
Tiara berjalan sendirian menyusuri rak buku di perpustakaan. Entah buku apa yang dia cari, kakinya mulai berjinjit meraih buku yang berada paling atas. Namun, karena tubuh yang terlalu pendek membuat Tiara kesulitan tapi seseorang datang membantunya.
Sebuah tangan melintas di atas kepalanya, yang meraih sebuah buku yang dia inginkan. Tiara hanya diam melihat tangan tegap itu memberikan buku padanya. "Jika tidak sampai kamu bisa naik kursi atau minta bantuan." Tiara segera mendongak menatap pria itu.
Tampan, tinggi, perhatian. Senyum yang mengesankan dialah Healvito Revan Abraham cogan yang ketiga dari T-C-K (Trio Cowok Keren) sikapnya memang tidak sedingin Gio dia lebih lembut dan sedikit perhatian. Namun, seperti apa yang Gio katakan Revan sedikit angkuh terapi tidak pada Tiara. Siapa pun yang melihatnya akan terkagum-kagum.
"Terima kasih," ucap Tiara yang langsung mengambil buku itu.
"Revan," ucap Revan yang mengulurkan tangannya. Tiara hanya bengong menatap tangan itu. "Baru kali ini ada cewek yang mengabaikanku." Tiara yang bengong langsung tersadar setelah mendengar perkataan Revan.
"Tiara." Balasnya menjabat tangan Revan. Sedetik senyum manis Revan terlukis.
"Apa kamu suka novel?"
"Ya. Karena aku suka membaca."
"Pantas saja kamu memilih buku itu. Jika tidak sempat membaca kamu bisa meminjamnya."
"Aku bisa membawa buku ini pulang?"
"Minta izinlah pada penjaga perpus."
"Terima kasih aku akan bilang padanya nanti."
"Apa pertama sekolahmu sangat sulit? Aku tahu Gio selalu mengganggumu jika dia mengganggu lagi katakan saja padaku aku akan menghajarnya."
Tiara hanya tersenyum.
"Aku tidak pernah melihatmu di kelas?"
"Kita memang tidak satu kelas. Apa kamu ingin satu kelas denganku? Aku bisa katakan pada guru."
"Tidak perlu, aku sudah nyaman di sana."
"Karena Gio?"
"B-bukan. Karena teman-temanku." Revan hanya mengangguk.
Tanpa terasa obrolan mereka semakin panjang hingga tiba di sebuah taman. Gio, melihat itu yang tidak senang karena Tiara tertawa bersama Revan.
"Sudah ku duga Revan menyukainya." Katanya yang memandang sinis pada mereka berdua.
"Kamu suka yogurth?" tanya Revan memberikan sebotol yogurth pada Tiara.
"Terima kasih." Revan pun duduk di samping Tiara, lalu memandang ke arah lapangan yang dipenuhi para siswa. Tiba-tiba Gio datang menarik tangan Tiara.
__ADS_1
"Ikut aku."
"Gio!" panggil Revan menahan tangan Tiara. "Kamu tidak berhak membawanya."
"Apa? Siapa kamu berani melarangku."
"Apa masalahmu? Kenapa kamu terus mengganggu Tiara."
"Kamu ingin tahu? Tiara adalah …."
"Gio, aku akan ikut denganmu." Tiara tidak akan membiarkan Gio mengatakan jika Tiara adalah tunangannya. "Revan aku pergi dulu, terima kasih telah menemaniku." Tiara pun berlalu pergi meninggalkan Gio dan Revan yang masih saling menatap tajam. Setelah itu Gio pergi mengikutinya.
***
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Tiara setelah mereka tiba di kelas.
"Kenapa kamu melarangku untuk mengatakan jika kita sudah bertunangan."
"Bertunangan? Kita baru saja dijodohkan bukankah kamu menolak perjodohan itu jadi untuk apa memberitahu Revan hal itu."
"Menyebalkan, apa kamu menyukainya?"
"Apa urusanmu aku suka Revan atau tidak. Revan lebih baik dari pada dirimu." Tiara melangkah pergi setelah mengatakan semua itu. Gio hanya diam.
Sepulang sekolah Gio kembali melihat Revan bersama Tiara. Hatinya merasa kesal dan emosi padahal Tiara dan Revan hanya berjalan berdampingan.
Gio tidak tahan melihat mereka yang melangkah bersama, hingga Gio mendekat meraih tangan Tiara. "Gio apa kamu tidak melihat dia sedang bersamaku." Revan merasa tersinggung.
Gio segera berbalik. "Tiara adalah tunanganku aku harus mengantarkannya pulang." Gio tidak dapat lagi menahan kecemburuannya yang harus mengatakan jika Tiara adalah tunangannya. Revan yang mendengar itu tidak percaya. Apalagi Tiara yang sangat terkejut.
"Apa sekarang kamu berharap jadi tunangannya? Bahkan kalian masih sekolah."
"Kamu bisa tanyakan padanya." Lirik Gio pada Tiara. "Orang tua kami sudah menjodohkan kami. Jadi tidak ada larangan untuk membawanya pergi," lanjutnya.
"Tiara apa itu benar?" Tiara bingung harus menjawab apa. Tiara hanya mengangguk menjawab perkataan Revan karena itulah kenyataannya.
Gio tersenyum, merasa dirinya menang. Lalu meninggalkan Revan yang masih dian mematung.
Di depan gerbang mereka bertemu Susan yang baru saja sampai, dia senang melihat Gio dan Tiara saling menggengam tangan.
"Gio, apa kamu akan mengantarkan Tiara pulang?"
"Iya Tante. Tapi Tante sudah datang."
"Kita bisa pulang bersama. Apa kamu membawa motor?"
__ADS_1
"Tidak, aku dijemput supir."
"Kalau begitu aku yang akan mengantarkanmu. Kamu beritahu supirmu dulu untuk pulang lebih awal."
"Iya Tante." Tiara menatap sinis ke arah Gio. Baginya Gio pandai bersandiwara dia bersikap baik pada ibunya.
Susan membawa Tiara masuk lebih dulu lalu Gio mengikutinya.
Untuk kedua kalinya Gio berkunjung ke rumah Tiara. Dia menyusuri setiap tempat termasuk halaman belakang yang dipenuhi bunga. "Sekeliling rumah ini dipenuhi bunga, pantas saja sangat sejuk. Apa itu?"
"Jangan sentuh." Tiara menghentikan Gio yang akan menyentuh bunganya. Dengan raut wajah kesal Tiara menghampiri Gio.
"Tahu apa kamu tentang bunga, jangan menyentuhnya."
l
"Aku hanya melihat seekor kumbang.Tidak ada niat menyentuh bungamu." Tiara tidak ingin mendengar dia langsung memeriksa bunga-bunganya.
"Kenapa kamu suka bunga matahari?"
"Karena menyukainya. Bunga ini adalah harapanku."
"Harapan?"
"Aku berharap akan seperti matahari yang terus menyinari bumi, selalu bercahaya sepanjang waktu yang tidak pernah lelah. Hidupnya sangat panjang yang tidak akan lenyap sampai hari akhir."
"Apa kamu seorang penyair? Pandai sekali merangkai kata," ujar Gio lalu pergi meninggalkan taman.
"Bagimu itu hanya sebuah syair tapi untukku itu adalah harapan." Kata Tiara yang menatap langit cerah di atas sana. "Aku ingin hidup, lebih lama lagi."
"Tiara! Apa kamu akan tetap di sana tidak bagus menatap matahari terlalu lama." Tiara segera menyusul Gio yang sudah lebih dulu memasuki rumah.
Susan sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Gio pun mencicipi masakannya sebelum pulang.
"Jangan sungkan makanlah yang banyak."
"Iya Tante."
"Sayang, bagaimana luka di dahimu? Apa masih suka pusing?" Gio hanya menatap Tiara yang begitu diperhatikan Susan. Yang mengusap lembut pelipisnya.
"Sudah tidak apa-apa. Tiara tidak pusing lagi kok Ma."
"Memangnya kenapa dengan dahinya?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut Gio.
"Dua hari lalu seseorang sudah menabraknya. Sepertinya anak geng motor."
__ADS_1
"Geng motor?" Gio teringat saat malam itu di mana dia menabrak seorang gadis. "Kapan?" Dan Gio tidak bisa menahan keingintahuan kapan terjadinya peristiwa itu.
"Tepatnya malam hari," jawab Susan membuat Gio terdiam. Dia terus menatap Tiara hingga bayangan itu kembali muncul. Sayangnya wajah gadis itu tidak terlihat. Gio tidak dapat mengenalinya.