
Gio terus memikirkan Tiara. Dia tidak menyangka jika Tiara gadis yang pernah dia tabrak. Namun, beruntung Tiara tidak mengetahui jika dirinyalah cowok pemotor itu.
"Syukurlah jika dia tidak apa-apa. Aku hampir mati." Katanya yang terlentang di atas ranjang.
Gio kembali teringat obat tablet yang dia temukan. Rasa penasaran semakin kuat segera Gio pergi ke apotek untuk memastikan.
"Ada yang bisa saya bantu? Cari obat apa?"
Gio segera mengeluarkan obat itu memberikannya pada apoteker. "Aku ingin tahu ini obat apa."
"Ada resep dari Dokter?"
"Tidak."
"Apa ini punya anda? Begini … kami tidak bisa memberitahukan sembarang obat jika ini privasi."
"Itu punya ibuku."
"Baiklah. Sebentar saya cek dulu." Gio menunggu.
"Ini obat kanker untuk penderita leukimia apa anda mau membelinya?"
"Leukimia?"
"Mas?"
"Tidak jadi saya hanya menanyakan saja. Terima kasih." Gio pun berlalu pergi.
Gio terus bertanya-tanya tentang apa itu penyakit leukimia. Sehingga dia mencari tahu lewat internet. Gio mampir ke sebuah warnet demi mencari informasi itu. Wajahnya sangat terkejut ketika sebuah artikel menjelaskan dan menjabarkan ciri-cirinya.
"Tidak mungkin. Apa ini penyakit parah?"
Gio terus membayangkan Tiara, dari wajahnya, bentuk tubuhnya, kesehariannya yang sering mengalami mimisan. Semua yang Tiara alami sangat berkaitan.
"Apa itu ada hubungannya dengan kejadian malam itu? Apa Tiara menderita penyakit leukimia setelah ku tabrak?" Gio terus berpikir.
"Tidak-tidak. Mungkin saja penyakit itu sudah lama dia derita."
***
"Sayang kamu belum tidur?"
"Masih mengerjakan PR Mah."
"Jangan terlalu malam dan ingat jangan terlalu lelah."
"Iya, sebentar lagi Tiara akan tidur." Karina pun duduk di samping putrinya.
"Bagaimana dengan Gio? Apa kalian sangat dekat? Ceritakan pada Mama kenapa kalian bisa pulang bersama."
"Untuk apa menceritakan tentangnya. Aku dan Gio satu kelas jadi kita pasti pulang bersama. Aku tidak begitu menyukainya tadi pagi saja Gio terus menggangguku saat bersama Revan."
"Revan? Siapa lagi itu?"
"Teman."
"Cowok?"
"Iya. Masa Revan cewek."
"Itu artinya Gio cemburu dan terus mengganggumu."
"Cemburu?" Tiara tersenyum masam. Baginya itu tidak mungkin.
__ADS_1
"Sudah cepat tidur jangan memikirkan Gio."
"Mama …." Tiara sangat malu yang terus digoda.
***
Gio terus memperhatikan Tiara yang baru saja turun dari mobil. Wajahnya tidak pernah berubah masih saja pucat. Tiara melangkah menuju kelas tiba-tiba para siswi menghadangnya karena mereka melihat Tiara dengan Revan kemarin.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Hei anak baru. Jangan so cantik deh baru saja masuk sudah berani dekatin Revan dan Gio. Apa kamu secantik itu? Lihat saja tubuhmu sangat kurus, muka dan …."
"Ah!" jerit Tiara ketika rambutnya dijambak.
"Rambut rontok." Tiara melihat betapa banyaknya rambut yang putus. Bagi Tiara itu sangat berharga walaupun hanya sehelai rambut.
"Kalian!" Baru saja Tiara ingin marah suara bariton Gio sudah terdengar.
"G-Gio." Mereka ketakutan melihat tatapN Gio yang begitu tajam. Dan Gio terlihat sangat marah.
"Hai Gio?" Beraninya mereka menyapa.
"Kalian sudah berani mengganggunya!"
"M-Maksudmu T-Tiara?"
"Ya. Kenapa?"
"Memangnya kenapa dengannya? Aku sangat kesal dia terus menggodamu."
"Menggoda? Siapa yang kalian pikir menggoda! Kamu." Tunjuk Gio pada satu siswi.
"Gio jangan menatapku seperti itu."
"Kemari, kemari!" Siswi itu semakin takut ketika mendengar bentakan Gio. Dia pun perlahan mendekat tak disangka Gio menjambak rambutnya.
"Apa! Kamu lihat rambut di tanganmu." Siswi itu merunduk melihat helaian rambut Tiara yang baru saja dia jambak lalu dia menangis.
"Ck, cengeng."
"Ada apa dengan Gio kenapa marah seperti itu?"
"Siapa Tiara sehingga Gio membelanya."
"Hei!" Mereka semua terkejut. "Sudah bisik-bisiknya? Mulai sekarang tidak ada yang boleh mengganggu wanitaku."
"Apa! Wanitamu."
"Ya. Tiara adalah wanitaku ingat itu." Semua gadis merasa syok bahkan ada yang menangis. Mereka tidak rela Gio menjadi milik orang lain.
Sedangkan Gio dia tidak peduli yang langsung membawa Tiara pergi.
"Wah, apa tadi itu Gio? Sejak kapan dia berubah." Nico merasa aneh. Sedangkan Revan dia hanya diam sama sekali tidak terkejut.
"Baguslah jika dia berubah. Aku harap dia benar-benar melakukan itu dengan tulus."
"Melakukan dengan tulus?" Nico semakin tidak mengerti.
Gio membawa Tiara ke klinik. Membiarkan Tiara duduk di atas ranjang. Tiara masih diam, dia terkejut dengan apa yang Gio lakukan.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Akhirnya Tiara bertanya.
"Kenapa? Karena aku tunanganmu."
__ADS_1
"Gio ini bukan dirimu. Kenapa kamu tiba-tiba menerima perjodohan ini?"
"Kenapa? Apa kamu tidak mau? Aku akan melakukannya seperti menjagamu dari orang-orang yang merundungmu."
"Aku tidak butuh."
"Tapi itu tugasku."
"Aku tidak mengerti apa tujuan dan maksudmu melakukan itu. Jangan berpura-pura baik di depan semua orang."
"Lalu kenapa kamu merahasiakan penyakitmu?" Tiara hendak melangkah langsung berbalik menatap Gio.
"Aku sudah tahu semuanya."
"Jadi karena itu kamu membelaku?"
"Karena aku ingin," jawab Gio. "Duduklah, rapihkan rambutmu. Istirahat saja jam pelajaran masih lama." Setelah mengatakan itu Gio melangkah pergi.
"Gio!" panggil Nico menghentikan langkah ya. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tiba-tiba berubah dan membela gadis itu. Apa kamu serius dengan perkataanmu?"
"Ya. Itu juga berlaku untuk kalian." Tatap Gio pada Nico dan Revan. "Jangan mendekati wanitaku."
"Gio, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
"Kamu bisa tanyakan saja padanya." Nico langsung melirik Revan.
"Apa ada yang tidak aku ketahui? Revan …."
"Tiara dan Gio mereka bertunangan."
"Apa!"
"Jangan terkejut. Mereka baru dijodohkan belum menikah." Dengan sinisnya Revan berkata lalu pergi.
***
"Tiara!" Mytha dan Zy langsung menghampiri Tiara tapi tidak dengan siswa yang lain tatapannya begitu menakutkan.
"Apa yang kalian lihat! Apa Tiara penjahat hah!" tegur Mytha dengan kesal.
"Kita bicara di luar saja," ajak Zy lalu melangkah keluar. Kini mereka berada di taman.
"Kita semua terkejut dengan pengakuan Gio. Aku tidak yakin apa Gio melakukannya dengan tulus atau karena kesal. Mereka semua merundungmu."
"Tiara tolong katakan apa maksud Gio kamu adalah wanitanya. Apa kamu tidak merasa tersiksa? Mungkin Gio hanya menjadikanmu pesuruhnya."
"Padahal sikap Gio tidak terlalu baik padamu dari awal. Tiba-tiba …."
"Mungkin dia tertekan."
"Tertekan?"
"Gio dan aku dijodohkan. Mungkin karena itu dia baik padaku."
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu beruntung sekali Tiara tanpa mengejar Gio kamu sudah dijodohkan," tutur Zy.
"Tunggu dulu. Apa awal-awal Gio menerima perjodohan ini?"
"Tidak. Kami tidak terima begitu pun dengan Gio dia sempat marah karena hal ini," jelas Tiara pada Mytha.
"Sepertinya kamu benar Tiara. Gio tertekan, aku dengar ayahnya sangat keras bahkan hubungan mereka tidaklah baik, hampir setiap hari bertengkar. Gio selalu dipaksa menjadi apa yang ayahnya mau. Mungkin saja Gio juga di tekan agar menerima perjodohan itu. Itu sebabnya dia melakukan itu." Mytha berkata dengan panjang lebar.
"Apa ayahnya begitu keras?"
__ADS_1
"Heem setahu kami seperti itu."
Tiara tertegun.