel untuk menghubungimu?" Gio tersenyum, mendapat jawaban itu.


"Dari mana? Pakaianmu sangat rapih sekali?" tanya Tiara.


"Perusahaan," jawab Gio. "Papa memintaku datang, aku pikir sebentar jadi aku pergi dan tidak melihatmu terbangun."


"Kamu sudah melihatku terbangunkan sekarang? Gio, aku ingin kita pergi ke atap. Aku ingin melihat matahari, apa mataku masih silau melihatnya," ucap Tiara membuat senyum Gio memudar.


"Tidak ada hubungannya, antara silau atau tidak melihat sinar mentari. Tidak ada kaitannya dengan kita meninggal atau hidup. Kamu masih harus istirahat jangan pergi ke atap," ujar Gio tidak mengizinkan.


Tiara menoleh pada suaminya yang memasang wajah masam.


.

__ADS_1


.


"Batuk darah, apa itu sangat berbahaya? Aku lupa menanyakan apa penyakitnya. Sungguh, aku masih merasa takut."


Rara terus terbayang-bayang akan darah yang keluar dari mulut Tiara. Sehingga bekerja pun tidak fokus.


"Dari pada melamun buatkan aku satu kopi," ucap Revan membuyarkan lamunannya.


Rara tersadar, melihat Revan yang sudah duduk dihadapannya.


"Kenapa hanya diam? Buatkan aku kopi."


"Kamu baik-baik saja?" Bukannya pergi Rara malah bertanya balik membuat Revan mengerutkan keningnya.


"Memangnya aku terlihat sakit?"


"Apa hari ini kamu ke rumah sakit? Menjenguk Tiara wanita yang kamu cinta."


Revan langsung menatap Rara dan berkata, "Apa yang kamu tahu tentang cinta? Jangan bicara omong kosong segera buatkan kopi untukku."


"Hari ini aku melihat buku romansa milikmu, aku tahu kamu mengunjungi Tiara."


Rara masih diam dan bicara ngaur.


"Dan hari ini aku melihat sesuatu yang menakutkan. Darah, Tiara batuk darah hari ini," ucap Rara membuat Revan terdiam.


.


.


Selimut tebal Gio tarik menutupi tubuh Tiara yang sudah tertidur lelap. Lalu berdiri menyentuh bunga matahari pemberiaannya.


Berulang kali Gio menghitung bunga itu berkurang, satu tangkai hilang. Gio merasa heran kemana hilangnya bunga itu. Saat membuka laci dia tertegun melihat bunga matahari yang ternodai darah.


Sedetik Gio menatap Tiara seraya memegang bunga itu.


"Tiara," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Gio kembali teringat perkataan Dokter.


"Bagaimana keadaannya Dokter? Apa Tiara bisa pulang secepatnya?" tanya Gio.


Dokter itu hanya diam sambil menghela nafas berat, setelah melihat catatan medis milik Tiara.


"Tidak ada perubahan, ada banyak gejala tapi … selama pasien belum mengalami Hemoptysis tidak perlu khawatir. Aku akan memeriksanya minggu depan semoga keadaannya lebih baik," jelas Dokter itu.


"Hemoptysis apa itu?" tanya Gio yang sama sekali tidak mengerti tentang medis.


"Batuk darah," jawab Dokter.


Gio tidak bisa mengatakan apa pun, karena tidak pernah melihat Tiara batuk darah.

__ADS_1


'Apa saat itu Tiara …,' batin Gio mengingat Tiara yang tergeletak di tengah dapur. Menemukan Tiara dalam keadaan pingsan dan penuh darah.


Dan kini Gio menemukan sebuah bunga yang ternodai cairan kental merah mungkinkah Tiara sudah mengalami hemoptysis.


__ADS_2