Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Kedatangan Angel


__ADS_3

"Permisi."


Suara lembut seorang pria mengalihkan pandangan Miranti. Tatapannya menelisik penampilan Revan dari bahwa hingga atas kepalanya. Revan mengulum senyum mendapat tatapan itu.


"Maaf, kedai kami libur untuk hari ini," ujar Miranti, menyangka jika Revan akan makan di kedainya.


"Apa ada hal penting? Begini … pagi ini aku tidak mendapatkan sarapan. Seseorang selalu mengantarkan setiap paginya," ucap Revan membuat Miranti teringat si Direktur.


"Apa kamu Direktur itu?" tanya Miranti membuat Revan tersenyum malu.


Sebab, panggilan itu terlalu formal.


"Maafkan kami pak Direktur. Pagi ini putriku mendadak demam jadi tidak bisa mengantar pesanan," jelas Miranti.


"Apa Rara sakit?" tanya Revan panik. Terlihat jelas kecemasannya pada Rara.


Miranti pun membawa Revan ke rumahnya. Wanita itu sedikit canggung bisa satu mobil dengan pria muda dan tampan.


Mobil mereka terhenti di depan sebuah rumah sederhana, memiliki dua lantai. Tempat tinggal Rara berada di daerah yang kumuh.


"Mari masuk. Maaf, rumah kami memang kecil dan tempat ini sedikit kotor," ucap Miranti.


"Tidak apa-apa," kata Revan yang tidak mempermasalahkan.


Revan pun memasuki rumah itu langkahnya terhenti ketika berada di dalam kamar Rara. Miranti berjalan ke sisi ranjang, memastikan jika demam Rara sudah turun.


"Syukurlah," ucapnya merasa lega.


"Apa sudah di bawa ke Dokter?" tanya Revan, Miranti pun menoleh.


"Sudah. Jangan khawatir demamnya sudah turun," ungkap Miranti.


"Silahkan duduk, saya permisi sebentar." Revan mengangguk sebagai jawaban.


Miranti pergi keluar sedangkan Revan masih berdiri di tengah kamar. Sepasang netra indahnya terus memindai sekeliling kamar. Banyak sekali buku-buku yang tersusun rapih di atas rak.


Buku romansa salah satunya, Revan tersenyum melihat buku yang telah diambilnya. Tidak pernah menyangka jika Rara suka membaca novel.


Selain buku-buku itu ada banyak sekali potret Rara yang terpajang. Gayanya yang ceria membuat pria itu tersenyum. Namun, ada satu foto yang mengalihkan pandangan Revan, pemandangan indah lautan biru.


Revan mengambil foto itu, yang saat dibalik terdapat sebuah tulisan.


'Labuan Bajo, tempat yang ingin 'ku kunjungi.'


Sedetik Revan menoleh pada Rara yang masih tertidur.


"Labuan Bajo," gumam Revan seraya menempatkan kembali foto itu ke semula.


Suara batuk Rara mengejutkannya. Revan segera mendekati ranjang.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Revan mengejutkan gadis pucat itu.

__ADS_1


Rara tidak pernah menyangka jika Revan akan datang ke rumahnya. Kini mereka berada di ruang makan, Miranti menyediakan beberapa hidangan untuk Revan.


"Pak Direktur maaf, hanya ini yang bisa saya suguhkan," ujar Miranti.


"Aku sudah merepotkan kalian," balas Revan yang langsung disanggah Miranti.


"Tidak, ini sama sekali tidak merepotkan. Anda sudah menjenguk putriku sudah sewajarnya aku menyediakan makanan untukmu," kata Miranti.


"Tante jangan sungkan, aku dan Rara teman. Jadi tidak perlu memanggilku Direktur lagi, panggil saja aku Revan karena kita tidak berada di kantor," kata Revan.


"Baiklah, cobalah ayo!" titah Miranti yang meminta Revan untuk segera mencicipi masakannya.


.


.


"Apa kamu datang ke kedai?" tanya Rara yang saat ini sedang berada di dalam kamar bersama Revan.


"Aku tidak sengaja melihat kedaimu tutup. Saat akan menghubungimu ibumu baru datang, ya sudah aku menghampirinya," jawab Revan.


"Terima kasih karena sudah menjengukku. Aku juga heran, kemarin badanku mendadak lemas, hingga semalam demam, aku hanya kelelahan karena kedai kami sangat ramai."


"Apa hanya kalian berdua yang kerja di kedai? Kenapa tidak merekrut seseorang untuk membantu kalian. Mulailah dari satu atau dua orang pegawai. Kedai kalian juga sudah ramai, pasti bisa merekrut pegawai." Revan memberi usul.


"Akan aku bicarakan dengan ibuku. Terima kasih sarannya," ucap Rara.


"Apa kamu sudah ke Dokter? Apa tidak ingin ke rumah sakit?" tanya Revan khawatir.


Dalam diam Revan memperharikan Rara, bukan wajah atau tubuhnya melainkan matanya. Revan merasa tidak asing dengan iris matanya.


.


.


"Gio!" teriak seorang gadis dari ujung lorong rumah sakit.


Gio segera menoleh ke arah gadis itu.


"Angel," ucap Gio.


Angel segera berlari pada Gio. Tingkahnya sama sekali tidak berubah yang masih mengagumi Gio, bahkan Angel tidak malu saat memeluk Gio dihadapan semua orang.


"Gio, apa kabar? Aku sangat senang ketika tahu kamu bekerja di sini. Aku tidak pernah menyangka kamu akan menjadi Dokter," ujar Angel.


"Dari mana kamu tahu aku di sini?" tanya Gio.


"Papa," jawab Angel. "Papaku pemilik rumah sakit ini," ungkap Angel mengejutkan Gio.


"Maksudmu Direktur?" tanya Gio, tatapannya begitu dingin.


"Ya. Kalian makan malam tanpa aku. Gio, apa karena Tiara kamu menjadi seorang Dokter? Maksudku … kenapa kamu memilih Dokter hematologi dari sekian banyak pilihan. Kamu bisa menjadi Dokter bedah, Dokter anak, kenapa kamu memilih ini? Apa karena Tiara? Apa karena Tiara yang mengidap kanker?" tanya Angel.

__ADS_1


"Aku tidak berhak menjelaskan," jawab Gio dingin lalu melangkah pergi, tetapi Angel tidak membiarkan itu.


"Tunggu Gio!" teriakan Angel mengalihkan pandangan semua orang. Gio menghentikan langkahnya ketika sadar menjadi pusat perhatian.


Angel berjalan mendekati Gio.


"Apa bedanya aku dengan Tiara?" tanya Angel dengan emosi.


Gio langsung menatapnya.


"Dari dulu kamu selalu mengacuhkanku. Bahkan sekarang pun kamu sama. Tidak bisakah kamu bersikap ramah padaku? Setidaknya tanyakanlah kabarku."


Angel semakin emosi, gadis itu tidak peduli dengan tatapan semua orang.


"Tanpa harus aku tanya, aku sudah tahu kabarmu," ujar Gio, mengejutkan Angel hingga diam melongo.


Gio pergi begitu saja tanpa pamit.


"Gio, kamu tidak pernah berubah. Namun, aku tidak akan pernah menyerah, aku bisa memilikimu. Apalagi sekarang sudah tidak ada lagi Tiara dalam hidupmu," gumam Angel yang menggerutu.


Angel memindai sekitar lorong, pandangan perawat dan para pasien yang berada di luar tidak berpaling darinya. Angel berdecak kesal lalu pergi.


"Dokter Gio!" Panggil dua orang perawat wanita. Wanita itu sepertinya penasaran dengan hubungan Angel dan Gio.


"Dokter Gio anda mengenal putri dari pak Direktur? Aku melihatnya tadi, bahkan putri pak Direktur tidak segan-segan berdebat denganmu. Apa hubungan kalian?" tanya perawat itu.


Terpaksa Gio menghentikan langkahnya lagi.


"Apa setiap hari kerjaan kalian seperti ini?" tanya Gio membuat perawat itu melongo.


"Akan banyak pasien yang terabaikan jika pekerjaan kalian hanya mencari tahu tentang kehidupan orang lain."


Perkataan Gio seakan menampar kedua perawat itu. Mereka langsung bungkam. Gio pergi meninggalkan mereka. Kedua perawat itu saling menyalahkan.


"Dokterku sangat jutek dan galak," ujar seorang gadis kecil yang berdiri diambang pintu.


Gio menoleh pada gadis yang pernah masuk ke ruangannya itu.


"Apa salahnya tersenyum dan ramah pada mereka," ucap Gadis itu.


Gio tersenyum sambil berjongkok, menyetarakan tubuhnya dengan si gadis.


"Apa kamu senang aku tersenyum padamu?" tanya Gio. "Jagalah senyummu, jangan asal senyum pada siapa pun. Banyak orang yang tersenyum palsu bukan karena ingin. Satu senyuman saja bisa membuat kesalahpahaman," ujar Gio.


"Oh … begitu. Tapi kamu bisa tersenyum padaku," kata Gadis itu lagi.


"Karena senyumanku hanya untukmu," kata Gio membuat gadis itu bahagia.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang ada dalam foto itu?" tanya Gadis itu.


Gio semakin tersenyum, lengkungan bibirnya terlihat sangat indah. Siapapun yang melihatnya, akan tergila-gila.

__ADS_1


"Pasti Dokter sering tersenyum pada wanita itu, karena senyum Dokter begitu lebar sekarang." Gadis itu berkata sambil mencebikkan bibirnya.


__ADS_2