Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Curhatan para wanita


__ADS_3

Bella menunggu di sebuah cafe, bibirnya tersenyum ketika melihat Gio datang ke arahnya.


"Gio," ucap Bella yang hendak memeluk Gio. Namun, senyumnya memudar ketika Gio mengabaikan. 


Bella, merasa malu karena diacuhkan oleh putranya. Bella kembali duduk, lalu memanggil seorang waitress untuk melayani mereka. 


"Mau pesan apa?" tanya seorang waitress yang tidak lain Rara. 


Gio mendongak, merasa kenal dengan suara itu, seketika Rara terbelalak melihat wajah Gio. 


"Apa yang kamu lihat?" tanya Gio sinis.


"Apa mau memesan sesuatu?" tanya Rara gugup. 


"Tidak," jawab Gio singkat. Lalu memalingkan wajahnya dari Rara.


Rara langsung pergi meninggalkan meja mereka. "Pria itu sungguh menakutkan, aku tidak habis pikir kok ada gadis yang ingin menikah dengannya," ucap Rara yang menggerutu sepanjang jalan. 


"Kenapa kamu tidak memesan apa pun? Mama senang kamu meminta bertemu." 


"Jelaskan tentang pesan ini." Gio berkata seraya menunjukkan ponselnya. 


Beruntung pesan itu belum Tiara hapus, hingga saat handphone menyala Gio bisa membaca pesan itu. Gio sangat marah, karena Bella sudah mengatur hidupnya.


"Jelaskan," kata Gio lagi.


"Aku hanya ingin kebahagiaanmu dan masa depanmu," ucap Bella, Gio tersenyum sinis. 


"Kebahagiaan? Sejak kapan kamu memikirkan kebahagiaanku? Apa kamu lupa dulu …," ucap Gio tertahan karena Bella langsung menyanggahnya.


"Itu masa lalu, jangan ungkit masa lalu." Bella membantah.


"Jadi jangan ikut campur juga urusanku. Kebahagiaanku hanya aku yang berhak memilih. Jangan pernah ganggu Tiara lagi. Gio berkata penuh penekanan lalu pergi. 


Bella hanya diam. 


.


.


Semenjak pesan itu Tiara jadi lebih semangat untuk sehat dan sembuh dari leukimia, walau tidak tahu apa masih bisa bertahan atau tidak. 


Dulu, nafsu makan Tiara mulai berkurang hingga berat badannya turun drastis, tetapi setelah hari itu Tiara membiasakan diri, untuk tidak lupa mengisi perutnya. 


Setiap pagi dia akan meminta Gio untuk menyuapinya, waktu siang Tiara akan meminta Gio membawakan cemilan. 


Siang ini Tiara tidak melihat Gio, Gio yang pamit untuk pergi sebentar belum kembali dalam waktu yang cukup lama. 


"Permisi, bukankah kamu pengantin itu?" Tiara mendongak ketika seorang wanita bertanya padanya. 


"Hai," sapa Rara. Gadis yang so akrab dan ada di mana-mana. 

__ADS_1


"Siapa kamu?" Tiara bertanya, Rara langsung mengulurkan tangannya.


"Kenalkan, namaku Rara aku ada di pernikahanmu waktu itu, aku sebagai pelayan catering," jelas Rara membuat Tiara melongo. 


"Aku melihatmu waktu itu sangat cantik, tetapi apa yang terjadi padamu sehingga Gio sangat panik," ujar Rara yang setia memegang alat pel. 


"Kamu kenal Gio?" tanya Tiara.


"Ya, ceritanya sangat panjang," jawab Rara. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Rara yang melihat Tiara ada di depan kamarnya.


"Menunggu Gio," jawab Tiara.


"Apa mau aku temani?" Tiara tersenyum, Rara sungguh menarik, gadis ceria dan tidak membosankan.


Mereka berdua pun duduk di tengah lorong yang menghadap ke taman. Rara bercerita bagaimana dia bisa bertemu dengan Gio. Dan Rara pun berkata tentang cincin yang ditemukan oleh ibunya. 


"Singapura? Ibumu bekerja di rumah sakit mana?" tanya Tiara.


"Singapore hospital," jawab Rara. Dan itu rumah sakit yang merawat Tiara selama di sana. 


"Ngomong-ngomong nama kita sama, aku juga Tiara," ucap Rara.


"O ya." 


"Heem, Tiara Anastasya tapi panggilan ku adalah Rara, kalau kamu?" tanya Rara.


"Mutiara,"jawab Tiara.


"Tiara!" Panggilan Gio mengalihkan pandangan mereka, Rara melongo melihat sikap Gio pada Tiara.


'Apa ini pria arogan yang selalu aku temui, dia bisa selembut itu pada wanita," batin Rara, saat Gio memeluk Tiara dan meminta maaf sudah meninggalkannya sangat lama. 


"Kamu," ucap Gio saat menyadari kehadiran Rara. 


"Apa kamu mengikuti ku? Kenapa selalu saja ada kamu di mana-mana," sambung Gio dengan emosi. 


"Siapa juga yang mengikuti mu, aku bekerja di sini,"balas Rara tidak kalah emosi.


"Di cafe juga?" 


"Ya, malam di cafe, siangnya di rumah sakit dan setiap minggunya aku akan kuliah," jelas Rara tapi jawaban Gio tidak memuaskan. 


"Aku tidak bertanya," kata Gio dengan ketus. "Kita masuk," ajak Gio pada Tiara.


"Rara, aku senang jika kamu menemaniku setiap hari," ujar Tiara sebelum masuk ke dalam kamar.


"Aku akan datang setiap hari," balas Rara. Tiara mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. 


Gio memindahkan Tiara ke atas ranjang. "Jangan terlalu dekat dengannya," ucap Gio yang tidak begitu suka pada Rara.


"Dia gadis baik, mungkin karena pertemuan kalian yang salah paham jadi kamu tidak begitu menyukainya." Gio menatap Tiara ketika mendengar perkataan itu.

__ADS_1


Tiara menjelaskan jika Rara bercerita tentang cincin itu. Gio pun mengerti lalu duduk di sampingnya. Kali ini Gio bertanya tentang ibunya.


"Apa saja yang sudah ibuku katakan? Aku  minta maaf tentang pesan itu. Mulai sekarang jangan pernah mendengar apa yang dia katakan, dia tidak berhak mengatur hidupku." 


"Tapi …." 


"Aku tidak akan berpaling pada wanita mana pun," ucap Gio lalu memeluk Tiara. 


'Aku percaya padamu Gio,' batin Tiara.


.


.


Kesehatan Tiara mulai membaik, kini mereka kembali ke rumah. Rambut Tiara sedikit bertumbuh walau masih harus tertutup ciput rajut. 


Kakinya kini sudah berjalan tanpa kursi roda, Gio menuntunnya turun dari mobil, kehadiran teman-teman menjadikan kejutan untuknya.


"Tiara!" teriak Zy dan Mytha tidak lupa Revan dan Nico pun hadir. 


"Zy, Mytha, kalian," ucap Tiara tertahan kala Mytha dan Zy memeluknya. 


"Gio memberitahuku jika hari ini kamu akan pulang, dan lihatlah rumah kalian bak negeri dongeng." Mytha berkata yang menatap takjub rumah itu. 


"Apa kalian ingin melihat rumahku? Ada danau juga taman bunga," ucap Tiara. 


"Wah, Gio yang memberikan semua itu? Aku ingin melihatnya," kata Zy yang sudah tidak sabar. 


"Jaga baik-baik istriku," ucap Gio saat Zy dan Mytha akan membawa Tiara. Seketika mereka berdua melongo, perkataan Gio sungguh manis. 


"Semua orang tahu dia istrimu, jadi tenang saja Gio, aku akan menjaga istrimu," Tiara tersenyum mendengar perkataan Zy. 


"Tiara katakan pada suamimu, bahwa kita akan jalan-jalan melihat danau," singgung Mytha. Gio hanya menggeleng lalu pergi menghampiri Revan dan Nico.


Zy dan Mytha langsung membawa Tiara ke belakang rumah di mana danau itu berada. 


"Tiara, bagaimana sikap Gio setelah menikah?" tanya Mytha.


"Bagaimana apanya?" Bukannya menjawab Tiara malah kembali bertanya.


"Mytha kalau ingin bertanya pada intinya saja. Tiara Mytha itu ingin tahu apa kamu dan Gio sudah melakukannya?" tanya Zy.


"Melakukan?" 


"Malam pertama apa lagi," ujar Mytha membuat Tiara tersedak, padahal tidak memakan apa pun. 


Tiara mendadak gerogi, mengingat malam itu membuatnya malu. Zy dan Mytha tersenyum sendiri melihat ekspresi Tiara. 


"Pipimu merah, itu artinya kalian sudah melakukannya. Tiara katakan seperti apa rasanya?" Zy dan Mytha terus saja mengoloknya.


"Apa kalian mau minum? Lebih baik kita masuk ke dalam," ucap Tiara yang langsung pergi.

__ADS_1


"Tiara, kita sama-sama wanita kenapa malu begitu." Zy dan Mytha pun mengejar Tiara.


__ADS_2