Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Bertemu Revan


__ADS_3

"Selamat sore, Pak. Saya dari catering ingin mengantarkan pesanan anda," ujar Rara.


Sedetik kursi itu berputar memperlihatkan seorang pria tampan dan elegan. Rara terbelalak ketika pria itu mendongak menatapnya. Pria itu hanya diam dengan wajah datarnya.


"Revan," ucap Rara dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.


Revan bangkit dari kursi, tersenyum pada gadis di depannya.


"Rara," ujarnya. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Apa sekarang kamu bekerja di catering juga?" tanya Revan yang berjalan ke arah Rara.


"Iya," jawab Rara yang tersenyum malu.


"Duduklah!" titah Revan yang berjalan ke arah sofa. Rara mengikutinya.


"Aku tercengang melihatmu. Tidak kusangka kamu adalah pak Direktur Healvito Grup. Nasibmu lebih baik dari pada aku," ujar Rara membuat Revan tersenyum.


"Oh ya, ini pesananmu. Aku jamin kamu menyukai makananku, masakan ibuku sangat enak."


"Ibumu? Jadi ini …."


"Iya. Setelah kecelakaan itu aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Ibu melarangku, dan kami membuka kedai rumah makan. Beruntunglah kami punya tabungan yang cukup jadi bisa membuka usaha," jelas Rara.


"Boleh aku coba?" tanya Revan.


"Tentu," jawab Rara dengan senyuman.


Rara segera membuka kotak makan itu, menyajikannya untuk Revan. Sedikit-sedikit Revan mencicipinya. Rara merasa tegang, karena cara Revan memakannya sangat pelan.


"Apa rasanya enak?" tanya Rara dengan ragu.


"Hem, aku ingin kamu mengantarkannya setiap hari," jawab Revan membuat Rara tersenyum.


"Terima kasih, kamu adalah pelanggan VIP kami. Ibuku akan memasakkan yang sangat enak untukmu. Apa aku boleh meminta nomormu? Kamu bisa meneloponku jika ada yang kamu inginkan. Misalnya makanan yang berbeda."


Revan hanya mengangguk lalu memberikan nomor ponselnya. Rara memang tidak berubah, yang sok akrab. Namun, itu yang Revan suka. Gadis yang ceria.


"Kamu cukup lancang meminta nomorku," kata Revan setelahnya.


"Menurutku tidak. Karena kita sudah berteman dari dulu," ucap Rara dengan percaya diri.


"Apa kamu masih suka menulis? Sudah berapa banyak buku romansa yang kamu tulis?" tanya Rara.


"Menulis adalah hobiku, jadi aku tidak akan berhenti," jawab Revan.


"Tapi bagaimana kamu bisa menjadi Direktur? Apa kamu lulusan universitas oxford? Beruntung sekali."


"Mungkin salah satu keberuntunganku," jawab Revan yang tidak mengakui bahwa dirinya adalah anak dari pemilik perusahaan itu. .

__ADS_1


Seorang pria berpakaian formal memasuki ruangan itu, tanpa mengetuk yang terus menunduk pada sebuah dokumen, hampir saja kaca matanya terjatuh.


"Pak Revan, makanan anda sudah datang apa ada seseorang yang mengantarkannya?" tanya pria itu yang tercengang melihat Rara.


"Rara."


"Nico apa kabar?" tanya Rara dengan senyum andalannya.


Nico segera mendekatinya. "Apa ini? Apa kita sedang reuni? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Apa kamu yang mengantar …," ucap Nico tertahan karena Rara langsung mengangguk.


"Ya, aku si pengantar catering. Aku benar-benar sangat iri pada kalian. Revan yang menjadi seorang Direktur dan kamu …."


"Asisten Direktur," sanggah Nico.


"Ah iya, jabatan kalian sangat bagus. Penampilanmu juga sangat berbeda, kamu terlihat dewasa dengan kaca matamu itu," ujar Rara menunjuk kedua mata Nico.


"Benarkah? Tetapi kenapa tidak ada wanita yang tertarik padaku?"


"Mungkin kamu terlalu manis," ucap Rara membuat Revan dan Nico tertawa.


"Ngomong-ngomong kenapa hanya kalian berdua? Bukankah dari dulu kalian selalu bertiga? Di mana Gio?" tanya Rara mendiamkan kedua pria itu.


"Setelah meninggalnya Tiara, Gio pergi ke Amerika. Setelah itu kami tidak pernah berkomunikasi lagi, entahlah bagaimana kabarnya sekarang," jawab Nico.


"Dia ikut ibunya," tambah Revan.


Rara turun dari ruangan Direktur dengan wajah ceria, membuat seorang wanita yang mengantarkannya tadi terheran-heran.


"Apa dia menerima tips? Mungkin saja, karena wajahnya sangat ceria," ucap wanita itu.


Rara menghembuskan nafasnya perlahan ketika keluar dari gedung tinggi itu. Langkahnya berhenti sejenak sambil menatap langit di atas sana.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan teman-temanku," ucapnya dengan senyuman lalu pergi meninggalkan perusahaan Healvito Grup.


"Mama!" teriak Rara dengan gembira.


"Ada apa dengan wajahmu? Apa sesenang itu bertemu dengan pak Direktur," ejek Miranti.


"Tentu. Apa Mama tahu siapa Direktur itu?" tanya Rara dengan tatapan intensnya. "Pak Direktur adalah temanku," lanjut Rara memberitahukan Miranti, tetapi tidak membuat Miranti terkejut sama sekali.


"Oh." Hanya itu jawaban Miranti.


"Ada kabar gembira lagi ternyata Revan menginginkan ku membawakan makanan untuknya setiap hari. Itu bagus, kan."


"Hanya itu?" tanya Miranti.


"Hem," jawab Rara dengan anggukan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak sekalian saja meminta pekerjaan padanya? Bukankah dia Direktur."


"Kalau aku bekerja siapa yang membantu Mama? Aku tidak perlu bekerja di perusahaan besar, kita punya kedai lebih baik fokus saja di kedai. Dan soal kuliah aku rasa tidak perlu. Lebih baik Mama pakai saja uang ini untuk keperluan kita." Rara berkata seraya memberikan sebuah amplop pada Miranti.


"Ada apa denganmu?" tanya Miranti yang terheran-heran.


"Bagaimana jika kita sewa kedai yang lebih besar? Aku menemukan kedai di ujung sana sebrang perusahaan Healvito Grup. Tempat yang strategis, terdapat mal di sisi kiri dalam jarak 2km. Bukankah itu tempat yang bagus? Akan banyak pengunjung nanti yang makan di kedai kita," ujar Rara.


Miranti terdiam sejenak, menatap Rara dalam diam.


"Baiklah terserah kau saja. Kita harus menunggu satu bulan untuk pindah, karena uang sewa habis bulan depan," ujar Miranti yang diangguki Rara.


"Ya," ucap Rara dengan senyuman lalu membantu Miranti memasak.


.


.


Kini mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka.


Rara yang pekerja keras membuka kedai makannya. Mereka pun pindah ke tempat yang lebih besar, berada di tempat yang ramai yang terjangkau semua orang.


Bahkan, Rara hampir tidak bisa tidur siang karena pesanan dan antrian yang banyak. Seiringnya waktu mereka pun menambahkan pegawai di kedai mereka.


Revan, yang sibuk di perusahaan ayahnya. Menjadi seorang Direktur tidaklah mudah, banyak masalah yang harus diselesaikan, apalagi saingan bisnis yang sangat kuat. Tidak heran Revan selalu lembur demi perkembangan bisnisnya itu.


Dan Gio, dia sudah memutuskan menjadi seorang Dokter spesialis Onkologi-Hematologi. Entah, apa yang mendorongnya untuk menjadi Dokter spesialis tersebut, tetapi ada alasan yang kuat kenapa Gio memilih untuk menjadi seorang Dokter.


"Tiara, apa kamu senang dengan pekerjaan yang sudah aku pilih? Maafkan aku karena memilih menjadi seorang Dokter. Aku ingin menyelamatkan siapa pun yang menderita penyakit yang sama denganmu. Karena aku yakin, penyakitmu bisa disembuhkan. Masih banyak orang yang berharap dan memiliki mimpi untuk hidup," ucap Gio yang menatap selembar foto.


Tiba-tiba seorang gadis kecil dengan seragam rumah sakit, dan infus di tangannya, menyelundup masuk ke dalam ruangannya.


Gadis kecil itu mengejutkannya.


"Siapa itu?" tanya si gadis mengejutkan Gio.


"Apa itu kekasih Dokter?" tanya gadis kecil itu.


Gio tersenyum, lalu menyimpan foto itu di dalam lacinya.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Gio.


"Aku ingin mengenal Dokter baruku," jawab gadis itu.


"O ya? Baiklah apa yang ingin kamu tahu dariku?" Gio bertanya seraya melipat kedua tangannya di atas meja.


"Foto itu." Polosnya gadis itu berkata membuat Gio tersenyum.

__ADS_1


"Itu rahasia," ucap Gio membuat gadis kecil itu kesal. "Ini sudah malam seharusnya kamu tidur. Ayo aku antar kamu ke kamar." Gio bangkit dari kursi, menggendong gadis kecil itu.


__ADS_2