
Tiara berdiri di depan ruang ICU, dia hanya bisa melihat Gio dari luar. Seberat itukah masalahnya sehingga Gio harus menerima musibah ini. Tiara tidak menyangka jika Gio akan mengalami kecelakaan yang parah.
"Mama, boleh aku masuk?" Tiara memohon untuk masuk ke dalam ruang ICU, mereka tidak bisa melarang yang mengizinkan Tiara masuk.
Tiara berjalan pelan ke arah Gio, dengan berpakaian khusus dari perawat, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan itu. Tiara berdiri di samping Gio menyentuh tangannya dan menggenggam. Gio yang selalu keras, membantah, dan membuat semua orang takut kini harus terbaring lemah.
Tiara merasa melihat Gio dari sisi yang berbeda. Dari kenakalannya, ada banyak masalah yang dipendam.
"Gio, ini aku. Aku sungguh hampir mati mencarimu, aku sangat mencemaskanmu. Jika aku tahu kecelakaan itu akan terjadi aku tidak akan membiarkanmu pergi dan tetap bersamaku di rumah sakit. Seharusnya kamu memang tidak pergi Gio," ucap Tiara yang terisak.
Genggaman tangannya semakin erat seolah menguatkan Gio untuk kembali sehat. "Bagaimana aku bisa menahanmu, saat aku bangun kamu sudah tidak ada di samping ku." Memang Gio pergi sebelum Tiara terbangun.
"Kamu tahu … aku menunggumu di sekolah. Aku pikir untuk memberimu kejutan ternyata … kamu yang memberikan ku kejutan. Tapi kejutanmu membuat aku takut." Tiara semakin terisak.
"Jangan lagi terbaring seperti ini Gio, aku tidak ingin kejutan ini lagi," ucap Tiara mengusap lembut air matanya.
Sekilas kenangan mereka terbayang, ketika Gio datang membawa boneka teddy bearnya, ketika Gio memeluknya, dan ketika datang saat malam menggendongnya ke atas atap. Tiara sangat merindukan masa itu. Saat Gio menjaganya.
Pertemuan pertama memang tidak seindah yang dibayangkan. Gio terlihat dingin dan sombong, bahkan mereka sering berselisih. Masih Tiara ingat wajah terkejut Gio ketika Baskara mengatakan perjodohan mereka, Gio yang tidak terima melanpiaskan amarahnya pada Tiara.
Namun, takdir berkata lain. Tuhan terus mempertemukan mereka, tiba-tiba saja Gio datang memberikannya perhatian, melindungi Tiara dari orang-orang yang merundungnya. Bahkan Gio mengatakan jika Tiara miliknya mengingatkan semua orang untuk tidak mengganggu dirinya.
Hingga hubungan mereka semakin dekat. Tiara bisa melihat sisi Gio yang baik, yang tidak pernah orang lain lihat.
Tiara tidak ingin berlama-lama menangisi Gio. Dia pun memutuskan untuk pergi, tetapi jari tangan Gio menggenggam kuat tangannya seolah tidak mengizinkan Tiara pergi.
Tiara kembali menatap wajah Gio yang masih terpejam. Perlahan Tiara melepaskan genggaman tangannya lalu pergi.
***
"Tiara!" teriak Mytha dan Zy yang melihat Tiara masuk sekolah.
"Tiara, akhirnya kamu kembali sekolah,'' ucap Mytha yang memeluk Tiara begitu pun dengan Zy.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Zy. Tiara pun mengangguk lalu berkata, "Ya."
"Pasti karena kita menjengukmu 'kan kemarin," ujar Mytha yang diangguki Tiara mereka pun saling memeluk.
__ADS_1
"Jangan pernah sakit lagi," tutur Zy. Dia terlihat sinis tetapi sangat peduli.
"Tentu saja aku tidak akan sakit lagi karena ada kalian," ucap Tiara pada kedua temannya yang merasa terharu mendengar perkataan itu.
Tiba-tiba tiga orang siswi mendekati mereka yang berkata sinis dan menatap Tiara. "Hei lihatlah, cinderella kita sudah datang," ujar siswi bernama Angel. Tatapannya begitu tajam pada Tiara.
"Haruskah kita panggil cinderella atau tunangan Gio? Aish, Gio benar-benar tidak beruntung mendapat tunangan seperti dia yang sakit-sakitan," ucap seorang siswi bernama Ara sangat menusuk hati.
"Dan sekarang Gio ikut sakit. Semenjak kedatanganmu Gio kami jadi sial, mungkin saja perjodohan itu yang membuat Gio kecelakaan," cibir siswi yang bernama Alisa.
"Hei! Jaga ucapan kalian!" Mytha jadi emosi.
"Ah, sungguh menyebalkan," ujar Zy yang sudah siap menghadang para gadis itu. "Bilang saja jika kalian cemburu!" tegas Zy. "Gadis populer dan terkenal Angel the geng, tidak bisa mendapatkan hati Gio oh … sungguh kasihan. Angel kamu terkalahkan oleh Tiara. Karena Tiara adalah cinderella sesungguhnya, tidak ada yang bisa menaklukkan hati Gio selain Tiara." Zy berkata dengan penuh emosi.
Angel yang tidak terima di hina langsung menjambak rambut Zy. Mytha yang melihat Zy di keroyok tidak tinggal dan diam yang langsung membantunya.
Tiara berniat memisahkan mereka, tetapi malah dirinya yang tersungkur. Angel the geng mendorong tubuh Tiara hingga terjatuh.
"Tiara!" teriak Zy dan Mytha yang langsung menoleh. Seseorang telah menahan tubuh Tiara membuat mereka tercengang.
"Revan," ucap mereka bersamaan. Mata mereka membulat dengan sempurna ketika Revan menahan tubuh Tiara yang hendak terjatuh. Bahkan Pandangan mereka saling bertemu.
"Aku baik-baik saja," jawab Tiara. "kalian baik-baik saja?" tanya Tiara pada keempat siswi yang bertengkar. Mereka semua langsung melepas jambakannya dan menjauh. Bahkan seragam yang mereka pakai ikut berantakan.
PD-Nya Angel yang langsung menghampiri Revan, mendekatinya dan bicara manja. Hingga mereka menyingkirkan Tiara, tetapi Revan mengabaikan yang langsung menghampiri Tiara.
"Tiara, aku ingin bicara denganmu," ucap Revan. "Ikut aku." Katanya seraya menarik tangan Tiara pergi menjauhi teman-temannya. Tentu saja Angel the geng sangat kesal.
"Tiara benar-benar keterlaluan. Revan pun dia embat."
"Hai Angel! Terima saja jika Revan tidak tertarik padamu," ucap Zy dan Mytha bersamaan. Angel segera menolah sambil mengumpat kesal. "Ih, menyebalkan." Setelah mengatakan itu Angel pergi bersama teman-temannya.
****
Revan dan Tiara berada di pinggir lapangan. Mereka duduk berdua sambil melihat anak-anak main basket.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Revan?"
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu? Beberapa hari ini aku tidak melihatmu katanya kamu sakit?"
"Sekarang aku sudah sembuh. Jangan cemaskan aku."
"Apa kamu tahu Gio kecelakaan?"
"Ya. Aku tahu. Gio belum sadar tapi dia sudah melewati masa kritisnya."
"Kamu tahu banyak tentangnya," ujar Revan menatap Tiara. "Aku lupa jika kamu adalah tunangannya," tambahnya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Tiara melihat ekspresi Revan yang berbeda. "Kita belum bertunangan, tapi baru dijodohkan," lanjut Tiara.
"Apa kamu ingin? Maksudku apa kamu akan tetap bertunangan walau dijodohkan?"
"Entahlah. Aku belum memikirkan itu aku masih sekolah. Lagi pula itu kesepakatan kedua orang tua." Revan merasa lega. "O ya Revan jika tidak ada yang ingin dikatakan lagi aku harus pergi ke kelas," tambah Tiara.
"Tunggu dulu." Tahan Revan. "Apa kamu mau ke perpustakaan?" tawar Revan.
"Perpustakaan?"
"Ya, ada buku baru untukmu," ucap Revan lalu menuntun Tiara pergi ke perpustakaan.
Mereka terus menyusuri rak buku yang sangat tinggi dan besar. Ruangan perpustakaan itu sangat luas entah sudah berapa rak buku yang mereka susuri.
Revan menemukan sebuah buku yang menarik diberikannya pada Tiara. "Buku romansa kamu ingin baca?" tanya Revan menunjukkan buku itu.
"Love Story," ucap Tiara membaca judul buku itu. "Apa yang menarik dalam buku ini? Ini kisah cinta," tambahnya.
"Tidak hanya kisah cinta tapi juga pengorbanan cinta," tambah Revan. "Kisah perjuangan seorang pria yang berjuang demi kehidupan sang kekasih. Wanitanya menderita penyakit parah, penuh haru, dan ketulusan. Aku yakin kamu menyukainya," ucap Revan menjelaskan.
Tiara jadi tertarik membacanya. Dia ingin lihat apakah tokoh utamanya selamat. Hingga Tiara terus membacanya sampai selesai. Revan setia menunggu, menemani Tiara hingga dia tertidur.
Tiba-tiba air mata Tiara jatuh, buku romansa itu membuatnya ingin menangis. Sebuah jari tangan mengusap air matanya, ketika melirik, Revan sedang menatapnya.
"Apa sesedih itu?" tanya Revan membuat Tiara termenung.
...****************...
__ADS_1
Double up hari ini tapi kok sepi 😔 komentarnya dong biar author lebih semangat.