
"Tiara!" Susan dan Danu segera berlari memeluk Tiara yang baru saja turun dari motor Gio yang telah membawa Tiara pulang.
"Gio terima kasih." Gio hanya menanggapi dengan senyuman. Susan dan Danu membawa Tiara kembali ke kamar yang mendapat perawatan lagi. Selang infus menancap lagi di tangannya.
"Mama bisakah aku pergi ke sekolah besok?"
"Sayang … besok kamu jangan dulu sekolah ya. Kondisi mu belum pulih."
"Sampai kapan Ma? Tapi aku baru saja masuk sekolah." Susan tidak bisa memberi jawaban. Dia pergi ke luar menemui Gio memintanya untuk menjaga Tiara sebentar. Lalu pergi ke ruang Dokter menemui suaminya.
"Tiara tidak mau, bahkan dia ingin sekolah besok." Dokter dan Danu hanya saling pandang. Mereka memikirkan apa cara terbaik untuk Tiara. Hingga akhirnya mereka menemukan cara supaya Tiara mau menjalani kemoterapi.
Mereka meminta Gio untuk menemani Tiara belajar di rumah sakit. Bahkan permintaan itu sudah di beri izin oleh pihak sekolah dan guru. Tentu saja mereka membicarakannya dengan pemiliki sekolah yang ternyata teman Dokter itu sendiri.
"Gio Tante mohon kamu mau ya? Demi Tiara." Tidak ada keputusan lain selain menyetujuinya. Akhirnya Gio setuju untuk sekolah di rumah sakit.
"Terima kasih." Saking senangnya Susan memeluk Gio. Rasanya sangat aneh Gio bisa merasakan dekapan seorang ibu.
***
"Gio!" panggil Baskara menghentikan langkahnya yang akan pergi. "Kemarilah Papa ingin bicara dengan mu." Malas rasanya jika harus bertatap muka dengan pria itu.
"Gio apa kamu mendengar!" Dengan kesal Gio langsung berbalik, berjalan ke arah Baskara. Mereka duduk di ruang keluarga.
"Apa yang ingin kamu katakan!" Baskara menatapnya tajam tetapi dia tidak membalasnya.
"Dimana motor mu?"
"Kenapa? Apa kau ingin mengambilnya lagi?" tanyanya dengan nada tinggi. Baskara masih tenang sambil menyeruput kopinya.
"Bawa pulanglah besok, aku tahu motor itu kamu simpan pada Nico. Mulai hari ini kamu bebas memakainya tidak akan ada larangan jadi bawalah pulang."
"Apa aku tidak salah dengar? Anda berubah begitu cepat."
"Terserah kamu mengatakan apa. Dan ini untuk mu gunakan sebaik mungkin." Baskara memberikan sebuah kunci pada Gio.
"Kunci mobil?"
"Jika membawa Tiara pergi jangan menggunakan motor, pakailah mobil." Gio menatap ayahnya hera sejak kapan dia peduli.
"Apa bisnismu lancar? Aku tahu kamu mendapat investasi yang besar berkat aku dan Tiara."
__ADS_1
"Aku tidak ingin berdebat dengan mu. Jika bukan karena Junita aku tidak akan melakukan ini jadi lebih sopanlah padanya dia sudah memperhatikanmu," tegas Baskara lalu melangkah pergi.
Gio merasa kesal lalu menatap Junita yang baru saja turun dari kamarnya. "Aku tidak yakin kamu benar-benar baik padaku atau hanya untuk mendapat perhatian ayahku." Dimata Gio Junita tetaplah orang asing yang merebut kebahagiaannya. Junita hanya bisa menghela nafas.
"Entah apa alasan anak itu membenciku. Apa aku terlihat buruk seperti ibunya? Bahkan aku hadir setelah mereka bercerai," ucap Junita yang menatap kepergian Gio.
"Naiklah!" titah Baskara ketika Gio melewati mobilnya. "Aku dan Junita akan pergi menjenguk Tiara kita bisa pergi bersama," lanjutnya.
"Drama apa ini" Gio berbalik menghadap ayahnya lalu menunjukan kunci yang diberikan Baskara. "Bukankah kamu memberikan ku mobil, aku akan pergi sendiri tidak usah menunjukan keharmonisan keluarga pada keluarga Tiara. Terima kasih atas mobilnya." Gio melangkah memasuki mobilnya.
Baskara hanya diam melihatnya pergi. "Sulit mengendalikan emosi anak muda, pelan-pelan Gio pasti melihatmu." Kata Junita yang mengusap lembut pundak Baskara.
"Aku tidak tahu apa mau anak itu. Dia selalu menyalahkan ku setelah ibunya pergi."
"Semua butuh waktu. Gio hanya butuh perhatian untuk mu juga jangan terlalu kasar karena Gio akan berpikir jika kamu tidak menyayanginya."
"Aku bingung kenapa Gio tidak melihat sisi baik mu."
"Aku juga bingung dengan cara apa lagi memikat hati Gio," ucapnya dengan senyuman. "Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Mereka pun masuk bersama ke dalam mobil.
***
"Halo! Apa kau menungguku?" Sebuah boneka bear bicara mengejutkan lamunan Tiara. Sedetik kepala Gio menyembul dari balik pintu, seketika Tiara tertawa.
"Gio."
"Karena bosan berada di dalam castil," jawab Tiara. "Berikan boneka itu pada ku." Tiara mengambil bonekanya lalu Gio duduk di atas kursi samping ranjang Tiara.
"Kenapa kamu datang ke sini tidak ke sekolah?"
"Karena hari ini … inilah sekolahku." Kata Gio sambil berdiri dan merentangkan tangan.
"Maksud mu?" Gio kembali mendekat dan duduk di kursi.
"Aku akan menemanimu belajar di sini. Kamu pasti bosan jika sendirian."
"Tapi sekolahmu?"
"Atas perintah dari sekolah juga aku ditugaskan untuk menjagamu. Baiklah tuan putri apa kamu sudah siap belajar?" tanya Gio mengeluarkan beberapa lembar kertas ulangan.
"Jadi ini benar? Tentu saja aku siap."
__ADS_1
"Simpan dulu boneka bear mu."
"Kenapa? Apa tidak boleh ku memeluknya seperti ini?"
"Baiklah setelah kamu saja." Tiara tertawa renyah. "Aku membawa tugas untukmu. Hari ini pelajaran matematika soalnya cukup rumit apa tidak mengganggumu?"
"Bukankah aku punya seorang penjaga, dia pasti membantu ku."
"Ya … aku yang akan mengerjakannya." Tiara tertawa melihat Gio yang mengeluh. Di luar sana Susan, Danu dan Dokter sedang memperhatikan mereka. Susan merasa tenang melihat Tiara baik-baik saja.
"Sepertinya Gio memang orang yang tepat untuk Tiara. Tapi entah mereka akan menikah atau tidak."
"Kalian baru saja menjodohkan mereka apa akan meminta mereka untuk menikah sekarang juga?" Dokter itu bertanya sambil menatap Danu dan Susan. "Tidak ada yang tahu kapan seseorang akan mati," katanya yang menatap Tiara.
"Jangan terlalu memikirkan perkataanku hasil medis mungkin saja berubah. Ingat! Bahwa Tuhanlah yang menentukan." Dokter itu berkata sambil menepuk kedua bahu Danu. Dia pun merasa bersalah karena telah memutuskan harapan pasiennya karena diagnosanya.
"Pak Danu, Bu Susan?" Panggilan Baskara membuat mereka menoleh.
"Pak Baskara, Bu Junita kalian datang," ucap Susan.
"Kami dengar Tiara sakit jadi … kami datang untuk menjenguk."
"Terima kasih. Tapi … anak-anak kita sedang belajar. Lebih baik kita bicara di tempat lain saja mari!" ajak Susan lalu membawa mereka pergi dari tempat itu. Danu dan Dokter pun ikut pergi.
Kini hanya ada dua remaja yang sibuk mengerjakan tugas. Gio terlihat khusu menulis dan mengisi soal sedangkan Tiara dia hanya fokus menatap Gio sambil menopang dagunya. Entah sejak kapan Tiara terpesona pada Gio.
"Gio."
"Hah!"
"Ikut aku." Tiara langsung turun dari ranjang dan menarik tangan Gio.
"Tiara! Kita mau kemana?" Gio hanya pasrah ketika Tiara menuntunnya keluar dari kamar. Tidak ada yang tahu mereka pergi keluar.
"Tiara!" Gio menghentikan langkahnya. "Bisakah kita kembali, kamu harus istirahat jangan sampai nanti … ," ucapnya yang tertahan karena Tiara kembali menarik tangannya.
Hingga langkah mereka terhenti setelah sampai di atas atap. Tiara menatapnya dengan sendu. "Kamu tahu kenapa aku mengajak mu ke sini? Aku selalu ingin melihat langit dan mentari. Ada yang mengatakan jika kita tidak bisa melihat cahaya mentari dan kita tidak merasa silau sama sekali itu artinya kematian akan segera tiba."
Tiara menghela nafas.
"Itu sebabnya aku selalu datang ke sini menatap ke atas apa aku masih bisa melihat matahari? Apa cahaya itu menyilaukan? Aku merasa lega itu artinya usiaku masih panjang karena mataku masih silau melihatnya."
__ADS_1
Gio tidak berkata dia tertegun beberapa saat lalu melangkah mendekat dan memeluk Tiara. Tiara yang di peluk hanya diam ketika dekapan itu semakin erat.