Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Pemandangan Indah di Pagi Hari


__ADS_3

Baskara mulai gelisah dia mundar-mandir tidak jelas. Jarum arloji di tangannya tidak berhenti dia lihat, ekspresi wajah yang khawatir dan tegang menunggu putra semata wayangnya yang tidak kunjung pulang.


"Kemana anak itu, jam segini belum juga pulang." Tepat setelah malam tiba Gio pergi tanpa izin dan sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari anak itu belum juga kembali.


"Mas belum tidur?" tanya Junita.


"Bagaimana aku bisa tidur Gio sampai saat ini belum pulang," jawabnya dengan emosi.


Tatapan mereka terus tertuju pada pintu utama, berharap Gio muncul di sana. Junita teringat percakapannya di atap rumah sakit, Junita pikir Gio akan berubah tetapi dia semakin memberontak dan semakin berulah.


Tidak peduli kekhawatiran sang ayah Gio sedang asyik nongkrong bersama teman-temannya.


"Gio, sekarang kamu bawa mobil? Keren brow," puji teman-temannya.


"Kenapa? Apa kamu ingin mencobanya?"


"Bolehkah?"


"Jangan basa-basi jika bersamaku." Kata Gio seraya melempar kunci mobil pada temannya. Sang teman pun langsung memasuki mobilnya mereka berbalap dengan mobil yang lain.


"Gio, tumben lo nongkrong malam ini? Ada masalah lo?" tanya temannya yang sedang nongkrong bersamanya.


"Bosan gue di rumah. Gue pinjam motor lo, lo pulang bawa mobil gue saja."


"Mau kemana?"


"Suka-suka gue yang penting gue gak pulang ke rumah."


"Awas lo motor gue ancur."


"Lo masih takut. Ada mobil gue yang lo pegang." Setelah mengatakan itu Gio membawa pergi motor temannya.


***


Tiara masih duduk melamun di dalam kamarnya, dia tidak bisa tidur memikirkan Gio. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar membuat Tiara terkejut. Bukan terkejut lebih tepatnya takut.


Ketika Tiara akan membangunkan ibu dan ayahnya Gio lebih dulu memanggilnya. "Tiara," panggil Gio dengan suara pelan. Tiara segera menoleh ke arah pintu.


"Gio."


"Sstt …." Gio menyimpan jari telunjuknya di atas bibir. Dengan pelan dia melangkah ke arah Tiara.


"Sedang apa kamu di sini? Ini sudah malam?" tanya Tiara sedikit berbisik.


"Kamu tidak bisa tidur, kan? Aku juga sama. Mau ke atap?"

__ADS_1


"Ke atap? Tapi …." Tiara melirik ke arah Susan yang tertidur di atas sofa.


"Kita pelan-pelan saja ibumu tidak akan mendengar," bisik Gio. "Naiklah ke punggungku aku akan menggendongmu."


"Tapi Gio."


"Ayo naiklah. Kamu pegang saja infusan." Tiara pun langsung naik ke punggung Gio. Gio segera membawanya keluar menuju atap. Kebetulan keadaan rumah sakit masih sepi mungkin karena waktu jam tidur.


Sesampainya di atap Gio menurunkan Tiara, mendudukkannya di atas kursi. Entah kursi siapa tetapi banyak barang-barang terbengkalai di sana mungkin sudah tidak terpakai.


Mereka duduk bersama sambil menatap langit. "Gio aku minta maaf, karena aku kamu dimarahi papamu." Tiara masih merasa bersalah.


"Kenapa kamu minta maaf? Justru aku yang berterima kasih karena sudah membawaku ke tempat ini. Aku jadi punya tempat bersandar," ujar Gio.


"Apa yang kamu bawa? Apa kamu akan pergi?" tanya Tiara melihat tas yang Gio gendong. Tanpa Tiara tahu Gio kabur dari rumah dan semua isi dalam tas adalah sebagian pakaiannya.


"Aku hanya bosan di rumah, rasanya ingin pergi jauh. Apa aku boleh menulis sesuatu di sana?" Gio bertanya sambil menunjuk tembok di depannya. Dia bangkit berdiri lalu mendekat ke arah tembok dan berjongkok. "Kenangan apa yang harus ku buat."


"Kamu bisa menulis apa pun, atau menulis nama mu di sini," ucap Tiara yang berdiri di samping Gio.


Tiara berjongkok lalu menulis sesuatu pada dinding, yang dia tulis hanyalah nama Tiara dan Gio. "Kamu bisa menulis nama mu di sini," ucap Tiara.


"Biar ku coba." Gio melengkapi tulisan itu dengan sebuah gambar. Tiara menatap takjub gambar itu seorang gadis dan pria yang sedang duduk bersama.


"Gio aku tidak menyangka kamu pandai melukis, ini bagus sekali."


Apa yang di lukis adalah gambarannya malam ini bersama Tiara.


Malam semakin larut, udara dingin semakin terasa. Gio melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Tiara. Gio terus menatap wajah Tiara.


"Kita turun di sini semakin dingin." Ajak Gio seraya membantu Tiara berdiri. "Naiklah aku akan menggendongmu lagi," tambah Gio yang sudah berjongkok.


"I-iya." Suara Tiara semakin gemetar karena udara dingin. Gio yang mendengarnya langsung berdiri menyentuh kening Tiara.


"Syukurlah tidak demam," ucapnya lalu membawa Tiara duduk. "Pakai ini biar tidak kedinginan." Kata Gio seraya memakaikan kaos kaki pada kaki Tiara.


"Apa kamu membawa baju-bajumu? Sampai kamu membawa kaos kaki segala."


"Ya, aku membawa pakaianku karena aku tidak akan pulang."


"Apa kamu bertengkar dengan ayahmu?"


"Sudah ku bilang aku bosan tinggal di rumah," jawab Gio. "Sudah selesai ayo kita turun." Gio kembali menggendong Tiara sampai tiba di dalam kamar.


"Ibumu masih tertidur, sekarang tidurlah."

__ADS_1


"Gio!" panggil Tiara menahan langkah Gio, bahkan Tiara menggenggam tangannya. "Mau kemana?" tanyanya.


"Aku mau pulang," jawab Gio.


"Bukankah kamu bilang tidak ingin pulang? Tidurlah di sini."


"Itu tidak mungkin. Ibumu akan bangun nanti."


"Aku mohon." Akhirnya Gio tidak bisa menolak. Dia duduk di samping Tiara lalu tertidur yang menyimpan kepalanya di atas ranjang.


Tiara masih belum tidur dia terus tersenyum menatap wajah teduh Gio, baru sadar bahwa Gio sangat tampan. Apalagi genggaman tangan Gio yang tidak terlepas membuat hatinya berdebar-debar. Pada akhirnya Tiara pun tertidur.


***


Susan menatap kedua remaja yang tertidur di depannya. Entah sejak kapan Gio datang Susan tidak menyadari.


"Mama!" panggil Danu.


"Papa, kemarilah." Danu yang baru masuk langsung menghampiri. Dia sedikit terkejut melihat pemandangan itu apalagi kedua tangan Gio dan Tiara yang saling menggenggam.


"Sejak kapan Gio datang?" tanya Danu pada Susan.


"Entahlah Pa, Mama juga tidak tahu. Tahu-tahu pas bangun sudah seperti ini."


"Romantis, lihatlah tangan mereka," ujar Danu yang tertawa.


"Bahkan kita pun kalah. Papa tidak pernah seromantis itu pada Mama."


"Sejak kapan? Bahkan aku selalu memelukmu setiap kali tidur."


"Ada apa ini? Pagi-pagi kalian sudah berdebat." Dokter datang untuk mengontrol tetapi Susan dan Danu menahannya karena Tiara masih tertidur. Bahkan Dokter pun melihat itu.


"Wah, apa ini kisah romansa? Sepertinya kalian harus segera menikahkan mereka," ujar Dokter.


"Apa harus?" tanya Susan diiringi tawa.


"Apa yang dikatakan Dokter Indra ada benarnya," ujar Danu menimpali.


"Papa!" Susan tidak setuju dengan suaminya. Baginya mereka masih anak sekolah belum pantas untuk menikah.


"Jangan menatap Papa seperti itu Mama." Danu merasa takut ditatap tajam sama sang istri. "Bukan menikah maksud Papa kita bisa menyatukan mereka dengan pertunangan resmi. Tunangan tidak ada salahnya 'kan?" Danu bertanya pada sang istri tapi tatapannya pada Dokter. Tentu saja Dokter itu menjawab iya.


Kini Susan semakin menatap Danu kesal. Namun, yang ditatap hanya tertawa renyah.


...****************...

__ADS_1


Double update hari ini, kira-kira dukungan apa yang akan kalian berikan. Sepucuk bunga atau secangkir teh. Pokoknya jangan lupa like, vote, dan bintang. Tinggalkan komentar menarik dan ulasan yang menarik dan bagus.


__ADS_2