Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
menjenguk Gio


__ADS_3

"Tiara dari mana kamu?" tanya Mytha dengan suara tinggi. Mereka penasaran apa yang Revan katakan pada Tiara. 


"Perpus," jawab Tiara.


"Perpus? Untuk apa Revan mengajakmu ke perpustakaan?" tanya Zy dengan curiga.


"Buku romansa," jawab Tiara menunjukkan sebuah buku. "Dia memberikanku ini." 


"What!" teriak Zy dan Mytha bersamaan. 


"Coba aku lihat," ujar Zy mengambil buku itu. "Oh tidak, kalian membaca ini? Berdua? Aku tidak menyangka Revan menyukai cerita romansa," tambah Zy.


"Tiara, apa kamu memiliki sebuah mantra? Kamu bisa mendapatkan perhatian Revan dan Gio," ucap Zy 


"Apa kamu mau membacanya Zy? Siapa tahu kamu akan mendapatkan cara untuk mendekati Revan." Kata Tiara seraya memberikan buku itu pada Zy. 


Tiara melangkah pergi memasuki kelas. Hari ini Tiara mendapatkan kabar jika Gio sudah siuman dan tidak sabar menjenguknya. 


***


Gio dan Baskara hanya saling diam, begitupun dengan Junita. Memang begitulah keluarga mereka kurang komunikasi. 


Gio, yang sifatnya memang sangat keras dia tidak akan mudah melupakan apa yang sudah terjadi padanya. Sedangkan Baskara dia tidak pernah memulai apalagi mengakui kesalahannya. Dan di antara mereka sulit untuk mengatakan maaf. 


Akhirnya Junitalah yang mengalah. "Gio, apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Junita.


"Apa tidak ada tawaran lain?" tanya Gio yang mendapat tatapan dari ayahnya. "Aku ingin keluar dari sini," ucap Gio dengan sinis. 


"Mau kemana?" tanya Baskara dengan nada tinggi. Dia menghentikan Gio yang hendak turun dari ranjangnya. "Kepalamu baru saja selesai di operasi, jangan pergi ke mana pun," tegas Baskara. Karena luka di kepala Gio cukup parah sehingga Gio harus melakukan operasi.


"Aku berharap hilang ingatan, ternyata tidak. Kenapa kalian tidak membiarkanku mati saja?" Pertanyaan Gio membuat Baskara marah. Hampir saja menampar Gio jika Junita tidak menahannya.


Junita pikir setelah kecelakaan itu mereka akan berubah. Namun, ternyata tidak. 


"Apa! Mau tampar aku? Tamparlah," ujar Gio semakin memancing emosi. "Sekarang aku tahu kenapa kamu tidak membiarkanku mati karena kamu tidak bisa menamparku lagi," cibir Gio yang tersenyum tipis.


"Bukan karena aku yang tidak peduli atau menyayangimu, tapi kamu yang tidak mengerti." Kata Baskara sambil menatap Gio tajam. 


Gio segera turun dari ranjang lalu pergi meninggalkan kamar, bahkan selang infus yang menancap di tangannya Gio lepaskan. Baskara mengusap wajahnya kasar lalu duduk di atas sofa, Junita hanya bisa diam. 


"Aku akan coba bicara pada Gio," ujar Junita yang hendak menyusul Gio tetapi Baskara menahannya. 


"Biarkan saja," ucap Baskara. "Tidak akan merubah apa pun jika kamu mengikutinya apa dia akan mendengarkanmu?" Benar apa kata Baskara jangankan perkataannya melihatnya saja Gio tidak pernah 

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika Gio kenapa-napa? Bukankah Dokter bilang dia masih belum pulih benar." Namun, Junita tetap peduli walau diperlakukan sangat buruk.


"Biarkan saja jika dia merasa pusing dia akan kembali," ucap Baskara.


****


"Gio!" teriak Tiara pada Gio yang berjalan di tengah lorong rumah sakit. Baru saja Tiara keluar dari lift sudah bertemu dengannya.


"Gio kenapa kamu di sini tidak di kamarmu?" tanya Tiara setelah mendekat.


"Bosan," jawab Gio singkat. "Apa yang kamu lakukan di sini" tanya Gio balik.


"Menjengukmu." Kata Tiara seraya menunjukkan bingkisan yang dia bawa. 


"Apa yang kamu bawa? Ternyata tunanganku ini perhatian juga," ejek Gio. 


"Aku dapat kabar jika kamu sudah siuman. Sepulang sekolah aku langsung datang kemari. Ayo aku antar kamu ke kamar," ajak Tiara yang hendak menuntun Gio tetapi Gio tahan.


"Untuk apa pergi ke kamar?" tanya Gio membuat Tiara heran.


"Aku membawamu jeruk, kamu pasti suka kita makan bersama." 


"Hanya memakan jeruk untuk apa harus ke kamar?" 


"Tidak," bantah Gio keras. "Kita ke atap saja," kata Gio. Akhirnya mereka pergi ke atap bersama. 


"Gio bagaimana dengan kepalamu? Apa terasa sakit?" tanya Tiara Gio hanya menggeleng. 


"Aku pikir aku akan mati," ucap Gio sambil menatap langit. 


"Apa masalahmu seberat itu sehingga kamu ingin mengakhiri hidupmu," kata Tiara membuat Gio menoleh.


Gio menatapnya insten. "Apa kamu pikir aku bunuh diri?" tanya Gio setelah mendapat pertanyaan itu. "Aku juga tidak pernah menyangka akan terjadi kecelakaan seperti ini," tambah Gio. 


"Lain kali hati-hatilah jangan ngebut saat berkendara," ucap Tiara.


Tiara memilih diam dan tidak bertanya lagi. Satu tangan Tiara mengambil sebuah jeruk mengupasnya lalu memberikannya pada Gio. Gio hanya menatap jeruk itu lalu membuka mulutnya, Gio meminta Tiara untuk menyuapinya. 


"Manjanya," ucap Tiara lalu memasukan jeruk itu pada mulut Gio. 


"Aku sedang sakit kamu harus memanjakanku," ucap Gio yang tersenyum. Tiara kembali menyuapinya. 


"Kenapa hanya aku yang memakan? Kamu harus memakannya," titah Gio pada Tiara. 

__ADS_1


"Tidak, aku membawa ini untukmu," ujar Tiara yang menolak memakan jeruk itu. 


"Bagaimana kesehatanmu? Apa akhir-akhir ini kamu masuk rumah sakit?" 


"Aku sudah sehat lihatlah. Wajahku tidak pucat lagi bukan." Kata Tiara seraya menunjukkan wajahnya. Padahal Tiara baru saja pulang dari rumah sakit tapi Tiara tidak ingin Gio tahu hal itu. 


"Aku dengar Revan selalu mendekatimu? Bukankah kamu tunanganku? Kenapa kamu mendekatinya?" 


"Kita baru dijodohkan dan belum tunangan. Aku tidak suka memiliki tunangan yang over protektif. Aku bebas berteman dengan siapa saja jangan mengaturku." 


"Tapi aku melarangmu dengan Revan." Tatap Gio dengan tajam. Bahkan Tiara pun merasa takut dengan tatapan itu.


"Tatapanmu membuatku takut," ucap Tiara membuat Gio langsung menurunkan pandangannya. "Aku tidak suka orang pemarah," kata Tiara lalu pergi meninggalkan Gio. 


"Tiara!" panggil Gio.


Gio langsung mengejarnya. "Kenapa dia, biasanya juga tidak seperti ini." Umpat Gio sambil berjalan. Entah kenapa Tiara merasa sakit hati ditatap tajam seperti itu. 


"Tiara tunggu!" teriak Gio.


"Tiara! Ah … kepalaku," ujar Gio menyentuh kepalanya. Tiara yang mendengar itu langsung berbalik menghampiri Gio. 


"Gio! Gio apa kamu baik-baik saja?" tanya Tiara segera menuntun Gio ke atas kursi. Gio masih memegang kepalanya dan menjerit kesakitan tanpa Tiara tahu Gio hanyalah berpura-pura.


"Gio, sebentar aku akan panggilkan suster." Baru saja Tiara berdiri tangan Gio menggenggam tangannya. 


"Aku tidak butuh suster, aku membutuhkan dirimu," ucap Gio membuat Tiara menoleh. 


"Gio! Kamu …." Tiara kesal merasa di bohongi. Sedangkan Gio dia malah tertawa ketika Tiara memukulinya.


"Berhenti memukulku, apa kamu tidak kasihan padaku," ujar Gio menghentikan Tiara.


"Kamu tidak tahu aku sangat khawatir hah! Dan kamu malah membohongiku," ucap Tiara sedikit emosi. 


"Ya, maafkan aku," ujar Gio yang mendapat tatapan tajam dari Tiara. 


Tiara merajuk dan Gio terus membujuknya. "Jangan cemberut itu membuat wajahmu semakin jelek," ujar Gio membuat mood Tiara semakin tidak baik. 


"Aku tidak ingin bertunangan denganmu!" ketus Tiara yang langsung pergi. 


"Hei! Mau kemana?" tanya Gio. Tiara berbalik sesaat lalu berkata, "Aku akan bertemu mama dan papaku untuk membatalkan pertunangan," katanya dengan tegas lalu pergi. Gio yang mendengar itu segera berlari menyusul Tiara. 


"Tiara! Kita bisa membicarakan ini baik-baik." Kata Gio seraya berlari. 

__ADS_1


__ADS_2