
Tiara dan Gio kini berada di atas atap. Pandangan keduanya fokus menatap lurus ke langit entah apa yang mereka lihat, padahal terik matahari sangat menyengat siang ini.
"Apa kamu masih merasa silau jika melihatnya?" tanya Gio.
"Ya," jawab Tiara.
"Itu artinya umurmu masih panjang," ucap Gio yang menatap Tiara. Sedetik mereka terdiam dan hanya saling pandang sebelum akhirnya mereka tertawa bersama.
"Siapa yang merawat bunga mataharimu jika kamu berada di rumah sakit sekarang?" tanya Gio lagi.
"Ada, ada seseorang yang menjaga taman bungaku," jawab Tiara yang menghela nafas lalu berkata, "Aku ingin pulang. Aku ingin pergi sekolah, aku bosan." Kata Tiara seraya menunduk.
Gio meliriknya sesaat lalu berkata, "Apa kamu ingin pergi?" tanya Gio membuat Tiara menoleh.
Sedetik senyum mereka mengembang. Gio selalu punya cara untuk membawa Tiara pergi. Diam-diam mereka keluar dari rumah sakit, Gio memakaikan jaket pada Tiara, agar tidak mudah dikenali.
"Gio bagaimana jika ketahuan?" tanya Tiara sedikit berbisik.
"Tidak akan, kita pelan-pelan saja," jawab Gio dengan pelan.
"Tapi … mmm," ucap Tiara terhenti ketika Gio memeluk tubunya. Seorang Dokter melintas membuat Gio harus menyembunyikan Tiara, karena tidak ada tempat lain Gio menyembuyikan Tiara dalam dekapannya.
Tubuh Gio yang tinggi dapat menghalangi tubuhnya yang kecil. Tiara mendongak begitu pun dengan Gio yang menunduk, kini tatapan keduanya saling bertemu.
"Maaf, tadi ada Dokter yang lewat," ucap Gio setelah melapaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa," balas Tiara yang merasa gugup.
Hatinya saat ini sedang berdebar tidak menentu, apalagi ketika Gio menuntun tangannya pergi. Tiara tersenyum memandang Gio yang membawanya lari, bahkan genggaman tangan itu tidak terlepas.
"Ah, Gio sebentar," ucap Tiara yang merasa lelah. Gio mulai panik tetapi Tiara tetap ingin pergi.
"Tiara!" teriak seorang Dokter dari ujung lorong. Sepertinya mereka mengetahui Tiara yang kabur.
"Gio, ayo kita pergi." Kini Tiaralah yang menarik Gio.
__ADS_1
Gio melepas genggaman Tiara lalu berjongkok, meminta Tiara untuk naik ke atas punggungnya. Teriakan Dokter semakin terdengar dan semakin dekat, Tiara segera naik ke atas punggung Gio.
"Kita pergi sekarang," ucap Gio. Tiara tersenyum ketika Gio membawanya lari. Bahkan para Dokter itu tidak bisa mengejar mereka.
***
"Haha … haha …." Tawa mereka bersamaan. Tiara dan Gio kini berada di tengah taman sambil memainkan ayunan.
"Gio?" Panggil Tiara.
"Hm," jawab Gio dengan gumaman.
"Gio aku mau tanya, apa keingin yang sudah terkabul yang kamu katakan tadi?" tanya Tiara yang menatap Gio.
Gio tersenyum sinis. "Ibuku, aku bertemu ibuku," jawabnya. Karena memang itulah keinginan Gio satu-satunya, bertemu dengan sang ibu. Dan di ulang tahunnya yang ke 18 Gio bertemu dengan ibunya saat di rumah sakit.
"Ibu? Bukankah ibumu …," ucap Tiara tertahan karena Gio menyanggahnya.
"Junita bukanlah ibuku dia hanya ibu sambung. Aku terpisah dengan ibuku saat usiaku 10 tahun. Awalnya aku sangat menginginkan pertemuan itu, tetapi dia tidak berubah sama sekali bahkan dia tidak mengenaliku sebagai putranya," ucap Gio yang mengingat pertemuannya dengan Bella saat di lift. Bella pergi begitu saja seperti waktu itu.
"Dimana kalian bertemu?"
"Kenapa? Bagaimana jika kamu tidak akan di pertemukan lagi?" tanya Tiara sedetik Gio menoleh.
"Mungkin itu takdir kami untuk tidak bersama," jawab Gio. Gio merasa sakit hati karena sikap Bella padanya.
Tanpa Gio tahu sebuah hadiah sudah Bella kirimkan ke rumahnya. Baskara dan Junita menatap heran motor sport di depannya. Baskara berpikir Gio yang membelinya tetapi sebuah surat terselip di atas motor.
Baskara segera membukanya, wajahnya berubah jadi sangar ketika tahu surat itu dari Bella. Bahkan dia meminta seseorang untuk mengantarkan motor itu lagi ke alamat Bella. Baskara tidak akan pernah terima apa pun pemberian dari Bella.
"Mas bagaimana jika Gio marah?" tanya Junita.
"Apa Gio sudah bertemu dengannya? Gio akan mengerti," jawab Baskara lalu pergi memasuki rumah.
Di tempat lain Bella membaca sebuah surat yang bertuliskan, Anakku tidak membutuhkan semua barang mewah darimu. Jangan pernah mengirim apa pun atau menemui Gio, tulis Baskara dalam surat.
__ADS_1
"Jadi Aska tahu aku yang mengirimnya," ucap Bella yang membuang surat itu. Bella terus berpikir untuk menemui Gio. Mengingat dirinya sedang berada di rumah sakit Bella ingin menemui Gio yang kemungkinan masih ada.
***
Gio dan Tiara akhirnya kembali ke rumah sakit. Namun, mereka kena marah sang Dokter karena Gio sudah berani membawa Tiara pergi. Mereka hanya menunduk ketika dimarahi, sedetik tawa mereka merekah ketika Dokter itu sudah pergi.
"Dasar pasien nakal," sindir Gio dengan tawa.
"Kamu penjaga yang nakal," cibir Tiara.
"Masih ada yang belum kita lakukan" ujar Gio. "Apa?" tanya Tiara.
Gio pun menunjukkan sebuah kembang api yang dia bawa, Tiara sangat gembira sehingga ingin bermain kembang api saat itu juga.
"Wah! Gio kapan kamu membelinya? Aku ingin sekali melihat kembang api," kata Tiara antusias.
"Tapi apa kita harus pergi ke atap? Lalu bagaimana dengan dokter?" tanya Tiara.
Gio mengintip suasana di luar yang ternyata Dokter itu masih ada. Dia terlihat berbicara dengan sekuriti kemungkinan mereka tidak bisa bebas pergi.
Gio kembali ke dalam dan memberitahukan Tiara. Tiara sangat sedih saat mendengarnya, tapi Gio tidak akan membuat Tiara bersedih.
"Aku tahu," kata Gio yang berlari ke arah jendela. Gio menggeser jendela itu hingga terbuka, lalu menarik Tiara untuk berdiri di sampingnya.
"Kita bisa melihat kembang api di sini," ucap Gio lalu mengambil satu kembang api yang dia pegang dan di arahkan ke atas langit.
Dorr!
"Ah!"
Sedetik suara ledakan terdengar keras membuat Tiara takut yang langsung memeluk Gio. Gio langsung menoleh pada Tiara yang mendekapnya erat. Senyumnya mengembang ketika melihat wajah indah Tiara saat terpejam.
Sedetik mata Tiara terbuka yang langsung bertemu pandang dengan Gio. Sesaat mereka tertegun melupakan kembang api yang berwarna-warni di atas langit. Bukannya melihat kembang api yang mereka lakukan adalah saling menatap dalam diam.
Para pasien di rumah sakit begitu senang bisa melihat kembang api di sana. Bella yang hendak pulang pun berhenti sejenak lalu menatap ke atas langit.
__ADS_1
"Siapa yang menyalakan kembang api?" tanya Bella, sang manajer pun menjawab.
"Mungkin, seseorang yang sedang dilanda asmara," jawab manajer itu membuat Bella tersenyum. Lalu Bella mendongak ke arah kamar Tiara. Tiba-tiba senyumnya memudar ketika melihat Gio dan Tiara yang masih saling menatap di atas sana. Bahkan keduanya saling memancarkan senyum.